Jawa Pos Radar Lawu - Di tengah geliat kuliner modern yang kian beragam, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, menyimpan kisah unik tentang sebuah camilan tradisional yang tak biasa, yaitu ampo.
Makanan ini bukan terbuat dari tepung, beras, atau bahan nabati lain, melainkan dari tanah liat murni. Sekilas terdengar ekstrem, namun bagi masyarakat Desa Bektiharjo, Kecamatan Semanding, ampo adalah warisan budaya yang sarat makna dan bukan sekadar makanan.
Jejak Sejarah yang Melekat di Tanah
dilansir dari catatan Solidarity: Jurnal Sosiologi (Universitas Negeri Semarang, 2022), tradisi membuat ampo sudah berlangsung selama ratusan tahun. Awalnya, ampo muncul di masa sulit ketika masyarakat kekurangan bahan pangan.
Tanah liat yang dianggap bersih dan aman kemudian diolah menjadi sumber makanan darurat. Namun seiring berjalannya waktu, ampo tak lagi dimakan karena keterpaksaan, melainkan menjadi simbol tradisi dan keunikan kuliner Tuban.
Proses Pembuatan: Dari Tanah Menjadi Santapan
Proses pembuatan ampo dimulai dengan pemilihan tanah liat khusus. Tidak semua tanah bisa digunakan. Para pembuat ampo, seperti keluarga Mbah Sarmi di Dusun Trowulan, hanya mengambil tanah dari lapisan tertentu di sawah yang dikenal halus dan bebas dari kerikil atau pasir.
Tanah tersebut dibersihkan, diayak, lalu dicampur sedikit air hingga kalis. Setelah itu, adonan tanah dibentuk menjadi balok kecil, kemudian diserut tipis menggunakan alat bambu hingga berbentuk seperti gulungan kecil. proses ini menjadi bagian paling penting karena menentukan tekstur dan keindahan bentuk ampo.
Setelah dibentuk, gulungan tanah dijemur di bawah terik matahari agar kadar airnya berkurang. Barulah kemudian ampo dipanggang di atas tungku kayu dengan bara api tanpa minyak.
Suhu tinggi membuat ampo berubah warna menjadi cokelat kehitaman, padat, dan renyah saat digigit.
Dari Dapur Desa ke Pasar Tradisional
Setelah matang, ampo didinginkan dan dikemas sederhana dalam plastik bening. Penjual biasanya memasarkan produk ini di pasar tradisional Tuban dengan harga sekitar Rp5.000–Rp10.000 per bungkus, tergantung ukuran dan jumlah isinya.
Ampo sering dibeli sebagai oleh-oleh khas Tuban, atau dinikmati sambil minum teh di sore hari. Meski tampil sederhana, camilan ini membawa nilai ekonomi tersendiri bagi masyarakat desa.
Pemerintah daerah bahkan mulai melibatkan ampo dalam pameran UMKM dan festival budaya agar dikenal lebih luas oleh generasi muda.
Menjaga Tradisi di Tengah Tantangan Modern
Meski keberadaannya masih lestari, ampo menghadapi tantangan zaman. Generasi muda Tuban banyak yang enggan meneruskan profesi sebagai pembuat ampo karena dianggap tidak menjanjikan.
Selain itu, sebagian masyarakat luar menganggap makanan ini terlalu ekstrem karena berbahan tanah.
Namun, bagi masyarakat Bektiharjo, ampo bukan sekadar camilan. Ia adalah simbol hubungan manusia dengan alam dan bentuk kearifan lokal yang telah diwariskan dari leluhur. (ahyar-mg-uinpo)
Editor : Nur Wachid