Jawa Pos Radar Lawu – Kota Kediri yang terkenal dengan Monumen Simpang Lima yang sangat mirip dengan yang ada di Paris.
Ternyata juga memiliki kekayaan budaya dan pesona alam yang menakjubkan, dari wisata pegunungan hingga wisata bersejarah pun disuguhkan sebagai pilihan wisatawan lokal dan wisatawan non lokal.
Tempat yang kini sebagai wisata bersejarah seperti peninggalan masa kerajaan pada masa lampau bisa menjadi bukti nyata bahwa Kediri dulunya merupakan wilayah kekuasaan di masa kerajaan.
Contohnya seperti peninggalan candi bersejarah yaitu Candi Surawana atau disebut juga Surawana Temple.
Seputar Candi Surawana
Candi Surawana merupakan salah satu sebuah objek wisata yang berada di Desa Canggu Kecamatan Pare Kabupaten Kediri.
Candi yang menjadi peninggalan sejarah masa kerajaan dan banyak di kunjungi oleh wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara ini, memiliki keunikan berupa adanya sebuah trowongan.
Di mana terdapat tujuh trowongan pada tempat yang berbeda-beda.
Di terowongan ini juga wisatawan dapat menikmati pemandangan dan pesona alam sekitar atau juga menikmati panorama bawah tanah di dalam ketujuh trowongan di sekitar Candi Surawana.
Ketika masuk ke lokasi candi, wisatawan akan langsung di suguhkan sebuah bongkahan-bongkahan batu andesit yang tertata rapi di sebagian halaman candi.
Bongkahan batu tersebut merupakan sebagian pondasi candi yang telah lama runtuh. Seperti bagian atap candi yang runtuh dan sudah tidak terbentuk lagi.
Candi Surawana dibangun menggunakan batu andesit berpori, kemudian bagian pondasinya menggunakan batu bata merah sedalam 30 cm dari permukaan tanah dan menghadap ke arah barat.
Sejarah di Balik Candi Surawana
Sejarah mengatakan bahwa Candi Sarawana merupakan peninggalan Raja Wengker, yang merupakan salah satu raja dari bawahan Raja Hayam Wuruk Kerajaan Majapahit pada masa pemerintahannya kala itu.
Bentuk dari candi berupa bujur sangkar serukuran 8 x 8 meter, yang diperkirakan di bangun pada abad ke 15, yaitu sekitar 1400 Masehi.
Candi yang dibangun dengan background Agama Hindu ini merupakan Pendharmaan dan tempat bersuci Raja Wengker. Di dalam Kitab Negarakertagama diceritakan biasanya Pendharmaan dilakukan setiap 12 tahun sekali ketika seorang Raja meninggal dunia setelah Upacara Srada.
Dikatakan juga Raja Wengker meninggal pada tahun 1388 yaitu sekitar 12 tahun sebelum di bangunnya Candi Surawana ini.
Candi ini memiliki banyak keunikan tersendiri, dari segi arsitektur maupun bentuk relief yang menggambarkan cerita Arjuna Wiwaha, Bubhuksah, Gagang Aking, dan Sri Tanjung.
Warga setempat, Sudirman mengaku bahwa keberadaan kolam dan terowongan candi menjadi satu cerita terkait tempat wisata bersejarah ini. “konon kolam itu dulunya dijadikan sebagai pemandian para Selir Kerajaan, sedangkan adanya terowongan dijadikan sebagai akses jalan pintas menuju kolam pemandian, tapi entah untuk kebenarannya,” tuturnya.
Jam Operasional dan Biaya Masuk Candi
Candi Surawana sebagai peninggalan Kerajaan Kediri, kini bisa juga sebagai tempat wisata bersejarah wisatawan yang ingin berkunjung dan belajar mengenai sejarah Kerajaan Kediri.
Di mana juga menyuguhkan keindahan panorama yang alami karna berlokasi di pedesaan nan sejuk. Juga terdapat wisata kuliner di area candi serta fasilitas dari pemerintah yang diberikan untuk mengembangkan potensi wisata di Kota Kediri.
objek wisata candi yang dikelola oleh Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan. buka setiap hari mulai jam 08.00 pagi, sampai jam 17.00 WIB.
jika anda dan keluarga tertarik untuk berwisata di candi surawana, jangan khawatir dengan biaya masuk ke wisata ini. Karena tarif yang diberikan hanya 5.000 rupiah saja. dan sudah bisa belajar mengenai sejarah dan menikmati panorama keindahan dari Candi Surawana. (ahyar-mg-uinpo)
Editor : Nur Wachid