Batu Seberat 6 Ton di Stonehenge Ternyata Punya Perjalanan Tak Terduga

Tim Content Writer Radar Lawu • Dipublikasikan Rabu, 23 September 2026 | 20:53 WIB
Batu Altar Stonehenge (Shutterstock)
Batu Altar Stonehenge (Shutterstock)

Jawa Pos Radar Lawu - Selama ribuan tahun, sebuah batu raksasa berdiri di tengah Stonehenge, Inggris. Beratnya sekitar enam ton dan asal-usulnya berada ratusan kilometer dari lokasi monumen tersebut. Kini, ilmuwan mengajukan petunjuk baru: sebelum akhirnya sampai ke Stonehenge, batu itu kemungkinan lebih dulu dibawa oleh gletser pada zaman es.

Batu yang dikenal sebagai Altar Stone tersebut diperkirakan berasal dari timur laut Skotlandia, sekitar 700 kilometer dari Stonehenge. Penelitian terbaru menunjukkan gletser mungkin membawa batu itu hingga kawasan Dogger Bank di Laut Utara. Setelah itu, perjalanan tidak lagi bisa mengandalkan alam. Manusia prasejarah kemungkinan harus memindahkannya sejauh ratusan kilometer menuju Salisbury Plain.

Jejak Perjalanan Batu Dimulai dari Skotlandia

Para peneliti dari Sheffield Hallam University dan Curtin University mencoba menjawab pertanyaan lama tentang bagaimana batu raksasa tersebut bisa menempuh jarak begitu jauh.

Mereka menggabungkan analisis mineral dengan pemodelan komputer mengenai pergerakan lapisan es pada zaman es terakhir. Cara tersebut memungkinkan ilmuwan memperkirakan jalur yang mungkin ditempuh batu dari tempat asalnya.

Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gletser memang berpotensi membawa batu dari wilayah Orcadian Basin di Skotlandia ke arah selatan.

Namun, gletser tidak mungkin mengantarkannya langsung ke Stonehenge.

"We recently discovered that the origin of the Altar Stone is northeast Scotland, but how it traveled 700 km to Salisbury Plain is widely debated. "Our research gives a new plausible explanation for part of the journey to Salisbury Plain. "What is exciting about these findings is that they could imply that the people of Doggerland attached cultural significance to the Altar Stone long before it was incorporated into Stonehenge. Hypothetically, the Altar Stone could have been significant enough to be willing to move the stone at least twice; First to potentially save it from being submerged by rising sea levels at the end of the last ice age and then again to its final resting place on Salisbury Plains."

Pernyataan tersebut disampaikan Dr Remy Veness, salah satu penulis utama penelitian dari Sheffield Hallam University.

Baca Juga: Mengapa Ferrari Selalu Identik dengan Warna Merah? Ini Sejarah di Baliknya

Gletser Diduga Membawanya ke Dogger Bank

Salah satu bagian paling menarik dari teori baru ini berkaitan dengan Doggerland, wilayah daratan luas yang dahulu berada di kawasan yang kini menjadi Laut Utara.

Pada masa Neolitikum, Doggerland masih berupa lanskap yang dihuni manusia. Kini wilayah tersebut telah tenggelam akibat kenaikan permukaan laut.

Para peneliti menduga Altar Stone bisa saja terbawa gletser hingga kawasan Dogger Bank. Dari sana, masyarakat yang tinggal di wilayah tersebut mungkin mengambil alih perjalanan batu.

Hal ini menarik karena Doggerland hampir tidak memiliki singkapan batu alami berukuran besar. Jika batu raksasa ditemukan di sana, kemungkinan besar batu tersebut memang datang dari wilayah lain.

Ketika permukaan laut mulai naik pada akhir zaman es, masyarakat setempat mungkin harus memindahkan batu tersebut lagi agar tidak ikut tenggelam.

Batu Itu Mungkin Sudah Dianggap Penting

Jika skenario tersebut benar, Altar Stone bukan sekadar batu besar yang kebetulan dipindahkan ke Stonehenge.

Batu itu mungkin telah memiliki nilai budaya bagi masyarakat yang hidup di Doggerland jauh sebelum akhirnya menjadi bagian dari Stonehenge.

Peneliti bahkan membuka kemungkinan bahwa batu tersebut dipindahkan setidaknya dua kali. Pertama, manusia mungkin memindahkannya untuk menyelamatkannya dari wilayah yang perlahan terendam. Kedua, batu itu kembali dipindahkan menuju lokasi Stonehenge.

Dari Doggerland, salah satu jalur yang mungkin digunakan mengarah ke Berkshire Ridgeway, jalur kuno yang diperkirakan sudah digunakan pada periode pembangunan Stonehenge. Jalur tersebut dapat menjadi koridor menuju Salisbury Plain.

Baca Juga: Sebelum Mercedes, Safety Car F1 Ternyata Penuh Kekacauan! Ini Sejarah yang Jarang Diketahui

Gletser Hanya Membantu Sebagian Perjalanan

Temuan ini bukan berarti manusia tidak berperan dalam membawa Altar Stone.

Justru sebaliknya. Pemodelan menunjukkan tidak ada jalur gletser yang memungkinkan batu tersebut bergerak langsung dari Skotlandia hingga Inggris bagian selatan.

Dr Anthony Clarke, salah satu penulis utama penelitian dari Curtin University, mengatakan bukti yang ada mengarah pada perjalanan panjang dengan beberapa tahapan.

"Rather than being carried naturally by ice, the evidence points to a deliberate, carefully planned movement across a challenging and varied landscape," Dr. Clarke said.

Menurut pemodelan mereka, gletser kemungkinan hanya membawa batu sebagian perjalanan, mungkin hingga Dogger Bank di Laut Utara. Setelah itu, manusia tetap harus mengangkutnya ratusan kilometer.

"Our modeling shows glaciers may have transported rocks part of the way during the last Ice Age -- potentially as far as Dogger Bank in the North Sea -- but not into southern England, meaning the stone would still have needed to be moved hundreds of kilometers by people."

Jalur selanjutnya kemungkinan melibatkan beberapa metode transportasi sekaligus, seperti menarik batu melalui daratan serta memanfaatkan sungai atau jalur pesisir jika memungkinkan.

Membawa Batu 6 Ton Bukan Pekerjaan Sederhana

Bayangkan masyarakat prasejarah harus memindahkan batu seberat enam ton melewati berbagai jenis lanskap tanpa kendaraan modern.

Jika teori tersebut benar, pekerjaan itu membutuhkan lebih dari sekadar tenaga fisik. Mereka harus mengetahui kondisi lingkungan, menentukan jalur yang memungkinkan, mengatur banyak orang, dan memilih cara paling aman untuk memindahkan batu.

"Transporting a stone of this size over such a long distance would have required planning, coordination and a deep understanding of the landscape -- not to mention tremendous determination," Dr. Clarke said.

Dengan kata lain, pembangunan Stonehenge kemungkinan melibatkan tingkat organisasi masyarakat yang cukup kompleks.

Temuan ini juga menunjukkan bahwa manusia pada masa itu mungkin memiliki pengetahuan yang jauh lebih baik tentang lingkungan dan jalur perjalanan dibandingkan perkiraan sebelumnya.

Bagaimana Batu Itu Sampai ke Stonehenge?

Secara sederhana, skenario perjalanan Altar Stone yang diusulkan penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:

•Skotlandia: batu berasal dari wilayah timur laut Skotlandia.

•Zaman es: gletser kemungkinan membawa batu ke arah selatan.

•Dogger Bank: batu mungkin tertinggal di kawasan Laut Utara.

•Doggerland: manusia kemungkinan kemudian memindahkannya ketika kondisi lanskap berubah.

•Inggris selatan: batu diangkut lagi melewati rute darat, sungai atau pesisir.

•Salisbury Plain: Altar Stone akhirnya menjadi bagian dari Stonehenge.

Namun, para peneliti menekankan bahwa jalur tersebut masih berupa kemungkinan berdasarkan bukti geologi dan pemodelan. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui rute sebenarnya.

Misteri Stonehenge Belum Sepenuhnya Terjawab

Penelitian ini memang menawarkan penjelasan baru, tetapi belum memberikan jawaban final tentang seluruh perjalanan Altar Stone.

Para ilmuwan masih berusaha menemukan sumber batu yang lebih spesifik di timur laut Skotlandia. Mereka juga ingin mengetahui jalur yang kemungkinan digunakan masyarakat prasejarah ketika membawa batu tersebut menuju selatan.

"The study demonstrates how combining geological analysis with computer modeling can help resolve long-standing questions about how Stonehenge was built."

Dengan menggabungkan bukti geologi dan teknologi pemodelan komputer, ilmuwan kini memiliki gambaran yang lebih jelas mengenai salah satu teka-teki terbesar Stonehenge.

Batu enam ton yang selama ribuan tahun menjadi bagian dari monumen terkenal itu mungkin ternyata memiliki perjalanan yang jauh lebih panjang. Jika teori tersebut terbukti, kisah Altar Stone bukan hanya tentang bagaimana manusia membangun Stonehenge, tetapi juga tentang bagaimana manusia prasejarah beradaptasi dengan perubahan lanskap dan bekerja sama memindahkan benda raksasa melintasi wilayah yang luas.

(Silva Yudia Azizah, Magang Universitas Negeri Surabaya)

Editor : Tim Content Writer Radar Lawu
Sumber : Science Daily
arkeologi zaman es sejarah stonehenge fakta unik