Jawa Pos Radar Lawu – Bila membicarakan bank daerah yang kuat dan tumbuh bersama masyarakatnya, Bank Jatim jelas menempati posisi penting.
Didirikan pada 17 Agustus 1961 di Surabaya, bank ini tidak hanya lahir pada hari kemerdekaan RI, tetapi juga menjadi lambang semangat kemandirian ekonomi daerah.
Awalnya dikenal sebagai Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur (BPD Jatim), lembaga ini bertujuan memperkuat perekonomian lokal dengan menghadirkan akses perbankan untuk masyarakat kecil, pedagang, dan pelaku usaha daerah.
Dalam situasi pascakemerdekaan yang masih labil, kehadiran Bank Jatim menjadi angin segar bagi rakyat Jawa Timur yang haus akan lembaga keuangan yang akrab dan terpercaya.
Perjalanan Bank Jatim: Dari Pelosok hingga Digitalisasi
Hingga kini, Bank Jatim telah berkembang menjadi salah satu bank daerah terbesar di Indonesia.
Dengan lebih dari 1.500 jaringan layanan di seluruh kabupaten/kota Jawa Timur, serta sejumlah cabang di luar provinsi, Bank Jatim mampu menjangkau masyarakat dari kota hingga pelosok desa.
Tak hanya itu, bank ini juga telah bertransformasi digital melalui platform JConnect, menjawab kebutuhan nasabah yang makin melek teknologi. Layanan digital seperti mobile banking, internet banking, hingga virtual account menjadi standar baru dalam layanannya.
Surabaya: Kota Perjuangan dan Tempat Bank Jatim Dilahirkan
Bank Jatim tidak bisa dilepaskan dari kota kelahirannya, Surabaya. Kota ini bukan sekadar ibu kota provinsi, tetapi juga kota niaga, kota industri, sekaligus Kota Pahlawan.
Surabaya adalah pusat perlawanan, terutama dalam sejarah 10 November 1945, yang menjadi simbol keberanian arek-arek Suroboyo melawan penjajah.
Semangat itu tercermin dalam budaya kerja dan karakter masyarakatnya—keras, lugas, dan pantang menyerah.
Baca Juga: 5 Tips Bodycare agar Kulit Tubuh Lembap, Halus, dan Bebas Kering dengan Perawatan Sederhana di Rumah
Sebagai pusat perdagangan dan pelabuhan, Surabaya memiliki Tanjung Perak, pelabuhan tersibuk kedua di Indonesia setelah Tanjung Priok. Sejak zaman kolonial, kota ini sudah menjadi penghubung logistik utama Nusantara.
Dari sisi ekonomi, Surabaya adalah kota metropolitan terbesar kedua setelah Jakarta.
Pasar tradisional yang hidup dan mal modern menjadikan kota ini pusat perputaran uang dan aktivitas bisnis yang intens.
Kuliner dan Ikon Surabaya yang Mendunia
Bicara Surabaya tak lengkap tanpa menyentuh aspek kulinernya:
Rawon dengan kuah hitam pekat khas kluwek.
Rujak Cingur, perpaduan buah, sayur, dan cingur sapi dengan bumbu petis.
Lontong Balap, hidangan legendaris dengan lentho dan kuah gurih khas.
Simbol kota Sura dan Baya pun bukan sekadar patung, melainkan filosofi hidup masyarakat yang keras namun seimbang.
Ikan hiu dan buaya adalah penggambaran konflik, tapi sekaligus kekuatan alam yang harmonis.
Peran Strategis Bank Jatim dalam Perekonomian Daerah
Bank Jatim tidak hanya menjadi tempat menyimpan uang, tapi juga penggerak ekonomi rakyat. Beberapa kontribusinya:
Menyalurkan kredit dan pembiayaan kepada UMKM dan koperasi.
Menjadi mitra keuangan utama ASN dan pemerintah daerah di seluruh Jawa Timur.
Mendukung program-program pembangunan infrastruktur dan sosial melalui skema perbankan inklusif.
Dengan jaringan luas dan pemahaman lokal yang kuat, Bank Jatim jadi jembatan antara pemerintah, masyarakat, dan sektor usaha kecil. (kid)
Editor : Nur Wachid