Jawa Pos Radar Lawu - Telaga Sarangan merupakan destinasi wisata yang menjadi icon dari Kabupaten Magetan Telaga ini menyajikan keindahan alam yang sangat memukau bagi para pengunjung yang datang.
Telaga Sarangan berada diketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut (mdpl), tepatnya ada di Jalan Raya Telaga Sarangan, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, berjarak sekitar 16 km arah barat atau 30 menit dari pusat Kota Magetan.
Luas telaga ini sekitar 30 hektar dengan kedalaman mencapai 28 meter.
Suhu udara di sekitar Telaga Sarangan berkisar antara 15 hingga 20 derajat Celsius membuat suhu udara di sana cukup dingin.
Telaga Sarangan dikelilingi oleh puluhan kios cenderamata.
Nantinya pengunjung bisa menikmati keindahan Telaga Sarangan dengan menunggang kuda, naik speedboat atau bahkan hanya sekedar untuk menikmati keindahan alam menikmati fasilitas lain di tepian telaga.
Walaupun Telaga Sarangan tampak menjadi tempat wisata yang indah dan menyenangkan, terdapat kisah menarik legenda dari Telaga Sarangan yang jarang diketahui.
Legenda Telaga Sarangan
Melansir dari tiktok @ceritasaya12 legenda Telaga Sarangan berawal ketika ada Pasutri (sepasang suami istri) bernama Kiai Pasir dan Nyi Pasir yang hidup sederhana dan suka bercocok tanam di dekat gunung.
Mereka sangat menginginkan seorang anak, namun belum juga dikaruniai.
Lantaran tak kunjung mendapatkan anak, mereka kemudian bersemedi dan meminta agar segera diberikan anak saat tengah besemedi keduanya mendapatkan petunjuk.
Mereka harus dapat menemukan dan memakan telur di dekat ladang agar doanya terkabul. Setelah menemukan telur yang dimaksud, Nyi Pasir membawanya pulang untuk dimasak.
Setelah Kiai Pasir dan Nyi Pasir memakan telur, mereka berdua memutuskan untuk pergi ke ladang.
Namun, dalam perjalanan, sesuatu yang aneh terjadi, tubuh Kiai Pasir tiba-tiba merasa sangat gatal dan panas. Digaruklah tubuh hingga kulitnya menjadi lecet.
Tak disangka Tubuh Ki Pasir dan Nyi Pasir berubah menjadi naga raksasa, kedua naga itu berguling-guling di pasir, menciptakan cekungan yang semakin besar menjorok kedalam hingga membentuk suatu telaga.
Penduduk sekitar yang mengetahui peristiwa tersebut menamainya dengan nama Telaga Pasir, yang diambil dari nama Kiai Pasir dan Nyai Pasir.
Namun karena letaknya di Desa Sarangan, lambat laun masyarakat menyebut tempat itu dengan nama Telaga Sarangan. (*)
Editor : Riana M.