Masjid Ki Mageti, Magetan tertali simpul dengan sejarah perkembangan Islam di Magetan. Bangunan masjid ditengarai berusia ratusan tahun. Tak terkecuali kentongan yang diperkirakan berusia 300 tahun.
MAGETAN, Jawa Pos Radar Lawu – Masjid Ki Mageti, Magetan berdiri kokoh hingga kini. Bangunan masjid berbentuk klasik khas Jawa kuno tersebut menjadi wisata dan literasi sejarah di Magetan.
Bangunan Masjid Ki Mageti di area kebun refugia tersebut berbentuk menyerupai bangunan joglo. Identik dengan banguan pada masa kerajaan Mataram, Jogjakarta, dan Demak.
Dari kombinasi arsitektur tersebut, Masjid Ki Mageti masih ada hubungan dengan masjid – masjid yang ada di Demak. Dalam prasasti masjid Ki Mageti dijelaskan bahwa masjid ini berdiri lagi murni dari swadaya.
Luas area dalam masjid Ki Mageti sekitar 17 x 17 meter persegi, berbeda dengan ukuran bangunan bagian luar sekitar 10 x 17 meter persegi. Angka luas masjid ini memiliki arti atau makna khusus.
Bagi umat Islam sendiri angka 7 sangat istimewa, dan memiliki makna ke islaman yang melekat.
‘’Makna khususnya seperti berhubungan dengan 17 rakaat sholat, hari kemerdekaan, pada surah al-Arf ayat 17 dan lainya,’’ kata Bambang selaku imam Masjid Ki Mageti.
Masjid Ki Mageti dibangun menggunakan material bekas kayu jati asli dari masjid agung lama yang usianya telah ratusan tahun. Batu pertama Masjid Ki Mageti diletakkan 31 Mei 2021 dengan 24 tiang di bagian dalam, dan empat di antaranya sebagai saka guru utama.
Saka guru itu dibuat pada 1800 silam, pun, hingga kini masih kokoh dan tampak utuh. Kemudian ukuran empat saka guru utama yaitu sekitar sembilan meter dan lainnya berukuran enam meter.
Di bagian serambi masjid juga terdapat 24 tiang dengan motif ukiran modern bertema seperti joglo. Selain itu, terdapat peninggalan asli yang masih utuh hingga sekarang yaitu kentongan berasal dari Desa Ngerong.
Kentongan ini berusia sekitar 300 tahun lebih, terdapat tulisan tahun berdirinya masjid dan sekaligus menjadi saksi peninggalan bersejarah yang tersisa.
Masjid Ki Mageti juga memiliki serangkaian kegiatan pengajian seperti rutinan setiap malam Ahad Legi, rutinan malam ahad kliwon, dan setiap simakan Quran tiap dua Jumat sekali.
Masjid Ki Mageti termasuk dalam cagar budaya sekaligus menjadi ikon Magetan yang harus dilestarikan untuk mengenang sejarah Islam pertama di Magetan.
Dulunya, Masjid Ki Mageti berdiri pada era Masjid Tamanarum dan Masjid Takeran. Relief dan bentuknya hampir serupa. ‘’Bentuknya sama mungkin masjid masjid itu satu era dimasa itu,’’ jelas pria 46 tahun tersebut. (okta-magang-pnm/kid)
Editor : Nur Wachid