Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Sejarah Benteng Pendem Ngawi dan Kisah Gagalnya Pemindahan Ibu Kota Zaman Kolonial Belanda (Bagian 1)

Asep Syaeful • Jumat, 12 Januari 2024 | 16:05 WIB

 

(GRAFIS: HABIB/JAWA POS RADAR PONOROGO)
(GRAFIS: HABIB/JAWA POS RADAR PONOROGO)

(ASEP SYAEFUL BACHRI/JAWA POS RADAR NGAWI)
(ASEP SYAEFUL BACHRI/JAWA POS RADAR NGAWI)

Sementara di sisi pesisir, selain Surabaya, konsep pertahanan Van der Wijck dengan membangun benteng pertahanan di Batavia, Semarang dan Cilacap. 

ASEP SYAEFUL BACHRI*, Jawa Pos Radar Ngawi

NGAWI, Jawa Pos Radar Lawu - Pembangunan Benteng Van den Bosch atau yang sering disebut Benteng Pendem Ngawi tahun 1839 -1945 tidak lepas dari rencana pemindahan ibu kota zaman kolonial Belanda. Sejarah ini jarang menjadi perhatian para sejarawan dalam menuliskan sejarah Benteng Van den Bosch. 

Berdasarkan catatan Egbert Broer Kielstra dalam bukunya Grondslagen Der Verdediging Van Java yang terbit tahun 1879, pembangunan Benteng Van den Bosch merupakan konsep pertahanan Direktur Genie Jhr, C. Van der Wijck.

Pada tahun 1834, Van der Wijck memang diminta langsung oleh Gubernur Jenderal Van den Bosch untuk mendesain konsep pertahanan jawa pasca perang Diponegoro.

Tentu konsep pertahanan Van der Wijck ini berdasarkan ide dan gagasan Van den Bosch. 

Dimana gagasan utama Van den Bosch dalam pertahanan jawa adalah memindahkan ibu kota dari Batavial. Lalu memperkuat dengan pembangunan benteng-benteng.

Konsep itu diterjemahkan dan dikembangkan Van der Wijck. Berdasarkan kajiannya, konsep pertahanan jawa harus memperkuat di sisi darat. 

Sebab armada laut Hindia Belanda tidaklah terlalu kuat, apalagi jika harus berhadapan dengan armada laut Inggris. 

Usulan Van der Wijck, ibu kota dipindahkan ke Prambanan. Sebuah daerah yang terletak di lereng selatan Gunung Merapi, di perbatasan Surakarta dan Yogyakarta. Lokasi itu sulit untuk diserang oleh musuh yang memiliki armada laut kuat seperti Inggris. 

Van der Wijck beranggapan bahwa posisi sentral tentara harus berada di Jawa Tengah. Karena strategis bisa menjangkau semua daerah, mau ke timur atau barat tidak terlalu jauh. Maka pusat tentara akan dikonsentrasikan di Jawa Tengah.

Sehingga pilihan Prambanan sebagai ibu kota baru dirasa lebih masuk akal dibandingkan di Batavia. 

Baca Juga: Romantisme Keluarga Belanda di Sarangan: Petualangan Menemukan Waktu yang Hilang di Lereng Lawu (5-habis)

Prambanan, menurut Van der Wijck merupakan medan yang paling cocok untuk pertahanan, yakni daerah yang dikelilingi empat gunung. Mulai dari Gunung Merapi, Merbabu, Sindoro dan Sumbing. Serta Gunung Ungaran dan pegunungan penghubung pegunungan tersebut tidak mudah didekati dari sisi manapun.

Usulan itu tentu sudah dipertimbangkan dengan cermat oleh Van der Wijck, baik keuntungan dan kerugiannya, jika pusat pemerintahan dipindah ke Prambanan. 

Guna mendukung pemindahan ibu kota itu dibangun benteng pertahanan di garis tuntang atau sekitar Ambarawa. Benteng tersebut kini sering Benteng William I Ambarawa. 

Konsep pertahanan Van der Wijck juga mengandalkan tentara bergerak, sehingga beberapa depot antara Benteng William I di Ambarawa dan Surabaya perlu dibangun benteng pertahanan. 

Ada dua titik depot yang perlu diperkuat, yakni di Ngawi dan Bojonegoro. Namun hanya di Ngawi saja yang akhirnya dibangun, sementara di Bojonegoro tidak pernah dibangun. 

Titik depot yang dibangun benteng inilah yang saat ini kita kenal sebagai Benteng Van den Bosch. 

Benteng Van den Bosch berada tepat di pertemuan Sungai Bengawan Solo dan Madiun. Benteng ini penting untuk menghalau musuh yang melintas di Sungai Bengawan Solo. 

Dalam konsep pertahanan Van der Wijck, Surabaya juga diperkuat dengan pembangunan benteng, yang saat ini sering disebut sebagai Benteng Hendrik. 

Benteng Hendrik itu sendiri dijadikan fasilitas maritim dan rute jalur perdagangan ke Jawa Tengah melalui Sungai Bengawan Solo. Tidak heran jika Ngawi menjadi titik penting untuk dibangun benteng pertahanan dalam konsep Van der Wijck. Sebagai pengaman rute jalur perdagangan dan distribusi logistik yang sangat penting.

Sementara di sisi pesisir, selain Surabaya, konsep pertahanan Van der Wijck dengan membangun benteng pertahanan di Batavia, Semarang dan Cilacap. 

Baca Juga: Romantisme Keluarga Belanda di Sarangan: Petualangan Menemukan Waktu yang Hilang di Lereng Lawu (3)

Nah, jadi bisa dikatakan bahwa bangunan Benteng Van den Bosch yang saat ini masih eksis, tidak lain adalah peninggalan rencana ibu kota ala Van der Wijck yang tidak pernah terwujud.

Sebab ibukota Hindia Belanda tidak pernah pindah dari Batavia.

Tapi sebenarnya seberapa penting memindahkan ibu kota dari Batavia ke wilayah Prambanan ? Seberapa penting penguatan pertahanan Jawa ? Bagaimana nasib proposal pertahanan Van der Wijck, apakah disetujui semua atau sebagian dalam Dekrit Raja William tahun 1836 ? Bagaimana nasib benteng-benteng pertahanan yang diusulkan oleh Van der Wijck ? simak artikel bagian selanjutnya. --bersambung-- (kid)

Bahan bacaan Kielstra, Egbert Broer, 1879, Grondslagen Der Verdediging Van Java.

*) Penulis adalah Jurnalis Jawa Pos Radar Ngawi dan Penulis Buku Histori Benteng Pendem Ngawi, 2022. 

Editor : Nur Wachid
#sejarah #van den bosch #benteng pendem #ngawi #Van Der Wijck