Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Romantisme Keluarga Belanda di Sarangan: Petualangan Menemukan Waktu yang Hilang di Lereng Lawu (4)

Loditya Fernandes • Rabu, 10 Januari 2024 | 04:13 WIB
Memoar Peter van Alting Geusau di Telaga Sarangan Magetan. (Habib/Radar Madiun)
Memoar Peter van Alting Geusau di Telaga Sarangan Magetan. (Habib/Radar Madiun)

MAGETAN, Jawa Pos Radar Caruban – Peter van Alting Geusau bahagia. Setelah 43 tahun di Belanda akhirnya bisa kembali ke Sarangan. Itu dilakukan untuk mengembalikan lagi bayangan tentang Sarangan saat usianya masih dua tahun. Pun memastikan cerita ibunya tentang Keindahan Sarangan, seperti dilansir di Java.nl.

Kembali ke Tempat Kelahiran

Peter van Alting Geusau tahu. Suatu saat dia akan kembali ke Sarangan. Ternyata hari itu tiba. Bulan September 1982 datang ke Sarangan. Peter yang saat itu berusia 46 tahuningin melihat Sarangan melalui mata kepalanya sendiri.

Hal itu dianggapnya penting. Peter ingin memahami sendiri surga macam apakah Sarangan ini. Sudah tidak ada banyangan sama sekali Sarangan seperti apa. Saat terakhir di Sarangan, Peter masih berusia dua tahun.

Beberapa kali Peter ambil bagian dalam foto bersama. Lydia Clara Catharina Alting van Geusau, ibunya selalu mampu menceritakan keindahan Sarangan. Juga masa-masa indah disana.

Perjalanan Peter dari Surabaya menuju Magetan menggunakan bus memakan waktu sekitar lima jam. Lama perjalanan itu disebutnya bisa mengancam jiwa.

Dari Magetan, Peter naik bemo menuju Sarangan. Gerobak bemo berukuran kecil itu mampu menampung delapan hingga sepuluh orang. Saat naik, ternyata ada 16 orang dalam kendaraan 1.200 cc itu.

Peter duduk di sebuah kotak kayu. Sesampai Sarangan, Peter seketika mendapati sebuah danau yang indah. Sambil memandang danau pasir, sebutan lain telaga Sarangan Peter masih belum percaya. Peter bisa sampai di Sarangan setelah kurang lebih 43 tahun lalu terakhir kali disana. Tepatnya saat Peter masih kecil.

Kenangan Ayah Alting

Sesampainya di Sarangan, Peter sadar rumah masa kecilnya Carpe-Diem dan Vita-Brevis sudah tidak ada lagi.

Peter akhirnya mendapatkan tempat menginap. Yakni Hotel Rahayu yang kondisinya agak bobrok. Letaknya di barat Telaga Sarangan. Sedikit lebih tinggi dari telaga.

Hotel itu memiliki teras dengan pemandangan telaga yang indah. Di hadapannya itu membentang surga yang disebutnya hilang.

 

Yang luput darinya, ternyata Peter menjadi perhatian. Beberapa orang melihat wajahnya seperti sosok yang familiar.

Saat itu, Peter memang sangat mirip dengan Willem Henri Alting von Geusau ayahnya. Seusinya saat Willem meninggalnya Sarangan pada tahun 1939.

Jadi, Peter mendapatkan tamu tidak terduga. Salah satu dari beberapa orang itu menyambut dengan hormat sambil berkata: Ayah Alting!

Orang itu ternyata salah satu pembentunya dulu. Namanya Mas Mikun. Mereka mengira Willem ayahnya kembali ke Sarangan.

Perbedaan waktu 43 tahun tidak terlalu mereka dipikirkan. Mereka tidak sadar Peter adalah anak Ayah Alting, sebutan pembantunya itu untuk Willem.

Peter sampai terkejut orang-orang yang awalnya pendiam itu memanggilnya. Apalagi dengan sebutan nama belakangnya. Peter sampai butuh waktu memahami munculnya panggilan itu.

Dalam perjalanan menyusuri kampung Sarangan yang tua dan kondisi ekonomi masyarakatnya yang rendah, Peter ditemani sekelompok orang dan anak-anak. Di sebuah gubuk miskin tanpa lantai, Peter bertemu dengan pembantunya yang lain bernama Mangan Menit. Perempuan tua yang dulunya memandikanku pagi-pagi sekali ketika aku berusia tiga bulan. (bersambung/odi)

Editor : Loditya Fernandes
#van alting #peter #magetan #sarangan #belanda