MAGETAN, Jawa Pos Radar Lawu – Willem Henri Alting von Geusau benar-benar jatuh hati pada Sarangan.
Sampai-sampai sisa umur pengacara asal Belanda itu ingin dihabiskan di lereng Gunung Lawu tersebut seperti dikisahkan anaknya Peter dilansir dari Javapost.nl.
Sekali lagi ke Belanda
Pada tahun 1939 Willem Henri Alting von Geusau mengambil pensiun dini. Keluarga tersebut ingin sekali lagi mengambil cuti ke Belanda.
Meski begitu, tujuan Willem kembali ke Sarangan. Sebagai surga dunia, suami dari Lydia Clara Catharina Alting van Geusau ingin tinggal disana selamanya.
Sesaat sebelum keberangkatan orangtua Peter ke Belanda, Willem menulis puisi tentang Sarangan berjudul Toenggoe Mati. Puisi itu berisi tentang keinginan Willem menghabiskan sisa umurnya di Sarangan.
Bunyinya seperti ini:
Di negara dimana segalanya memaksamu untuk mengerti
Di sanalah aku mendengar seruan keheningan
Di sana aku ingin hatiku menyanyikan lagu sedihnya
Sayangnya, keinginan itu tidak terwujud. Orangtua Peter tidak bisa lagi melihat Carpe-Diem lagi. Rumah impian dan seluruh isinya.
Juga, Vita-Brevis yang berdekatan akibat korban peperangan.
Diusianya yang ke-46 tahun, Willem harus meninggalkan Jawa untuk terakhir kalinya. Kala itu Peter berusia dua tahun.
Keluarga Peter tiba di Eropa pada awal 1940. Belanda telah dikuasai Jerman. Tahun-tahun perang dihabiskan di desa Santpoort, sebuah desa di kotamadya Velsen di Provinsi Belanda Utara.
Setelah pembebasan perang, Willem menetap sebagai pengacara dan jaksa di Assen, di mana dia meninggal mendadak pada usia 57 tahun. (bersambung/odi)
Editor : Loditya Fernandes