Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Mengembalikan Makna Pendakian Gunung: Bukan Sekadar Tren FOMO, Ini Eksistensi Sejati di Alam

Mizan Ahsani • Jumat, 17 April 2026 | 11:05 WIB
Ilustrasi pendakian gunung
Ilustrasi pendakian gunung

Jawa Pos Radar Lawu - Fenomena pendakian gunung di kalangan anak muda, khususnya generasi Z, semakin meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Aktivitas yang dulu identik dengan kecintaan terhadap alam dan petualangan kini kerap bergeser menjadi sekadar tren yang dipicu oleh FOMO (Fear of Missing Out).

Banyak yang mendaki bukan lagi untuk memahami alam, melainkan demi eksistensi di media sosial.

Generasi yang lahir antara 1997 hingga 2012 ini sering kali terdorong untuk mengikuti arus popularitas.

Gunung pun dijadikan latar belakang konten visual yang estetik, tanpa diimbangi persiapan fisik dan mental yang memadai.

Padahal, di balik keindahan lanskapnya, gunung menyimpan risiko serius yang tidak bisa dianggap remeh.

Mulai dari hipotermia, dehidrasi, hingga penyakit ketinggian seperti AMS, HAPE, dan HACE menjadi ancaman nyata bagi pendaki yang kurang persiapan.

Tidak jarang pula terjadi kram otot, kelelahan ekstrem, hingga kondisi darurat yang membahayakan nyawa.

Hal ini menunjukkan bahwa mendaki gunung bukanlah aktivitas yang bisa dilakukan secara sembarangan.

Baca Juga: Mendaki Gunung: Pendidikan Kehidupan yang Tak Pernah Diajarkan di Ruang Kelas

Makna Sejati di Balik Pendakian Gunung

Lebih dari sekadar perjalanan fisik, pendakian gunung sejatinya adalah perjalanan batin.

Di tengah jalur yang terjal, cuaca yang tak menentu, dan udara yang semakin tipis, manusia dipaksa untuk beradaptasi dengan alam yang tidak bisa dikendalikan.

Dari situlah lahir nilai-nilai penting seperti disiplin, kesabaran, serta kesiapan menghadapi tantangan.

Sebagai mahasiswa yang aktif dalam kegiatan kepecintaalaman, penting untuk mengingatkan kembali esensi mendaki gunung.

Aktivitas ini bukan sekadar mengikuti tren, melainkan sebuah bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri dan lingkungan.

Seperti disampaikan Muhammad Taufiq Ulinuha, Ketua Bidang Data dan Informasi LRB-MDMC PWM Jawa Tengah, gunung bukanlah tempat yang bisa dikunjungi tanpa persiapan layaknya pusat perbelanjaan.

Gunung adalah ruang alami yang harus dihormati, bukan sekadar objek wisata instan.

Dampak Lingkungan Akibat Pendakian Tren

Selain risiko bagi keselamatan individu, fenomena pendakian berbasis tren juga berdampak serius terhadap lingkungan.

Lonjakan jumlah pendaki yang tidak diiringi kesadaran ekologis menyebabkan berbagai kerusakan di kawasan gunung.

Sampah plastik, tisu basah, hingga perlengkapan sekali pakai sering ditemukan di jalur pendakian.

Bahkan, beberapa kawasan mengalami kerusakan vegetasi akibat tingginya intensitas pijakan yang tidak terkendali.

Jika dibiarkan, kondisi ini dapat merusak ekosistem yang seharusnya dijaga.

Baca Juga: Biar Tak Jadi Beban Teman Mendaki Gunung, Ini Tips untuk Kamu yang Baru Pertama Kali Muncak

Eksistensi Sejati Bukan di Puncak, Tapi Prosesnya

Generasi muda perlu memahami bahwa eksistensi sejati tidak terletak pada foto di puncak gunung yang diunggah ke media sosial.

Lebih dari itu, nilai sejati justru terletak pada proses yang dilalui selama pendakian.

Pengalaman menghadapi tantangan, membangun kebersamaan, mengendalikan ego, hingga belajar menghargai alam adalah esensi utama dari aktivitas ini.

Gunung mengajarkan bahwa hidup bukan tentang siapa yang paling cepat mencapai puncak, melainkan siapa yang mampu bertahan, menjaga lingkungan, dan kembali dengan selamat.

Sudah saatnya pendakian gunung dimaknai kembali sebagai perjalanan yang membentuk karakter, bukan sekadar gaya hidup.

Dengan kesadaran dan tanggung jawab, aktivitas ini tidak hanya memberi pengalaman berharga, tetapi juga menjaga kelestarian alam untuk generasi mendatang.(*)

*Nizaria Kusumastuti, uNiversitas Negeri Surabaya

Editor : Mizan Ahsani
#Pendakian Gunung #Makna Pendakian Gunung #Bukan Sekadar Tren FOMO #Eksistensi Sejati di Alam #Fenomena Gen Z mendaki gunung