Jawa Pos Radar Lawu - Sistem Imun Bisa Memberi Petunjuk Bagaimana Seseorang Menua.
Dua orang yang lahir di hari yang sama belum tentu mengalami proses penuaan dengan cara yang sama. Satu orang mungkin tetap sehat hingga usia lanjut, sementara yang lain mulai menghadapi berbagai penyakit kronis. Kini, ilmuwan menemukan salah satu perbedaan yang mungkin membantu menjelaskan kondisi tersebut: pola sel imun dan protein yang beredar dalam darah.
Penelitian terbaru menemukan bahwa perbandingan dua kelompok sel imun yang menghasilkan protein bernama granzyme K dan granzyme B berkaitan dengan bagaimana sehat atau tidaknya seseorang ketika menua.
Orang dengan proporsi sel penghasil granzyme K yang lebih tinggi dibandingkan sel penghasil granzyme B cenderung menunjukkan pola penuaan yang lebih sehat. Sebaliknya, mereka yang diperkirakan memiliki lebih banyak sel penghasil granzyme B berdasarkan protein darah memiliki risiko lebih tinggi mengalami sejumlah penyakit dan kematian dalam jangka panjang.
Para peneliti mengatakan, pola tersebut suatu hari mungkin dapat dikembangkan menjadi semacam tes darah untuk melihat apakah seseorang berada pada jalur penuaan yang sehat atau tidak. Namun, temuan ini masih menunjukkan hubungan, bukan bukti bahwa rasio sel tersebut secara langsung menyebabkan penyakit.
Dua Protein Ini Berasal dari Sel Imun
Untuk memahami temuan tersebut, perlu melihat terlebih dahulu bagaimana sistem imun berubah seiring usia.
Pada orang muda, sistem kekebalan tubuh memiliki banyak sel T naif, yaitu sel darah putih yang belum pernah menghadapi patogen tertentu. Setelah tubuh terpapar berbagai kuman atau mendapatkan vaksinasi, sebagian sel tersebut berkembang menjadi sel memori.
Sel memori memiliki kemampuan untuk merespons lebih cepat ketika tubuh kembali menghadapi ancaman yang sama. Beberapa di antaranya menghasilkan protein yang disebut granzim, molekul yang dapat membantu menghancurkan sel yang terinfeksi.
Dua jenis granzim yang menjadi perhatian dalam penelitian ini adalah:
•Granzyme K
•Granzyme B
Keduanya dihasilkan oleh kelompok sel imun yang berbeda dan memiliki karakteristik tersendiri. Peneliti kemudian melihat apakah keseimbangan antara sel penghasil kedua protein tersebut berkaitan dengan kesehatan manusia saat menua.
Peneliti Menganalisis Ribuan Orang
Penelitian yang diterbitkan pada 9 Oktober 2026 di jurnal Immunity dilakukan dalam beberapa tahap.
Pertama, tim peneliti menganalisis sel imun dari lebih dari 2.600 orang berusia 18 hingga 97 tahun. Mereka melihat perbandingan antara populasi sel yang menghasilkan granzyme K dan sel yang menghasilkan granzyme B.
Hasilnya menunjukkan bahwa orang dengan rasio granzyme K terhadap granzyme B yang lebih rendah lebih mungkin memiliki penyakit autoimun atau gangguan imun kronis lainnya.
Temuan tersebut kemudian menjadi dasar bagi tahap penelitian berikutnya.
Baca Juga: Makan Hanya 8 Jam Sehari, Studi Temukan Dampaknya pada Gula Darah Penyandang Diabetes Tipe 1
Mencari Pola Protein dalam Darah
Dalam analisis kedua, ilmuwan memeriksa sel imun sekaligus protein yang terdapat dalam darah dari 329 orang.
Tujuannya bukan hanya melihat jumlah sel secara langsung, tetapi mencari pola protein tertentu yang dapat digunakan untuk memperkirakan keberadaan sel penghasil granzyme B dalam tubuh.
Dari analisis tersebut, mereka berhasil mengidentifikasi sebuah “pola protein”, atau pola khas protein darah, yang berkaitan dengan banyaknya sel penghasil granzyme B.
Pola inilah yang kemudian diuji pada kelompok yang jauh lebih besar.
Data Hampir 48.000 Orang Memberikan Petunjuk
Para peneliti selanjutnya mencari pola protein tersebut dalam data sekitar 48.000 peserta UK Biobank, salah satu basis data kesehatan besar yang berisi informasi biologis dan kesehatan orang dewasa di Inggris.
Hasil pemantauan selama 17 tahun menunjukkan pola yang menarik.
Orang yang berdasarkan protein darahnya diperkirakan memiliki kadar sel penghasil granzyme B lebih tinggi cenderung mengalami hasil kesehatan yang lebih buruk.
Kelompok tersebut memiliki risiko lebih tinggi mengalami:
•Kematian
•Diabetes
•Tekanan darah tinggi
•Penyakit hati
•Penyakit ginjal
Dengan demikian, pola protein dalam darah tersebut berpotensi menjadi petunjuk mengenai kondisi kesehatan seseorang dalam jangka panjang.
Namun, para ilmuwan belum menganggapnya sebagai alat prediksi medis yang siap digunakan.
Bukan Berarti Granzyme B Penyebab Penyakit
Temuan ini memang menunjukkan hubungan yang kuat, tetapi ada satu hal penting yang tidak boleh dilewatkan: korelasi tidak sama dengan sebab-akibat.
Maxim Artyomov, ahli imunologi di Washington University in St. Louis sekaligus salah satu penulis penelitian, menegaskan bahwa rasio kedua kelompok sel tersebut belum terbukti secara langsung menyebabkan kondisi kesehatan yang lebih buruk.
“Pengamatan ini mungkin hanya merupakan akibat, bukan penyebab penyakit,” kata Artyomov.
Artinya, bisa saja perubahan pada sel imun tersebut merupakan akibat dari penyakit atau proses biologis lain, bukan pemicu utama munculnya penyakit.
Penelitian lanjutan diperlukan untuk mengetahui arah hubungan tersebut.
Baca Juga: Bukan A, B, AB, atau O, Ilmuwan Temukan Sistem Golongan Darah Baru
Mengapa Sistem Imun Berubah Saat Menua?
Penuaan sistem kekebalan tubuh merupakan proses kompleks. Seiring bertambahnya usia, komposisi dan karakteristik sel imun dapat berubah akibat pengalaman tubuh menghadapi berbagai infeksi sepanjang hidup.
Penelitian sebelumnya dari tim yang sama menemukan bahwa pada tikus tua, sel penghasil granzyme K dapat menumpuk di berbagai jaringan dan berkaitan dengan peradangan. Mereka juga melihat peningkatan sel tersebut dalam sampel darah manusia berusia lanjut.
Studi terbaru kemudian menambahkan lapisan baru: hubungan antara sel penghasil granzyme K dan granzyme B mungkin sama pentingnya dengan jumlah masing-masing sel secara terpisah.
Dengan kata lain, bukan hanya keberadaan satu jenis sel yang perlu diperhatikan, tetapi juga keseimbangannya dengan jenis sel imun lainnya.
Sistem Imun Manusia Tidak Bisa Disamakan dengan Tikus
Para peneliti juga menemukan perbedaan penting ketika membandingkan sistem imun manusia dengan hewan percobaan.
Pada tikus, sel penghasil granzyme K memiliki karakteristik perkembangan yang berbeda. Sementara pada manusia, sel penghasil granzyme B lebih sesuai dengan tahap sel imun yang matang dan terspesialisasi.
Claire Gustafson, ahli imunologi dari Allen Institute yang tidak terlibat dalam penelitian, menilai perbedaan tersebut penting.
Ia mengatakan:
“Hal ini menunjukkan bahwa mungkin ada aspek biologi baru yang belum benar-benar kita amati sebelumnya,” kata Gustafson kepada Live Science.
Menurut Gustafson, perbedaan tersebut menunjukkan bahwa hasil penelitian pada tikus tidak selalu dapat diterapkan begitu saja pada manusia.
Ia bahkan menggambarkan perbandingan antara sel imun tikus dan manusia sebagai sesuatu yang tidak sepenuhnya setara.
Karena itu, penelitian terhadap manusia secara langsung menjadi sangat penting untuk memahami proses penuaan sistem imun.
Bisakah Suatu Hari Menjadi Tes Penuaan Sehat?
Salah satu kemungkinan paling menarik dari penelitian ini adalah penggunaan protein darah sebagai penanda biologis.
Maxim Artyomov mengatakan bahwa keseimbangan sel penghasil granzyme K dan granzyme B suatu hari mungkin dapat membantu menentukan apakah seseorang berada pada arah penuaan yang sehat.
“Apakah Anda berada di jalur penuaan yang tepat atau tidak,” kata Artyomov kepada Live Science.
Konsepnya cukup sederhana: jika pola protein tertentu dalam darah dapat menggambarkan komposisi sel imun, dokter mungkin suatu hari bisa menggunakan sampel darah untuk mendapatkan gambaran mengenai kondisi sistem kekebalan seseorang.
Namun, penelitian saat ini masih berada pada tahap awal. Belum ada bukti bahwa tes semacam itu sudah dapat digunakan untuk memprediksi secara pasti apakah seseorang akan mengalami penyakit tertentu.
Masih Dibutuhkan Data dari Populasi yang Lebih Beragam
Ada keterbatasan lain yang juga perlu diperhatikan.
Karakteristik sel imun manusia dapat berbeda antara satu populasi dengan populasi lainnya. Karena itu, hasil dari kelompok peserta tertentu belum tentu menggambarkan seluruh manusia.
Gustafson menekankan perlunya data dari berbagai kelompok manusia untuk memperoleh pemahaman yang benar-benar universal mengenai kesehatan sistem imun.
Penelitian lebih lanjut juga perlu menjelaskan mengapa peningkatan sel penghasil granzyme B berkaitan dengan risiko penyakit yang lebih tinggi.
Jika hubungan tersebut ternyata hanya merupakan tanda bahwa penyakit sudah berkembang, protein tersebut mungkin lebih tepat digunakan sebagai penanda biologis kondisi kesehatan, bukan target untuk mencegah penyakit.
Sebaliknya, jika penelitian berikutnya menemukan mekanisme sebab-akibat, temuan ini berpotensi membuka jalan bagi pendekatan baru dalam memahami penuaan dan penyakit terkait usia.
Penuaan Ternyata Bisa Terlihat dari Sistem Imun
Penelitian ini memberikan gambaran bahwa usia seseorang bukan satu-satunya faktor yang menentukan bagaimana tubuh menua.
Dua orang dengan umur kronologis sama dapat memiliki kondisi biologis yang berbeda, dan sistem imun tampaknya menjadi salah satu bagian tubuh yang dapat mencerminkan perbedaan tersebut.
Pola granzyme K dan granzyme B kini menjadi salah satu petunjuk baru yang menarik bagi para ilmuwan. Jika penelitian lanjutan berhasil mengungkap mekanismenya dan mengonfirmasi temuan pada populasi yang lebih luas, protein darah mungkin suatu hari dapat membantu ilmuwan membaca arah penuaan seseorang.
Untuk saat ini, temuan tersebut masih merupakan petunjuk, bukan alat diagnosis atau ramalan kesehatan yang pasti. Namun, hasil penelitian ini membuka kemungkinan bahwa kondisi sistem imun dalam darah dapat memberikan gambaran yang jauh lebih dalam tentang bagaimana tubuh seseorang mengalami proses penuaan.
(Silva Yudia Azizah, Magang Universitas Negeri Surabaya)
Editor : Tim Content Writer Radar LawuSumber : Live Science