Rahasia Lebih Tahan Menghadapi Stres Bisa Dimulai dari Kebiasaan Pagi Hari

Tim Content Writer Radar Lawu • Dipublikasikan Selasa, 13 Oktober 2026 | 19:41 WIB
Sarapan, olahraga, dan tidur cukup dikaitkan dengan kemampuan menghadapi stres (Shutterstock)
Sarapan, olahraga, dan tidur cukup dikaitkan dengan kemampuan menghadapi stres (Shutterstock)

Jawa Pos Radar Lawu - Sarapan, Olahraga, dan Tidur Bisa Membantu Menghadapi Stres.

Hari yang penuh tekanan bisa membuat seseorang merasa sulit berpikir jernih. Namun, kemampuan menghadapi situasi seperti itu ternyata mungkin tidak hanya bergantung pada seberapa kuat mental seseorang. Kebiasaan sederhana seperti sarapan teratur, olahraga, tidur cukup, dan konsumsi minyak ikan ternyata berkaitan dengan kemampuan otak untuk beradaptasi terhadap stres.

Temuan tersebut berasal dari penelitian Binghamton University yang melibatkan sekitar 400 mahasiswa. Peneliti menemukan bahwa peserta dengan pola hidup yang lebih sehat cenderung memiliki fleksibilitas psikologis yang lebih tinggi.

Kemampuan tersebut membantu seseorang menyesuaikan pikiran, emosi, dan perilakunya ketika menghadapi keadaan yang berubah atau penuh tekanan. Dengan kata lain, orang yang lebih fleksibel secara psikologis tidak selalu bebas dari stres, tetapi cenderung lebih mampu menentukan respons ketika masalah muncul.

Apa Itu Fleksibilitas Psikologis?

Fleksibilitas psikologis menggambarkan kemampuan seseorang untuk tidak terjebak terlalu lama dalam satu pola pikir ketika menghadapi situasi sulit.

Seseorang mungkin tetap merasa kecewa, takut, atau tertekan. Namun, alih-alih membiarkan emosi tersebut menguasai seluruh responsnya, ia mampu mengenali perasaan tersebut, melihat situasi dari sudut lain, lalu menentukan tindakan yang lebih sesuai.

Lina Begdache, profesor madya bidang kesehatan dan studi kebugaran di Binghamton University sekaligus penulis utama penelitian, memberikan gambaran mengenai kemampuan tersebut:

"Anda mungkin mengenal seseorang yang tetap tenang di bawah tekanan," kata Lina Begdache, profesor madya bidang kesehatan dan studi kebugaran di Binghamton University sekaligus penulis utama penelitian. "Orang yang ketinggalan pesawat, tetapi alih-alih panik, ia dengan tenang menyesuaikan diri dengan situasi. Orang ini mungkin tetap merasa stres, tetapi lebih mampu mengelolanya melalui fleksibilitas psikologis."

Menurut Begdache, orang seperti itu bukan berarti tidak merasakan stres. Mereka hanya memiliki kemampuan untuk mengubah cara memandang situasi sehingga dapat menggunakan sumber daya mental dengan lebih efektif.

Baca Juga: Cuma 10 Menit Olahraga Sehari Bisa Bantu Tidur Lebih Nyenyak, Studi Ungkap Alasannya

Peneliti Mengamati Kebiasaan Sekitar 400 Mahasiswa

Untuk melihat hubungan antara gaya hidup dan kemampuan menghadapi tekanan, peneliti mengumpulkan data dari sekitar 400 mahasiswa.

Para peserta mengisi survei anonim mengenai berbagai aspek kehidupan sehari-hari, termasuk:

•Pola makan

•Kebiasaan sarapan

•Durasi tidur

•Aktivitas fisik

•Konsumsi minyak ikan

•Kebiasaan lain yang berkaitan dengan gaya hidup

Dari data tersebut, peneliti kemudian membandingkan kebiasaan sehari-hari peserta dengan tingkat fleksibilitas psikologis dan ketahanan mereka menghadapi stres.

Hasilnya menunjukkan pola yang cukup konsisten: peserta dengan kebiasaan hidup yang lebih sehat cenderung memiliki fleksibilitas psikologis dan ketahanan terhadap stres yang lebih baik.

Sarapan Teratur Dikaitkan dengan Ketahanan Lebih Baik

Salah satu kebiasaan yang menarik perhatian adalah sarapan.

Mahasiswa yang mengatakan mereka sarapan setidaknya lima kali dalam seminggu cenderung memiliki tingkat ketahanan psikologis lebih tinggi. Fleksibilitas psikologis juga tampaknya berperan dalam hubungan antara kebiasaan sarapan dan kemampuan menghadapi tekanan.

Temuan ini bukan berarti sarapan secara langsung membuat seseorang kebal terhadap stres. Penelitian tersebut bersifat observasional sehingga hanya menunjukkan adanya hubungan antara kebiasaan dan kondisi psikologis.

Namun, hasil tersebut memberikan petunjuk bahwa pola makan sehari-hari mungkin memiliki kaitan dengan cara seseorang merespons tekanan.

Tidur Kurang dari Enam Jam Berkaitan dengan Fleksibilitas Lebih Rendah

Kebiasaan tidur juga menunjukkan pola yang jelas.

Mahasiswa yang tidur kurang dari enam jam umumnya melaporkan tingkat ketahanan dan fleksibilitas psikologis yang lebih rendah. Sebaliknya, mereka yang memiliki pola tidur lebih baik cenderung menunjukkan kemampuan adaptasi yang lebih tinggi.

Kurang tidur memang dapat memengaruhi berbagai aspek fungsi tubuh dan otak. Dalam penelitian ini, masalah tersebut juga terlihat berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk menyesuaikan diri ketika menghadapi situasi penuh tekanan.

Artinya, menjaga waktu tidur bukan hanya soal menghindari rasa mengantuk pada siang hari. Kebiasaan tersebut mungkin juga berkaitan dengan bagaimana seseorang mengelola tuntutan emosional dan mental.

Baca Juga: Tidur Lebih Nyenyak Ternyata Bisa Berawal dari Aroma Pohon Jepang Ini

Olahraga 20 Menit atau Lebih Juga Menunjukkan Hubungan

Aktivitas fisik menjadi faktor lain yang terlihat dalam penelitian.

Peserta yang melakukan olahraga selama 20 menit atau lebih cenderung memiliki fleksibilitas psikologis yang lebih tinggi dan kemampuan menghadapi stres yang lebih baik.

Temuan ini memperkuat gambaran bahwa kesehatan mental dan kebiasaan fisik sehari-hari tidak sepenuhnya berjalan secara terpisah. Aktivitas tubuh dapat menjadi salah satu bagian dari pola hidup yang berkaitan dengan kemampuan seseorang beradaptasi secara psikologis.

Meski demikian, penelitian tersebut tidak membuktikan bahwa olahraga secara langsung menyebabkan fleksibilitas psikologis meningkat. Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan hubungan sebab-akibatnya.

Minyak Ikan Juga Muncul dalam Temuan Penelitian

Selain sarapan, tidur, dan aktivitas fisik, peneliti menemukan hubungan antara konsumsi minyak ikan dan fleksibilitas psikologis.

Peserta yang mengonsumsi minyak ikan beberapa kali dalam seminggu cenderung menunjukkan tingkat fleksibilitas psikologis yang lebih baik.

Namun, hasil ini tetap perlu dipahami sebagai asosiasi, bukan bukti bahwa minyak ikan secara langsung meningkatkan kemampuan seseorang dalam menghadapi stres.

Penelitian menggunakan data survei, sehingga berbagai faktor lain yang tidak diukur secara langsung mungkin turut memengaruhi hasil.

Kebiasaan Tidak Sehat Menunjukkan Pola Sebaliknya

Peneliti juga menemukan pola berlawanan pada peserta yang memiliki kebiasaan hidup kurang sehat.

Mahasiswa yang lebih sering mengonsumsi makanan cepat saji dan mengalami kekurangan tidur cenderung menunjukkan tingkat kekakuan psikologis yang lebih tinggi.

Kekakuan psikologis dapat dipahami sebagai kondisi ketika seseorang lebih sulit mengubah cara berpikir atau perilakunya ketika keadaan berubah. Dalam situasi penuh tekanan, pola seperti ini dapat membuat seseorang lebih sulit mencari respons yang sesuai.

Begdache menjelaskan bahwa fleksibilitas psikologis memberi seseorang jarak mental untuk memahami apa yang sedang terjadi, alih-alih sepenuhnya terseret oleh stres.

Ia mengatakan:

"Ketika berada di bawah tekanan, kita merasa menyatu dengan stres tersebut. Kita menjalani stres itu. Namun, fleksibilitas psikologis ibarat mengambil jarak dan berpikir, 'Saya merasakan ini karena hal itu. Apa yang bisa saya lakukan?' Mengenali emosi terkadang membantu kita menemukan solusi atas emosi tersebut," kata Begdache.

Mengapa Kebiasaan Sehari-hari Bisa Berkaitan dengan Ketahanan Mental?

Penelitian ini melanjutkan temuan Begdache sebelumnya yang menghubungkan pola makan bergizi dengan ketahanan psikologis yang lebih baik.

Studi terbaru tersebut memberikan kemungkinan penjelasan mengenai hubungan tersebut. Alih-alih pola makan dan gaya hidup secara langsung membuat seseorang lebih tangguh, kebiasaan tersebut mungkin terlebih dahulu mendukung fleksibilitas psikologis.

Kemampuan untuk menyesuaikan pikiran dan respons terhadap situasi yang berubah kemudian dapat membantu seseorang menghadapi tekanan dengan lebih baik.

Begdache merangkum temuan tersebut:

"Temuan baru di sini adalah bahwa pola makan dan gaya hidup tidak dengan sendirinya membuat seseorang tangguh. Keduanya membantu membangun fleksibilitas psikologis yang kemudian membuat seseorang menjadi tangguh."

Dengan demikian, ketahanan mental mungkin tidak hanya berkaitan dengan karakter atau kepribadian. Kebiasaan yang dilakukan secara rutin juga bisa menjadi salah satu faktor yang berhubungan dengan kemampuan tersebut.

Bukan Berarti Sarapan atau Olahraga Langsung Menghilangkan Stres

Meski hasil penelitian terdengar menjanjikan, ada batasan penting yang perlu diperhatikan.

Penelitian ini menggunakan jawaban survei dari peserta, sehingga para peneliti hanya dapat melihat hubungan antara kebiasaan hidup dan fleksibilitas psikologis. Hasil tersebut belum membuktikan bahwa sarapan, olahraga, tidur, atau minyak ikan secara langsung menyebabkan seseorang menjadi lebih tahan terhadap stres.

Ada kemungkinan faktor lain turut memengaruhi hasil. Karena itu, penelitian eksperimental dan penelitian lanjutan diperlukan untuk mengetahui mekanisme yang sebenarnya.

Studi berjudul "Dietary and lifestyle factors and resilience: the role of psychological flexibility as a mediator" tersebut diterbitkan dalam Journal of American College Health.

Pada akhirnya, penelitian ini memberikan gambaran menarik tentang hubungan antara rutinitas sehari-hari dan kesehatan psikologis. Menjaga pola tidur, rutin bergerak, tidak melewatkan sarapan, dan memperhatikan pola makan mungkin bukan sekadar kebiasaan untuk menjaga tubuh, tetapi juga berkaitan dengan cara pikiran menghadapi tekanan.

(Silva Yudia Azizah, Magang Universitas Negeri Surabaya)

Editor : Tim Content Writer Radar Lawu
Sumber : Science Daily
pola makan kesehatan mental stres tidur olahraga