Sering Dikira Sama, Vitamin D2 Justru Bisa Mengubah Kadar Vitamin D3 dalam Tubuh

Tim Content Writer Radar Lawu • Dipublikasikan Kamis, 8 Oktober 2026 | 21:11 WIB
Vitamin D2 ternyata dapat menurunkan kadar vitamin D3 dalam tubuh (Shutterstock)
Vitamin D2 ternyata dapat menurunkan kadar vitamin D3 dalam tubuh (Shutterstock)

Jawa Pos Radar Lawu - Selama ini, vitamin D2 dan D3 sering dianggap sebagai dua pilihan yang kurang lebih sama. Keduanya memang dapat meningkatkan kadar vitamin D dalam tubuh. Namun, penelitian terbaru menunjukkan ada perbedaan yang mungkin tidak banyak diketahui: mengonsumsi vitamin D2 ternyata dapat menurunkan kadar vitamin D3 dalam darah.

Temuan tersebut berasal dari analisis penelitian yang dilakukan para ilmuwan dari University of Surrey, John Innes Centre, dan Quadram Institute Bioscience. Para peneliti menggabungkan data dari berbagai uji terkontrol untuk melihat lebih jauh bagaimana suplementasi vitamin D2 memengaruhi kadar vitamin D3.

Hasilnya menunjukkan bahwa orang yang mengonsumsi vitamin D2 memiliki kadar 25-hydroxyvitamin D3 yang lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak mendapat vitamin D2. Rata-rata penurunannya berada di kisaran 9 hingga 18 nanomol per liter, tergantung metode analisis yang digunakan.

Meski begitu, temuan ini tidak berarti vitamin D2 otomatis berbahaya atau tidak bermanfaat. Vitamin D2 tetap meningkatkan kadar bentuk vitamin D yang berasal dari D2. Persoalannya adalah hubungan antara kedua bentuk vitamin tersebut ternyata lebih kompleks daripada yang selama ini diperkirakan.

Baca Juga: 7 Tanda Tubuh Kekurangan Vitamin C yang Sering Diabaikan, Mudah Lelah hingga Termasuk Gampang 'Cranky'

Vitamin D2 dan D3 Ternyata Berbeda

Vitamin D yang dikonsumsi manusia umumnya hadir dalam dua bentuk utama, yaitu vitamin D2 atau ergokalsiferol dan vitamin D3 atau kolekalsiferol.

Vitamin D2 biasanya dibuat dari jamur atau ragi yang mendapatkan paparan sinar ultraviolet. Sementara itu, vitamin D3 merupakan bentuk yang secara alami diproduksi oleh kulit manusia ketika terkena radiasi ultraviolet B dari sinar matahari.

Keduanya akan mengalami beberapa tahap pemrosesan setelah masuk ke tubuh.

Hati mengubah vitamin D menjadi bentuk yang disebut 25-hydroxyvitamin D, yang menjadi salah satu ukuran utama ketika dokter memeriksa status vitamin D melalui tes darah.

Namun, vitamin D2 dan D3 menghasilkan bentuk metabolit yang berbeda. Vitamin D2 menghasilkan 25-hydroxyvitamin D2, sedangkan vitamin D3 menghasilkan 25-hydroxyvitamin D3.

Perbedaan inilah yang menjadi perhatian dalam penelitian terbaru.

D2 Bisa Membuat Kadar D3 Ikut Turun

Penelitian yang diterbitkan pada 2025 dalam Nutrition Reviews tersebut menggabungkan hasil dari 20 penelitian, dengan 11 penelitian menyediakan data yang dapat digunakan untuk analisis utama.

Ketika dibandingkan dengan orang yang tidak menerima vitamin D2, peserta yang mengonsumsi vitamin D2 memiliki konsentrasi 25-hydroxyvitamin D3 yang secara signifikan lebih rendah.

Namun, para peneliti menekankan bahwa hasil tersebut tidak boleh diartikan sebagai bukti bahwa vitamin D2 "menghilangkan" vitamin D3 dari tubuh.

Vitamin D2 tetap memiliki efek biologis dan dapat meningkatkan status vitamin D secara keseluruhan. Temuan yang mengejutkan adalah peningkatan satu bentuk vitamin D tampaknya berkaitan dengan penurunan bentuk lainnya.

Emily Brown, PhD, Research Fellow sekaligus peneliti utama dari University of Surrey, mengatakan:

"Suplemen vitamin D penting, terutama antara Oktober dan Maret, ketika tubuh kita tidak dapat memproduksi vitamin D dari sinar matahari di Inggris. Namun, kami menemukan bahwa suplemen vitamin D2 ternyata dapat menurunkan kadar vitamin D3 dalam tubuh, sebuah efek yang sebelumnya belum diketahui dari penggunaan suplemen ini. Studi ini menunjukkan bahwa, dengan mempertimbangkan kondisi pribadi masing-masing, suplemen vitamin D3 mungkin lebih bermanfaat bagi sebagian besar orang dibandingkan vitamin D2."

Temuan tersebut membuat para peneliti mempertanyakan apakah kedua bentuk vitamin D memang dapat dianggap sepenuhnya setara.

Baca Juga: Tubuh Mudah Lelah sampai Mood Berubah, Ini 6 Tanda Tubuh Kekurangan Vitamin Penting

Mengapa Vitamin D2 Bisa Menurunkan D3?

Sampai sekarang, ilmuwan belum memiliki jawaban pasti mengenai mekanisme yang menyebabkan kadar vitamin D3 turun setelah seseorang mengonsumsi vitamin D2.

Salah satu kemungkinan berkaitan dengan sistem tubuh dalam mengatur kadar metabolit vitamin D.

Ketika konsentrasi metabolit tertentu meningkat, tubuh dapat mempercepat proses pemecahan dan pembuangannya agar kadarnya tetap berada dalam batas tertentu. Para peneliti menduga peningkatan vitamin D2 mungkin ikut mendorong tubuh membuang 25-hydroxyvitamin D3 yang sudah tersedia.

Menariknya, hubungan tersebut kemungkinan tidak hanya berjalan satu arah. Penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa konsumsi vitamin D3 dalam kondisi tertentu dapat memengaruhi metabolit yang berasal dari vitamin D2.

Namun, seberapa besar mekanisme tersebut memengaruhi kesehatan manusia masih belum diketahui.

Cathie Martin, Group Leader di John Innes Centre, mengatakan:

"Meta-analisis ini menyoroti pentingnya memastikan vitamin D3 nabati tersedia di Inggris."

Kabar baiknya, vitamin D3 tidak selalu harus berasal dari sumber hewani. Saat ini sudah tersedia vitamin D3 yang berasal dari sumber nabati, termasuk lichen atau lumut kerak, sehingga dapat menjadi pilihan bagi orang yang menjalani pola makan berbasis tumbuhan.

Vitamin D3 Juga Menunjukkan Perbedaan pada Sistem Imun

Perbedaan D2 dan D3 tidak hanya terlihat dari kadar vitamin dalam darah.

Penelitian sebelumnya yang diterbitkan dalam Frontiers in Immunology juga menemukan adanya perbedaan respons genetik tubuh terhadap kedua bentuk vitamin tersebut.

Dalam penelitian tersebut, vitamin D3 tampak meningkatkan aktivitas yang berkaitan dengan sinyal interferon tipe I, sedangkan vitamin D2 tidak menunjukkan efek yang sama.

Interferon tipe I merupakan kelompok protein sinyal yang membantu memberi peringatan kepada sel ketika tubuh menghadapi infeksi. Sistem tersebut menjadi bagian dari pertahanan awal tubuh terhadap virus maupun patogen lainnya.

Colin Smith, profesor dari University of Surrey, mengatakan:

"Kami menunjukkan bahwa vitamin D3, tetapi bukan vitamin D2, tampaknya merangsang sistem sinyal interferon tipe I dalam tubuh—bagian penting dari sistem imun yang menjadi garis pertahanan pertama terhadap bakteri dan virus. Dengan demikian, status vitamin D3 yang sehat mungkin membantu mencegah virus dan bakteri berkembang dalam tubuh."

Meski demikian, para ilmuwan memberikan catatan penting. Temuan mengenai perubahan sinyal imun tersebut belum membuktikan bahwa mengonsumsi vitamin D3 dapat mencegah infeksi tertentu. Perubahan aktivitas gen dan sistem imun tidak otomatis berarti seseorang akan lebih jarang sakit.

Penelitian klinis yang lebih besar masih diperlukan untuk mengetahui dampaknya terhadap kesehatan sehari-hari.

D2 Bukan Berarti Tidak Berguna

Temuan mengenai penurunan vitamin D3 juga tidak boleh membuat orang menganggap vitamin D2 sama sekali tidak bermanfaat.

Penelitian terbaru pada 2026 yang menganalisis 26 uji terkontrol secara acak menemukan bahwa suplementasi vitamin D2 dapat menurunkan kadar hormon paratiroid dan sedikit meningkatkan kadar kalsium dalam darah.

Artinya, vitamin D2 tetap memiliki aktivitas biologis di dalam tubuh.

Informasi dari National Institutes of Health juga menunjukkan bahwa vitamin D2 maupun D3 sama-sama dapat meningkatkan kadar vitamin D dalam darah. Perbedaannya, berbagai bukti yang telah dikumpulkan sejauh ini cenderung menunjukkan bahwa D3 lebih efektif dalam meningkatkan kadar vitamin D dan mempertahankannya lebih lama.

Jadi, persoalannya bukan sesederhana vitamin D2 buruk dan D3 baik. Keduanya memiliki fungsi dan efek biologis yang berbeda, sementara kondisi setiap orang juga dapat memengaruhi pilihan suplemen.

Masih Perlu Dicari Dampak Jangka Panjangnya

Pertanyaan terbesar yang masih belum terjawab bukan lagi apakah vitamin D2 dapat menurunkan kadar vitamin D3. Bukti dari uji terkontrol menunjukkan bahwa hubungan tersebut memang dapat terjadi.

Yang belum diketahui adalah apakah penurunan kadar D3 tersebut benar-benar menghasilkan perbedaan penting terhadap kesehatan dalam jangka panjang.

Para peneliti masih perlu mempelajari bagaimana tubuh memproses vitamin D2 dan D3, apakah keduanya benar-benar menghasilkan respons imun yang berbeda, serta apakah vitamin D3 seharusnya menjadi pilihan utama untuk suplementasi rutin pada orang yang tidak memiliki alasan khusus menggunakan D2.

Martin Warren, Chief Scientific Officer di Quadram Institute, mengatakan:

"Kekurangan vitamin D merupakan masalah kesehatan masyarakat yang signifikan, terutama selama musim dingin, ketika kekurangan vitamin D cukup banyak terjadi pada populasi Inggris. Upaya penelitian kolaboratif ini sejalan dengan misi Quadram Institute untuk mewujudkan kehidupan yang lebih sehat melalui inovasi pangan guna meningkatkan kepadatan nutrisi dalam makanan yang kita konsumsi. Mengatasinya dengan bentuk suplementasi atau fortifikasi vitamin D yang paling efektif sangat penting bagi kesehatan masyarakat."

Dengan demikian, label pada kemasan suplemen vitamin D ternyata bisa menjadi hal yang patut diperhatikan. Vitamin D2 dan D3 sama-sama dapat berkontribusi terhadap status vitamin D, tetapi tubuh tidak selalu memperlakukan keduanya dengan cara yang sama.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa lebih banyak vitamin D tidak selalu berarti cerita yang sederhana. Bentuk vitamin yang dikonsumsi dapat memengaruhi bagaimana tubuh mengatur bentuk vitamin lainnya.

Namun, temuan tersebut bukan alasan untuk mengganti atau menghentikan suplemen secara sembarangan. Kebutuhan vitamin D dapat berbeda berdasarkan kondisi individu, pola makan, paparan sinar matahari, serta faktor kesehatan lainnya.

Penelitian yang menjadi dasar temuan utama ini diterbitkan dalam Nutrition Reviews dengan judul Effect of Vitamin D2 Supplementation on 25-Hydroxyvitamin D3 Status: A Systematic Review and Meta-Analysis of Randomized Controlled Trials.

(Silva Yudia Azizah, Magang Universitas Negeri Surabaya)

Editor : Tim Content Writer Radar Lawu
Sumber : Science Daily
Vitamin D2 Vitamin D3 kesehatan suplemen vitamin d