Apa yang Terjadi pada Tubuh Setelah 7 Hari Puasa? Peneliti Temukan Perubahan Besar

Tim Content Writer Radar Lawu • Dipublikasikan Selasa, 6 Oktober 2026 | 18:55 WIB
Studi mengungkap perubahan tubuh selama puasa 7 hari, termasuk efek yang muncul setelah 3 hari (Shutterstock)
Studi mengungkap perubahan tubuh selama puasa 7 hari, termasuk efek yang muncul setelah 3 hari (Shutterstock)

Jawa Pos Radar Lawu - Tidak makan selama berhari-hari bukan sekadar membuat perut kosong. Ketika tubuh tidak mendapat asupan kalori, sistem metabolisme perlahan mengubah cara memperoleh energi. Namun, sebuah penelitian menemukan bahwa perubahan yang terjadi ternyata jauh lebih luas dari sekadar pembakaran lemak.

Dalam studi tersebut, 12 orang sehat menjalani puasa hanya dengan air selama tujuh hari. Para peneliti memantau ribuan protein dalam darah peserta untuk melihat bagaimana berbagai organ merespons kondisi tanpa makanan. Hasilnya menunjukkan bahwa perubahan biologis paling menarik justru mulai terlihat setelah sekitar tiga hari tanpa kalori.

Tubuh Mulai Mengubah Sumber Energi

Ketika seseorang berhenti makan, tubuh tidak langsung menghabiskan seluruh cadangan lemak. Pada kondisi normal, energi terutama berasal dari glukosa yang diperoleh dari makanan.

Begitu asupan energi berhenti, tubuh secara bertahap mengandalkan cadangan yang sudah tersimpan. Dalam dua atau tiga hari pertama, penggunaan lemak sebagai sumber energi mulai meningkat secara signifikan.

Perubahan metabolisme tersebut memang sudah lama diketahui. Namun, para peneliti ingin mengetahui apa yang terjadi pada bagian tubuh lainnya ketika puasa berlangsung lebih lama.

Untuk menjawabnya, mereka mengamati sekitar 3.000 protein dalam darah peserta sebelum, selama, dan setelah menjalani puasa tujuh hari.

Baca Juga: Diet Soda atau Air Putih, Mana yang Lebih Efektif untuk Menurunkan Berat Badan?

Berat Badan Turun Hampir 6 Kilogram

Selama tujuh hari tanpa makanan, peserta kehilangan rata-rata 5,7 kilogram berat badan.

Namun, penurunan tersebut tidak seluruhnya berasal dari lemak. Sebagian berat yang hilang berasal dari massa tanpa lemak, yaitu jaringan tubuh yang bukan lemak, termasuk otot dan jaringan yang banyak mengandung air.

Menariknya, setelah peserta kembali makan selama tiga hari, sebagian besar massa tanpa lemak yang hilang kembali terbentuk. Sementara itu, penurunan massa lemak masih bertahan.

Temuan ini menunjukkan bahwa angka pada timbangan selama puasa tidak bisa begitu saja dianggap sebagai jumlah lemak yang terbakar.

Perubahan Besar Muncul Setelah Hari Ketiga

Inilah bagian yang paling menarik dari penelitian tersebut.

Sekitar hari ketiga, peneliti mulai melihat perubahan yang jauh lebih luas pada kadar protein di dalam tubuh. Hampir sepertiga dari seluruh protein yang diukur mengalami perubahan signifikan selama periode puasa. Dampaknya juga berkaitan dengan berbagai organ utama.

Artinya, tubuh tidak hanya mengganti bahan bakar dari glukosa menjadi lemak. Puasa berkepanjangan tampaknya memicu respons biologis yang lebih kompleks dan terkoordinasi di berbagai bagian tubuh.

Para peneliti bahkan menemukan perubahan pada protein yang berkaitan dengan struktur pendukung neuron di otak. Neuron sendiri merupakan sel khusus yang bertugas mengirimkan informasi melalui sistem saraf.

Temuan tersebut memberikan petunjuk bahwa efek puasa berkepanjangan mungkin menjangkau proses biologis yang jauh lebih luas daripada metabolisme lemak.

Efeknya Tak Hanya Berkaitan dengan Berat Badan

Claudia Langenberg, Direktur Precision Health University Research Institute (PHURI) di Queen Mary University of London, mengatakan:

"Untuk pertama kalinya, kita dapat melihat apa yang terjadi pada tingkat molekuler di seluruh tubuh ketika berpuasa. Jika dilakukan dengan aman, puasa merupakan cara yang efektif untuk menurunkan berat badan. Pola makan populer yang menerapkan puasa, seperti puasa berselang, mengklaim memiliki manfaat kesehatan di luar penurunan berat badan. Hasil penelitian kami memberikan bukti mengenai manfaat puasa bagi kesehatan di luar penurunan berat badan, tetapi manfaat tersebut baru terlihat setelah tiga hari pembatasan kalori total, lebih lama dari perkiraan kami sebelumnya."

Pernyataan tersebut menekankan satu hal penting: efek biologis yang ditemukan dalam penelitian baru terlihat secara jelas setelah beberapa hari tanpa asupan kalori.

Namun, hasil ini tidak berarti puasa singkat atau intermittent fasting pasti menghasilkan efek yang sama. Penelitian tersebut menggunakan metode yang jauh lebih ekstrem, yakni tidak mengonsumsi kalori sama sekali selama tujuh hari.

Baca Juga: Tips Mengatasi Burnout Kerja Saat Puasa agar Tetap Produktif Selama Ramadan

Peneliti Ingin Meniru Efek Puasa Tanpa Harus Berpuasa

Temuan ini membuka kemungkinan yang lebih menarik bagi dunia medis.

Jika ilmuwan berhasil memahami jalur molekuler yang bertanggung jawab terhadap efek tertentu dari puasa, mereka mungkin dapat mencari cara untuk mengaktifkan jalur tersebut tanpa mengharuskan seseorang berhenti makan selama berhari-hari.

Pendekatan semacam itu berpotensi berguna bagi orang yang kondisi kesehatannya membuat puasa berkepanjangan tidak aman atau tidak memungkinkan.

Maik Pietzner, Health Data Chair di PHURI dan salah satu pemimpin Computational Medicine Group di Berlin Institute of Health at Charité, mengatakan:

"Temuan kami memberikan dasar bagi pengetahuan yang telah dikenal sejak lama mengenai alasan puasa digunakan untuk kondisi tertentu. Meskipun puasa mungkin bermanfaat untuk menangani beberapa kondisi, sering kali puasa bukan pilihan yang memungkinkan bagi pasien dengan kondisi kesehatan yang buruk. Kami berharap temuan ini dapat menjelaskan mengapa puasa bermanfaat dalam kasus tertentu, yang kemudian dapat digunakan untuk mengembangkan pengobatan yang dapat dijalani oleh pasien."

Puasa 7 Hari Bukan Panduan untuk Semua Orang

Meski hasil penelitian menunjukkan berbagai perubahan biologis menarik, studi tersebut tidak dapat diartikan sebagai anjuran bagi semua orang untuk melakukan puasa air selama tujuh hari.

Penelitian hanya melibatkan 12 relawan sehat, sehingga skalanya masih kecil. Selain itu, penelitian berfokus pada respons molekuler tubuh selama pembatasan kalori total, bukan membandingkan berbagai pola diet yang biasa dilakukan masyarakat.

Karena itu, temuan ini lebih tepat dipandang sebagai peta awal mengenai bagaimana tubuh beradaptasi ketika benar-benar tidak mendapat kalori dalam waktu lama.

Penelitian tersebut diterbitkan dalam jurnal Nature Metabolism dengan judul Systemic proteome adaptations to 7-day complete caloric restriction in humans.

Yang paling mengejutkan dari penelitian ini bukan sekadar berat badan yang turun selama tujuh hari. Tubuh ternyata mulai menunjukkan perubahan biologis yang jauh lebih kompleks setelah melewati sekitar tiga hari tanpa makanan. Temuan tersebut kini memberi ilmuwan petunjuk baru untuk memahami efek puasa sekaligus mencari kemungkinan terapi yang dapat meniru sebagian manfaatnya tanpa harus membuat pasien menahan lapar selama berhari-hari.

(Silva Yudia Azizah, Magang Universitas Negeri Surabaya)

Editor : Tim Content Writer Radar Lawu
Sumber : Science Daily
Penurunan Berat Badan metabolisme puasa kesehatan diet