Diet Soda atau Air Putih, Mana yang Lebih Efektif untuk Menurunkan Berat Badan?

Tim Content Writer Radar Lawu • Dipublikasikan Senin, 5 Oktober 2026 | 18:26 WIB
Studi dua tahun menemukan minuman diet sama efektifnya dengan air untuk menurunkan berat badan (Shutterstock)
Studi dua tahun menemukan minuman diet sama efektifnya dengan air untuk menurunkan berat badan (Shutterstock)

Jawa Pos Radar Lawu - Saat ingin menurunkan berat badan, air putih biasanya menjadi pilihan paling aman. Minuman manis dengan gula pun sering dikurangi karena dapat menambah asupan kalori. Namun, bagaimana jika minuman tersebut diganti dengan versi diet tanpa gula?

Pertanyaan itu coba dijawab melalui penelitian selama dua tahun yang melibatkan 493 orang dengan kelebihan berat badan atau obesitas. Hasilnya cukup menarik: peserta yang mengonsumsi minuman ringan dengan pemanis rendah atau tanpa kalori mengalami penurunan berat badan yang kurang lebih sama dengan peserta yang minum air putih.

Penelitian yang dipimpin University of Liverpool tersebut menjadi salah satu uji acak terkontrol jangka panjang yang secara khusus membandingkan minuman dengan pemanis non-nutritif dan air dalam pengelolaan berat badan.

Penelitian Berlangsung Selama 104 Minggu

Studi yang dikenal sebagai SWITCH trial ini melibatkan 493 orang dewasa yang mengalami kelebihan berat badan atau obesitas. Seluruh peserta mengikuti program pengelolaan berat badan berbasis perubahan perilaku.

Para peserta kemudian dibagi secara acak menjadi dua kelompok. Satu kelompok diminta mengonsumsi air, sedangkan kelompok lainnya mengonsumsi minuman diet yang tersedia secara komersial setiap hari.

Minuman dalam kelompok kedua menggunakan beberapa jenis pemanis non-nutritif, termasuk:

•Aspartam

•Acesulfame-K

•Sukralosa

Penelitian berlangsung selama 104 minggu atau sekitar dua tahun. Jumlah pemanis yang dikonsumsi peserta juga tetap berada dalam batas keamanan yang ditetapkan European Food Safety Authority (EFSA).

Penurunan Berat Badannya Ternyata Mirip

Setelah dua tahun, kedua kelompok sama-sama mengalami penurunan berat badan. Kelompok yang mengonsumsi minuman dengan pemanis non-nutritif kehilangan rata-rata sekitar 4,8 kilogram, sedangkan kelompok air putih sekitar 3,7 kilogram.

Meski angka tersebut terlihat berbeda, secara statistik perbedaannya tidak signifikan. Artinya, penelitian tidak menemukan bukti kuat bahwa salah satu pilihan jauh lebih unggul daripada yang lain dalam hal penurunan berat badan jangka panjang.

Menariknya, manfaat tersebut tidak hanya terlihat pada angka timbangan.

Peserta dari kedua kelompok juga mengalami penurunan ukuran lingkar pinggang dan pinggul serta perubahan positif pada komposisi tubuh dan sejumlah penanda metabolisme.

Tidak Ditemukan Gangguan Metabolisme yang Bermakna

Perdebatan mengenai pemanis buatan selama ini tidak hanya berkaitan dengan berat badan. Ada pula kekhawatiran bahwa konsumsi pemanis non-gula dapat memengaruhi nafsu makan atau kesehatan metabolisme.

Namun, hasil SWITCH trial tidak menemukan perbedaan yang bermakna secara klinis pada sejumlah indikator seperti tekanan darah dan kolesterol antara kelompok minuman diet dan kelompok air.

Peneliti juga tidak menemukan bukti bahwa minuman dengan pemanis non-nutritif mengganggu pengaturan nafsu makan atau menyebabkan masalah metabolisme dalam jangka panjang.

Professor Joanne Harrold mengatakan:

"University of Liverpool merupakan salah satu institusi pendidikan tinggi yang berfokus pada penelitian di Inggris, dengan perhatian utama pada kesehatan masyarakat. Temuan terbaru ini menunjukkan bahwa kekhawatiran mengenai pemanis yang mengganggu nafsu makan atau menyebabkan kenaikan berat badan tidak didukung oleh hasil uji acak terkontrol jangka panjang yang ketat. Kami berharap bukti ini dapat menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan panduan WHO dan kebijakan kesehatan masyarakat di masa mendatang."

Asupan Gula Ikut Berkurang

Selain perubahan berat badan, para peneliti juga melihat adanya penurunan konsumsi gula pada kedua kelompok.

Pengurangan tersebut sedikit lebih besar pada peserta yang mengonsumsi minuman dengan pemanis non-nutritif. Temuan ini menjadi penting karena mengganti minuman berpemanis gula dengan alternatif rendah atau tanpa kalori dapat menjadi salah satu cara untuk mengurangi asupan gula harian.

Namun, hasil penelitian bukan berarti minuman diet secara otomatis menjadi pilihan yang lebih sehat untuk semua orang. Penelitian ini secara khusus melihat dampaknya dalam konteks pengelolaan berat badan dan membandingkannya dengan air putih.

Hasil Penelitian Ikut Memanaskan Perdebatan soal Pemanis

Temuan ini muncul ketika penggunaan pemanis non-gula masih menjadi bahan perdebatan di dunia kesehatan.

World Health Organization (WHO) sebelumnya merekomendasikan agar pemanis non-gula tidak digunakan sebagai strategi utama untuk mengendalikan berat badan. Salah satu alasannya adalah keterbatasan dan ketidakpastian bukti dari penelitian observasional.

SWITCH trial memberikan tambahan bukti dari penelitian acak terkontrol dengan durasi dua tahun. Peneliti berharap hasil tersebut dapat membantu memperkaya pembahasan mengenai rekomendasi penggunaan pemanis non-gula di masa mendatang.

Professor Jason Halford dari University of Leeds dan University of Liverpool menyimpulkan:

"Studi ini menyediakan bukti klinis jangka panjang yang sebelumnya belum tersedia dalam diskusi internasional. Bagi orang yang berusaha mengelola berat badan, minuman dengan pemanis non-nutritif menawarkan alternatif efektif untuk menggantikan minuman berpemanis gula dan memberikan hasil yang setara dengan air selama dua tahun."

Bukan Berarti Air Putih Tak Lagi Penting

Hasil penelitian ini tidak menunjukkan bahwa seseorang harus mengganti air putih dengan minuman diet. Temuan utamanya adalah minuman dengan pemanis non-nutritif dapat menjadi alternatif bagi orang yang ingin mengurangi minuman berpemanis gula tanpa mengorbankan hasil pengelolaan berat badan.

Dengan kata lain, pilihan antara air putih dan minuman diet dalam penelitian tersebut menghasilkan hasil penurunan berat badan yang serupa.

Penelitian ini diterbitkan dalam British Journal of Nutrition dengan judul Effect of non-nutritive sweetened beverages v. water on body weight: long-term results of a randomised controlled trial.

Meski hasilnya menarik, penelitian tersebut juga memiliki konteks yang perlu diperhatikan. Studi ini didanai oleh American Beverage Association, sementara peneliti menyatakan tim penelitian bekerja secara independen dari pemberi dana dan tetap memiliki kendali penuh atas analisis serta pelaporan hasil penelitian.

(Silva Yudia Azizah, Magang Universitas Negeri Surabaya)

Editor : Tim Content Writer Radar Lawu
Sumber : Science Daily
Penurunan Berat Badan Minuman Diet kesehatan diet pemanis buatan