Bukan Sekadar Diet, Pola Makan Ini Terkait dengan Penyusutan Otak yang Lebih Lambat

Tim Content Writer Radar Lawu • Dipublikasikan Kamis, 1 Oktober 2026 | 21:38 WIB
Diet MIND dikaitkan dengan penuaan otak yang lebih lambat hingga 2,5 tahun (Shutterstock)
Diet MIND dikaitkan dengan penuaan otak yang lebih lambat hingga 2,5 tahun (Shutterstock)

Jawa Pos Radar Lawu - Seiring bertambahnya usia, otak secara alami mengalami perubahan. Jaringan otak perlahan berkurang dan sejumlah struktur di dalamnya ikut mengalami perubahan. Namun, sebuah penelitian jangka panjang menemukan bahwa pola makan tertentu mungkin berkaitan dengan proses tersebut yang berlangsung lebih lambat.

Pola makan yang dimaksud adalah diet MIND, yaitu pola makan yang menggabungkan prinsip diet Mediterania dengan pendekatan DASH untuk menjaga kesehatan tubuh. Dalam penelitian terhadap lebih dari 1.600 orang dewasa paruh baya dan lanjut usia, orang yang lebih konsisten mengikuti pola makan MIND mengalami penyusutan jaringan otak yang lebih lambat.

Perbedaan paling kuat dalam penelitian tersebut setara dengan sekitar 2,5 tahun keterlambatan penuaan otak.

Namun, peneliti menegaskan bahwa penelitian ini bersifat observasional. Artinya, hasilnya menunjukkan hubungan antara pola makan dan perubahan otak, tetapi belum dapat membuktikan bahwa diet MIND secara langsung menyebabkan penuaan otak menjadi lebih lambat.

Baca Juga: Diet Tak Harus Membosankan, Coba Menu Sehat 7 Hari untuk Bantu Turunkan Berat Badan

Apa Itu Diet MIND?

MIND merupakan singkatan dari Mediterranean-DASH Diet Intervention for Neurodegenerative Delay. Pola makan ini dirancang dengan menekankan sejumlah kelompok makanan yang sebelumnya dikaitkan dengan kesehatan otak dan jantung.

Beberapa makanan yang menjadi bagian utama diet MIND antara lain:

•Sayuran berdaun hijau.

•Sayuran lainnya.

•Buah beri.

•Kacang-kacangan.

•Biji-bijian utuh.

•Ikan.

•Kacang-kacangan seperti beans.

•Minyak zaitun.

•Daging unggas.

Sebaliknya, pola ini menganjurkan pembatasan terhadap mentega atau margarin, keju, daging merah, kue dan makanan manis, serta makanan cepat saji yang digoreng.

Konsumsi alkohol, termasuk wine, juga tercantum dalam pola diet MIND dalam penelitian tersebut. Namun, temuan penelitian tidak berarti seseorang perlu mulai mengonsumsi alkohol untuk mendapatkan manfaat bagi otak.

Peneliti Mengikuti Perubahan Otak Selama Bertahun-Tahun

Penelitian melibatkan 1.647 orang dewasa paruh baya dan lanjut usia dari kelompok Framingham Heart Study Offspring. Usia rata-rata peserta ketika penelitian dimulai sekitar 60 tahun.

Para peserta menjalani pemeriksaan kesehatan secara berkala. Selain itu, peneliti menggunakan pemindaian MRI otak yang dilakukan berulang kali selama periode 1999 hingga 2019.

Data pola makan peserta diperoleh melalui kuesioner frekuensi makanan yang diisi pada beberapa periode pemeriksaan.

Dengan cara tersebut, peneliti dapat melihat hubungan antara pola makan peserta dan perubahan struktur otak yang terjadi dalam jangka panjang.

Penyusutan Materi Abu-Abu Lebih Lambat

Selama rata-rata 12 tahun masa tindak lanjut, MRI menunjukkan perubahan otak yang memang umum terjadi seiring bertambahnya usia.

Volume otak secara keseluruhan, materi abu-abu, materi putih, serta hippocampus mengalami penurunan. Sementara itu, volume cairan serebrospinal dan ventrikel otak meningkat.

Namun, peserta dengan skor diet MIND yang lebih tinggi menunjukkan penurunan materi abu-abu yang lebih lambat.

Setiap peningkatan tiga poin pada skor diet MIND dikaitkan dengan penurunan materi abu-abu sebesar sekitar 0,279 cm³ per tahun lebih lambat. Peneliti memperkirakan pola tersebut setara dengan sekitar 20 persen lebih sedikit penurunan terkait usia, atau kira-kira 2,5 tahun keterlambatan dalam perubahan penuaan otak.

Baca Juga: Kaya Nutrisi, Ini 11 Manfaat Buah Melon Jika Rutin Dikonsumsi

Perubahan Ventrikel Juga Lebih Lambat

Pola serupa terlihat pada ventrikel otak, yaitu ruang berisi cairan di dalam otak yang cenderung membesar ketika jaringan otak menyusut.

Setiap kenaikan tiga poin skor MIND dikaitkan dengan pelebaran volume ventrikel yang lebih lambat. Perbedaannya diperkirakan setara dengan sekitar 8 persen lebih sedikit kehilangan jaringan dan sekitar satu tahun keterlambatan perubahan terkait penuaan otak.

Buah Beri dan Unggas Menonjol

Tidak semua komponen makanan dalam diet MIND menunjukkan hubungan yang sama kuat dengan perubahan struktur otak.

Peneliti menemukan bahwa konsumsi buah beri berkaitan dengan peningkatan volume ventrikel yang lebih lambat. Sementara itu, konsumsi daging unggas juga dikaitkan dengan pelebaran ventrikel yang lebih lambat serta penurunan materi abu-abu yang lebih kecil.

Para peneliti menduga makanan yang kaya antioksidan, seperti buah beri, serta sumber protein berkualitas seperti unggas mungkin berperan dalam mengurangi stres oksidatif dan kerusakan pada sel saraf.

Namun, dugaan tersebut masih merupakan penjelasan mengenai mekanisme yang mungkin terjadi, bukan bukti bahwa makanan tersebut secara langsung mencegah kerusakan otak.

Makanan Manis dan Gorengan Justru Menunjukkan Pola Berbeda

Di sisi lain, konsumsi makanan tertentu justru dikaitkan dengan perubahan otak yang lebih besar.

Peserta dengan konsumsi makanan manis lebih tinggi menunjukkan pelebaran ventrikel yang lebih cepat serta penyusutan hippocampus yang lebih besar.

Konsumsi makanan cepat saji yang digoreng juga dikaitkan dengan penurunan volume hippocampus yang lebih besar.

Hippocampus sendiri merupakan bagian otak yang memiliki peran penting dalam fungsi memori dan pembelajaran.

Ada Hasil yang Tidak Sesuai Dugaan

Menariknya, tidak semua hasil penelitian sesuai dengan pola yang diperkirakan.

Konsumsi biji-bijian utuh justru berkaitan dengan beberapa perubahan struktur otak yang kurang menguntungkan, termasuk penurunan materi abu-abu dan volume hippocampus yang lebih cepat serta pelebaran ventrikel yang lebih cepat.

Sebaliknya, konsumsi keju menunjukkan pola yang berlawanan. Peserta yang mengonsumsi lebih banyak keju mengalami penurunan materi abu-abu dan hippocampus yang lebih lambat, pelebaran ventrikel yang lebih kecil, serta lebih sedikit white matter hyperintensities.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa hubungan antara makanan tertentu dan struktur otak tidak selalu sederhana.

Efek Lebih Terlihat pada Kelompok Usia Lebih Tua

Hubungan antara pola makan MIND dan perubahan struktur otak tetap terlihat dalam sejumlah analisis tambahan. Namun, kaitannya tampak lebih kuat pada peserta yang berusia lebih tua.

Peneliti juga menemukan hubungan yang lebih kuat pada peserta yang lebih aktif secara fisik serta mereka yang tidak mengalami kelebihan berat badan atau obesitas.

Hal tersebut membuka kemungkinan bahwa pola makan dan kebiasaan hidup lainnya dapat saling berkaitan dalam proses penuaan otak. Namun, penelitian ini belum dapat menentukan seberapa besar kontribusi masing-masing faktor.

Bukan Bukti Bahwa Diet Ini Pasti Memperlambat Penuaan Otak

Ada satu hal penting yang perlu diperhatikan sebelum menganggap diet MIND sebagai cara pasti untuk memperlambat penuaan otak.

Penelitian ini merupakan studi observasional. Para peneliti mengamati kebiasaan makan dan perubahan otak peserta tanpa memberikan pola makan tertentu secara eksperimental.

Karena itu, hasil penelitian tidak dapat memastikan hubungan sebab-akibat.

Selain itu, data makanan berasal dari kuesioner yang mengandalkan ingatan peserta. Metode tersebut dapat menimbulkan kesalahan dalam mengingat atau melaporkan makanan yang dikonsumsi.

Peneliti juga tidak dapat sepenuhnya mengesampingkan faktor lain, seperti perubahan pola makan dari waktu ke waktu, risiko genetik, atau kondisi kognitif tertentu yang mungkin sudah ada ketika pemeriksaan pertama dilakukan.

Mayoritas peserta penelitian juga berkulit putih sehingga hasilnya belum tentu dapat diterapkan dengan tingkat yang sama pada seluruh kelompok etnis.

Pola Makan dan Penuaan Otak Masih Terus Diteliti

Hasil penelitian ini memberikan gambaran bahwa pola makan yang banyak memasukkan sayuran, buah beri, kacang-kacangan, ikan, unggas, dan minyak zaitun memiliki hubungan dengan perubahan struktur otak yang lebih lambat pada kelompok yang diteliti.

Perbedaan paling besar yang ditemukan setara dengan sekitar 2,5 tahun keterlambatan penuaan otak berdasarkan perubahan materi abu-abu.

Namun, angka tersebut tidak berarti seseorang yang mengikuti diet MIND secara otomatis memiliki otak yang 2,5 tahun lebih muda. Angka tersebut merupakan cara peneliti menggambarkan besarnya perbedaan perubahan struktur otak yang terlihat dalam data.

Penelitian ini diterbitkan dalam Journal of Neurology, Neurosurgery & Psychiatry pada 2026 dengan judul Adherence to the MIND diet and longitudinal brain structural changes over a decade: evidence from the Framingham Heart Study Offspring cohort.

(Silva Yudia Azizah, Magang Universitas Negeri Surabaya)

Editor : Tim Content Writer Radar Lawu
Sumber : Science Daily
diet mind pola makan sains nutrisi kesehatan otak