Jantung Kaku Jadi Sorotan, Senyawa Alami Ini Buka Harapan Baru bagi Peneliti

Tim Content Writer Radar Lawu • Dipublikasikan Senin, 28 September 2026 | 21:40 WIB
Urolithin A dari delima dan beberapa makanan lain meningkatkan fungsi jantung hingga 80 persen pada studi (PINTEREST)
Urolithin A dari delima dan beberapa makanan lain meningkatkan fungsi jantung hingga 80 persen pada studi (PINTEREST)

Jawa Pos Radar Lawu - Jantung tidak hanya harus mampu memompa darah. Di antara satu denyutan dan denyutan berikutnya, otot jantung juga perlu kembali rileks agar ruang jantung dapat terisi darah dengan baik. Ketika kemampuan tersebut terganggu, jantung bisa tetap memompa secara normal tetapi menjadi lebih kaku dan sulit terisi.

Kondisi inilah yang menjadi perhatian peneliti dari King's College London. Mereka menemukan bahwa urolithin A, senyawa yang dapat diproduksi tubuh setelah mengonsumsi makanan seperti delima, kenari, dan beberapa jenis buah beri, berpotensi membantu jantung menjadi lebih rileks.

Dalam model hewan untuk jenis gagal jantung yang sulit ditangani, pemberian urolithin A meningkatkan sejumlah ukuran fungsi jantung hingga 80 persen dibandingkan model yang tidak mendapatkan senyawa tersebut. Peneliti juga menemukan berkurangnya jaringan parut pada jantung serta pembesaran sel otot jantung yang tidak normal.

Namun, hasil tersebut masih berada pada tahap eksperimental. Penelitian pada manusia tetap diperlukan sebelum urolithin A dapat dipertimbangkan sebagai pengobatan.

Baca Juga: Jerawat Hingga Rambut Rontok Teratasi! Ini 3 Khasiat Buah Delima untuk Kecantikan yang Jarang Diketahui  

Gagal Jantung yang Tetap Bisa Memompa Darah

Penelitian ini berfokus pada heart failure with preserved ejection fraction (HFpEF) atau gagal jantung dengan fraksi ejeksi yang masih terjaga.

Pada kondisi tersebut, jantung masih dapat memompa darah dengan baik. Masalahnya muncul ketika otot jantung menjadi kaku sehingga tidak dapat rileks dan mengisi darah secara optimal di antara denyutan.

Kondisi ini mencakup sekitar setengah dari seluruh kasus gagal jantung di Inggris. Gejalanya dapat berupa sesak napas, mudah lelah, kemampuan berolahraga yang menurun, hingga kualitas hidup yang memburuk.

HFpEF juga dapat dipengaruhi berbagai faktor, termasuk penuaan, tekanan darah tinggi, dan diabetes. Karena mekanismenya cukup kompleks, pilihan pengobatannya masih terbatas.

Dr. Joseph Burgoyne, penulis senior penelitian dari King's College London, mengatakan:

"Jenis gagal jantung ini semakin umum seiring bertambahnya usia populasi serta meningkatnya angka obesitas dan diabetes. Meskipun bebannya terus bertambah, pilihan pengobatan masih terbatas karena penyakit ini kompleks dan sangat bervariasi pada setiap pasien."

Urolithin A Bekerja pada Protein Penting

Para peneliti kemudian mencari tahu bagaimana urolithin A dapat memengaruhi fungsi jantung.

Mereka menemukan bahwa senyawa tersebut mengaktifkan protein bernama PKGIα. Protein ini memiliki peran penting dalam fungsi pembuluh darah dan kemampuan otot jantung untuk melakukan relaksasi.

Urolithin A bekerja pada asam amino tertentu yang terdapat pada protein tersebut. Aktivasi ini kemudian memicu jalur biologis yang berkaitan dengan fungsi kardiovaskular.

Dalam model hewan, efek tersebut terlihat melalui beberapa perubahan.

•Sejumlah ukuran fungsi jantung meningkat hingga 80 persen.

•Jaringan jantung menjadi lebih mampu melakukan relaksasi.

•Fibrosis atau pembentukan jaringan parut pada jantung berkurang.

•Pembesaran sel otot jantung yang tidak normal ikut ditekan.

Fibrosis menjadi perhatian karena jaringan parut yang berlebihan dapat mengganggu kemampuan jantung untuk bekerja secara normal.

Bukan Hanya Diuji pada Hewan

Peneliti tidak berhenti pada model hewan. Mereka juga menguji urolithin A menggunakan jaringan jantung manusia hasil rekayasa laboratorium yang dibuat dari sel punca manusia.

Model tersebut dirancang untuk meniru struktur dan fungsi otot jantung manusia. Hasil percobaan menunjukkan urolithin A secara signifikan meningkatkan kemampuan jaringan tersebut untuk melakukan relaksasi.

Temuan ini memberikan petunjuk bahwa mekanisme yang terlihat pada model hewan mungkin memiliki relevansi terhadap fungsi jantung manusia. Meski demikian, hasil tersebut belum sama dengan bukti bahwa senyawa ini efektif mengobati pasien.

Baca Juga: Tidur dengan Lampu Terang Ternyata Bisa Mengubah Jantung, Ini Temuan Peneliti

Apakah Makan Delima Bisa Mengobati Gagal Jantung?

Jawabannya belum bisa disimpulkan demikian.

Urolithin A memang dapat diproduksi tubuh setelah mengonsumsi makanan tertentu, termasuk delima, kenari, dan beberapa buah beri. Namun, penelitian ini tidak menunjukkan bahwa makan delima secara langsung dapat mengobati gagal jantung.

Bahkan, Dr. Burgoyne secara khusus menekankan:

"Belum ada cukup bukti untuk menyarankan bahwa orang perlu mengonsumsi delima untuk mengobati gagal jantung. Namun, temuan ini membuka kemungkinan bahwa pendekatan pola makan yang meningkatkan produksi urolithin A dapat membantu meringankan kondisi tersebut."

Dengan kata lain, peneliti masih mempelajari apakah peningkatan produksi urolithin A melalui pola makan atau pendekatan lain nantinya dapat memberikan manfaat terhadap kondisi tersebut.

Masih Membutuhkan Uji Klinis pada Manusia

Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah sebagian besar manfaat dalam penelitian ini masih terlihat pada model hewan dan jaringan jantung manusia hasil rekayasa.

Professor James Leiper, Direktur Riset di British Heart Foundation, mengatakan:

"Gagal jantung dengan fraksi ejeksi yang masih terjaga (HFpEF) mencakup sekitar setengah dari seluruh kasus gagal jantung di Inggris dan dapat sangat melemahkan kondisi penderitanya. Studi tahap awal pada model eksperimental ini menunjukkan bahwa urolithin A dapat membantu meningkatkan kemampuan jaringan jantung untuk rileks dan terisi darah di antara denyutan, sekaligus mengurangi perubahan berbahaya pada otot jantung yang terlihat pada HFpEF."

Ia menambahkan:

"Meskipun temuan ini menjanjikan, manfaatnya sejauh ini baru terlihat pada hewan dan jaringan manusia hasil rekayasa. Karena itu, uji klinis yang melibatkan manusia diperlukan untuk menguji apakah pendekatan ini efektif bagi pasien. Sementara itu, pola makan sehat dan seimbang tetap menjadi salah satu cara terbaik untuk menjaga kesehatan jantung. Mengonsumsi banyak buah dan sayuran dikaitkan dengan kesehatan jantung yang lebih baik, tetapi penting diingat bahwa tidak ada satu jenis makanan yang dapat mencegah atau mengobati penyakit jantung secara mandiri."

Urolithin A sendiri sebelumnya telah diteliti pada manusia dan disebut memiliki profil keamanan yang cukup baik. Namun, penelitian tersebut belum cukup untuk memastikan efektivitasnya sebagai terapi HFpEF.

Temuan Baru untuk Pengembangan Pengobatan

Dr. Burgoyne menyebut penelitian ini menemukan target terapi baru yang berpotensi digunakan untuk mengembangkan pengobatan HFpEF.

"Jenis gagal jantung ini masih menjadi salah satu bentuk penyakit jantung yang paling sulit diobati. Temuan kami mengidentifikasi target terapi yang benar-benar baru dan menunjukkan bahwa urolithin A dapat mengaktifkan jalur ini untuk meningkatkan relaksasi jantung serta mengurangi tingkat keparahan penyakit. Hal ini membuka kemungkinan menarik untuk mengembangkan pengobatan baru yang dapat memperbaiki hasil klinis dan kualitas hidup orang yang hidup dengan kondisi tersebut."

Penelitian tersebut diterbitkan dalam jurnal Science Advances dengan judul Targeting PKGIα Cys 42 attenuates cardiac dysfunction in heart failure with preserved ejection fraction. Studi ini didanai oleh British Heart Foundation.

Temuan ini menunjukkan potensi urolithin A sebagai bahan yang dapat dipelajari lebih lanjut untuk menangani gangguan relaksasi jantung. Namun, sebelum dapat diterapkan sebagai terapi, peneliti masih perlu membuktikan efektivitas dan keamanannya melalui uji klinis yang melibatkan pasien secara langsung.

(Silva Yudia Azizah, Magang Universitas Negeri Surabaya)

Editor : Tim Content Writer Radar Lawu
Sumber : Science Daily
Urolithin A delima gagal jantung penyakit jantung kesehatan jantung