Makanan Ultra-Proses Diam-Diam Bisa Mengubah Otot Paha, Ini Temuan Studi

Tim Content Writer Radar Lawu • Dipublikasikan Jumat, 25 September 2026 | 21:33 WIB
Studi menemukan konsumsi makanan ultra-proses berkaitan dengan penumpukan lemak di otot paha (PINTEREST)
Studi menemukan konsumsi makanan ultra-proses berkaitan dengan penumpukan lemak di otot paha (PINTEREST)

Jawa Pos Radar Lawu - Makanan ultra-proses memang dikenal praktis dan mudah ditemukan. Mulai dari camilan kemasan, minuman bersoda, makanan beku hingga roti produksi massal sering masuk dalam kategori ini.

Namun, sebuah penelitian terbaru menemukan adanya kaitan lain yang cukup menarik. Orang yang mengonsumsi lebih banyak makanan ultra-proses ternyata cenderung memiliki lebih banyak lemak yang tersimpan di dalam otot paha.

Temuan tersebut berasal dari penelitian terhadap 615 orang yang memiliki risiko mengalami osteoartritis lutut. Para peneliti menggunakan pemeriksaan MRI untuk melihat kondisi otot paha peserta.

Hasilnya menunjukkan bahwa semakin tinggi konsumsi makanan ultra-proses yang dilaporkan peserta, semakin besar pula jumlah lemak yang ditemukan di dalam otot paha. Hubungan tersebut tetap terlihat setelah peneliti memperhitungkan jumlah kalori, aktivitas fisik, asupan lemak, serta beberapa faktor sosial dan demografis.

Baca Juga: Blueberry dan Anggur Punya Senyawa yang Bantu Sel Otot Membakar Lemak, Ini Temuannya

Lemak Ternyata Bisa Menumpuk di Dalam Otot

Lemak tubuh tidak hanya berada di bawah kulit. Sebagian lemak juga dapat berada di dalam jaringan otot.

Dalam penelitian ini, kondisi tersebut terlihat melalui pemeriksaan MRI. Otot yang sehat seharusnya didominasi serat otot, sedangkan penumpukan lemak membuat jaringan terlihat mengalami perubahan atau degenerasi lemak.

Peneliti tertarik mengamati kondisi tersebut karena perubahan komposisi otot paha dapat berkaitan dengan kesehatan lutut.

Studi ini menggunakan data dari Osteoarthritis Initiative, sebuah program penelitian nasional yang didukung National Institutes of Health untuk mempelajari bagaimana osteoartritis lutut berkembang serta cara mencegah atau mengatasinya.

Sebanyak 615 peserta dianalisis dalam penelitian tersebut. Mereka terdiri dari 275 laki-laki dan 340 perempuan dengan usia rata-rata sekitar 60 tahun.

Pada saat analisis dilakukan, para peserta belum menunjukkan tanda osteoartritis berdasarkan pemeriksaan pencitraan.

Rata-rata indeks massa tubuh atau BMI peserta berada di angka 27, yang termasuk dalam kategori kelebihan berat badan.

Peneliti juga menganalisis informasi mengenai pola makan peserta selama satu tahun sebelumnya. Dari data tersebut, sekitar 41 persen makanan yang dikonsumsi peserta dikategorikan sebagai makanan ultra-proses.

Apa Saja yang Termasuk Makanan Ultra-Proses?

Makanan ultra-proses merupakan produk yang umumnya telah mengalami berbagai tahapan pengolahan dan sering mengandung kombinasi bahan seperti gula, lemak, garam, serta karbohidrat.

Beberapa contoh yang disebut dalam penelitian antara lain:

•Sereal sarapan

•Margarin dan olesan

•Camilan kemasan

•Hot dog

•Minuman bersoda

•Minuman energi

•Permen dan makanan penutup

•Pizza beku

•Makanan siap saji

•Roti dan roti burger produksi massal

Produk-produk tersebut juga sering mengandung bahan sintetis dan dirancang agar praktis, menarik, serta memiliki masa simpan yang lebih panjang.

Zehra Akkaya, M.D., peneliti sekaligus konsultan di Clinical & Translational Musculoskeletal Imaging, University of California, San Francisco, mengatakan:

"Dalam beberapa dekade terakhir, seiring meningkatnya prevalensi obesitas dan osteoartritis lutut, penggunaan bahan-bahan alami dalam pola makan kita terus berkurang dan digantikan oleh makanan serta minuman yang diproses secara industri, diberi perasa dan pewarna buatan, serta diubah secara kimiawi. Produk-produk tersebut diklasifikasikan sebagai makanan ultra-proses."

Baca Juga: Manfaat Telur Bebek Rebus untuk Kesehatan: Otot Kuat, Fungsi Otak Optimal, hingga Dukungan untuk Ibu Hamil

Semakin Banyak Dikonsumsi, Lemak Otot Makin Tinggi

Ketika peneliti membandingkan pola konsumsi makanan peserta dengan hasil MRI, mereka menemukan pola yang cukup jelas.

Peserta yang melaporkan konsumsi makanan ultra-proses lebih tinggi cenderung memiliki lebih banyak lemak di dalam otot paha.

Yang menarik, hubungan tersebut tetap terlihat meskipun jumlah kalori yang dikonsumsi turut diperhitungkan.

Artinya, temuan penelitian ini tidak hanya berkaitan dengan seberapa banyak makanan yang masuk ke tubuh, tetapi juga menunjukkan bahwa kualitas makanan mungkin berhubungan dengan komposisi jaringan tubuh.

Akkaya mengatakan:

"Selain meneliti hubungan antara kualitas pola makan modern dan komposisi otot paha, dalam studi ini kami menggunakan MRI yang tersedia secara luas dan tidak memerlukan peningkatan kontras. Pendekatan ini membuat pemeriksaan tersebut lebih mudah diakses dan praktis untuk penggunaan klinis rutin maupun penelitian di masa mendatang."

Pemeriksaan MRI yang digunakan dalam penelitian tidak memerlukan teknologi tambahan khusus. Menurut peneliti, hal tersebut membuat pendekatan ini lebih mudah diterapkan dalam pemeriksaan maupun penelitian berikutnya.

Apa Hubungannya dengan Osteoartritis Lutut?

Peneliti menduga perubahan komposisi otot paha dapat menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam kaitannya dengan osteoartritis lutut.

Otot di sekitar lutut berperan dalam membantu menopang dan menggerakkan sendi. Jika kualitas jaringan otot mengalami perubahan, kondisi tersebut secara potensial dapat memengaruhi fungsi pendukung di sekitar lutut.

Namun, penelitian ini menemukan hubungan, bukan membuktikan bahwa makanan ultra-proses secara langsung menyebabkan osteoartritis.

Penelitian juga dilakukan pada orang yang memiliki risiko osteoartritis, bukan pada populasi umum. Karena itu, temuan tersebut masih perlu diteliti lebih lanjut untuk memahami hubungan sebab-akibatnya.

Kualitas Makanan Ikut Jadi Perhatian

Menurut peneliti, temuan ini memperlihatkan bahwa menilai kesehatan hanya berdasarkan berat badan atau jumlah kalori mungkin belum menggambarkan seluruh perubahan yang terjadi di dalam tubuh.

Akkaya menjelaskan:

"Penelitian ini menegaskan pentingnya peran nutrisi terhadap kualitas otot dalam konteks osteoartritis lutut."

Ia menambahkan bahwa kualitas makanan perlu mendapat perhatian lebih dalam upaya menjaga kesehatan, selain pengaturan berat badan, pembatasan kalori, dan aktivitas fisik.

Peneliti juga menyebut bahwa mengurangi makanan ultra-proses berpotensi membantu menjaga kualitas otot. Namun, hal tersebut masih membutuhkan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui dampaknya secara langsung terhadap risiko osteoartritis.

Studi Ini Jadi Temuan Awal

Penelitian tersebut disebut sebagai studi pertama yang secara khusus menilai hubungan konsumsi makanan ultra-proses dengan komposisi otot paha menggunakan MRI dalam konteks osteoartritis.

Akkaya mengatakan:

"Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah peneliti telah menunjukkan dampak buruk makanan ultra-proses terhadap berbagai hasil kesehatan. Namun, data mengenai hubungan antara makanan ultra-proses dan komposisi tubuh dalam konteks osteoartritis lutut masih terbatas."

Ia juga menyebut:

"Ini merupakan studi pertama yang menilai dampak makanan ultra-proses terhadap komposisi otot paha menggunakan MRI. Dengan mengeksplorasi bagaimana konsumsi makanan ultra-proses memengaruhi komposisi otot, studi ini memberikan wawasan berharga mengenai pengaruh pola makan terhadap kesehatan otot."

Hasil penelitian ini diterbitkan dalam jurnal Radiology pada 2026 dengan judul Ultra-processed Foods and Muscle Fat Infiltration at Thigh MRI: Data from the Osteoarthritis Initiative.

Dengan demikian, penelitian ini memberikan petunjuk bahwa pola makan mungkin berkaitan dengan perubahan komposisi otot yang tidak selalu terlihat hanya dari berat badan. Namun, penelitian lebih lanjut tetap diperlukan untuk mengetahui apakah penumpukan lemak di otot benar-benar berperan dalam perkembangan osteoartritis lutut.

(Silva Yudia Azizah, Magang Universitas Negeri Surabaya)

Editor : Tim Content Writer Radar Lawu
Sumber : Science Daily
Kesehatan Lutut Makanan Ultra-Proses Osteoartritis lemak otot pola makan