Jawa Pos Radar Lawu - Empat minggu mungkin terdengar terlalu singkat untuk mengubah sesuatu yang berkaitan dengan proses penuaan. Namun, penelitian dari University of Sydney menemukan adanya perubahan pada sejumlah penanda usia biologis pada orang dewasa lanjut usia setelah mereka mengubah komposisi pola makannya. Temuan paling kuat terlihat pada kelompok yang menjalani pola makan omnivora dengan lebih sedikit lemak dan lebih banyak karbohidrat.
Penelitian tersebut melibatkan orang Australia berusia 65 hingga 75 tahun. Para peneliti menemukan bahwa peserta yang mengurangi asupan lemak atau protein dari sumber hewani menunjukkan profil biomarker yang mengarah pada usia biologis yang lebih rendah setelah empat minggu. Namun, hasil ini masih merupakan temuan awal dan belum membuktikan bahwa perubahan pola makan dapat benar-benar membalikkan proses penuaan secara permanen.
Studi ini dipimpin Dr Caitlin Andrews dari School of Life and Environmental Sciences, University of Sydney, dan hasilnya diterbitkan dalam jurnal Aging Cell pada 2026.
Baca Juga: Anak Hilang Nafsu Makan Karena Memendam Masalah? Cara Mengatasinya yang Jarang Diketahui Orang Tua
Apa yang Dimaksud dengan Usia Biologis?
Usia seseorang biasanya dihitung berdasarkan tahun sejak lahir. Namun, kondisi tubuh dua orang dengan usia yang sama belum tentu identik.
Perbedaan kondisi jantung, metabolisme, tingkat peradangan, hingga fungsi tubuh dapat membuat seseorang terlihat secara fisiologis lebih muda atau lebih tua dibandingkan usia sebenarnya.
Inilah yang disebut sebagai usia biologis. Para ilmuwan dapat memperkirakannya dengan melihat berbagai biomarker yang menggambarkan kondisi dan fungsi tubuh.
Dalam penelitian ini, peneliti menggabungkan 20 biomarker untuk menghasilkan skor usia biologis. Beberapa indikator yang digunakan antara lain kadar kolesterol, insulin, serta C-reactive protein atau CRP yang umum digunakan sebagai penanda peradangan dalam tubuh.
104 Peserta Diuji dengan Empat Pola Makan
Penelitian menggunakan data dari 104 peserta yang secara acak dibagi ke dalam empat kelompok pola makan.
Semua pola makan memberikan sekitar 14 persen energi dari protein. Perbedaannya terletak pada sumber protein serta komposisi lemak dan karbohidrat.
Empat pola tersebut terdiri dari:
•Omnivora tinggi lemak (OHF)
•Omnivora tinggi karbohidrat (OHC)
•Semi-vegetarian tinggi lemak (VHF)
•Semi-vegetarian tinggi karbohidrat (VHC)
Dalam kelompok omnivora, sekitar setengah protein berasal dari sumber hewani dan sisanya dari tumbuhan. Sementara itu, pola semi-vegetarian mendapatkan sekitar 70 persen protein dari sumber nabati.
Peserta memiliki indeks massa tubuh atau BMI antara 20 hingga 35. Mereka merupakan nonperokok, bukan vegetarian, serta tidak memiliki sejumlah kondisi serius seperti diabetes tipe 2, kanker, penyakit ginjal atau hati. Peserta juga tidak memiliki alergi maupun intoleransi makanan yang diketahui.
Baca Juga: Daftar Kalori Makanan Sehari-Hari Lengkap & Olahraga Pembakar Kalori Tercepat untuk Diet Efektif
Tiga Kelompok Menunjukkan Profil Biomarker Lebih Muda
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok yang menjalani pola makan omnivora tinggi lemak tidak mengalami perubahan berarti pada usia biologis yang dihitung berdasarkan biomarker.
Sementara itu, tiga kelompok lainnya menunjukkan penurunan usia biologis yang diperkirakan dari profil biomarker mereka. Bukti statistik paling kuat ditemukan pada kelompok omnivora tinggi karbohidrat.
Kelompok tersebut mendapatkan sekitar 14 persen energi dari protein, 28–29 persen dari lemak, dan 53 persen dari karbohidrat.
Secara keseluruhan, hasil ini menunjukkan bahwa mengurangi konsumsi lemak, protein hewani, atau keduanya mungkin memengaruhi biomarker yang berkaitan dengan proses penuaan pada orang dewasa lanjut usia dalam waktu relatif singkat.
Namun, penurunan skor usia biologis tidak otomatis berarti proses penuaan tubuh benar-benar berhenti atau berbalik secara permanen.
Apakah Efeknya Bisa Bertahan Lama?
Inilah salah satu pertanyaan terbesar yang belum dapat dijawab penelitian tersebut.
Para peneliti belum mengetahui apakah perubahan biomarker akan tetap terlihat setelah peserta kembali menjalani pola makan dalam jangka panjang. Mereka juga belum dapat memastikan apakah perubahan tersebut nantinya benar-benar menurunkan risiko penyakit yang berkaitan dengan penuaan.
Associate Professor Alistair Senior dari University of Sydney yang mengawasi penelitian mengatakan:
"Perubahan pola makan dalam jangka panjang diperlukan untuk menilai apakah perubahan pola makan memengaruhi risiko penyakit terkait usia."
Artinya, penelitian dengan durasi lebih panjang masih dibutuhkan untuk mengetahui apakah perubahan pola makan benar-benar memengaruhi risiko penyakit akibat penuaan.
Belum Bisa Disebut Membalikkan Penuaan
Dr Andrews juga mengingatkan bahwa hasil penelitian belum cukup untuk menyatakan perubahan pola makan tertentu dapat memperpanjang usia atau memperlambat penuaan secara permanen.
"Masih terlalu dini untuk menyatakan secara pasti bahwa perubahan pola makan tertentu akan memperpanjang hidup Anda. Namun, penelitian ini memberikan indikasi awal mengenai potensi manfaat perubahan pola makan di usia lanjut," kata Dr Andrews.
Peneliti juga mendorong penelitian berikutnya untuk melihat apakah hasil serupa muncul pada kelompok masyarakat lain dan apakah perubahan yang terlihat selama penelitian tetap bertahan dalam jangka panjang.
"Penelitian di masa mendatang perlu mengeksplorasi apakah temuan ini berlaku pada kelompok lain dan apakah perubahan yang tercatat dapat bertahan atau memprediksi dampak jangka panjang."
Dengan demikian, penelitian ini memberikan petunjuk awal bahwa komposisi makanan dapat memengaruhi sejumlah indikator fisiologis yang berkaitan dengan penuaan dalam waktu relatif singkat. Tetapi, temuan tersebut belum dapat diartikan sebagai bukti bahwa seseorang bisa benar-benar “membalikkan” usia biologis hanya dengan mengubah pola makan selama empat minggu. Penelitian jangka panjang masih diperlukan untuk melihat dampaknya terhadap kesehatan dan penyakit terkait usia.
(Silva Yudia Azizah, Magang Universitas Negeri Surabaya)
Editor : Tim Content Writer Radar LawuSumber : Science Daily