Bukan A, B, AB, atau O, Ilmuwan Temukan Sistem Golongan Darah Baru

Tim Content Writer Radar Lawu • Dipublikasikan Rabu, 23 September 2026 | 21:23 WIB
Ilmuwan memecahkan misteri golongan darah AnWj setelah 50 tahun dan menemukan sistem MAL (PINTEREST/TuaSaude)
Ilmuwan memecahkan misteri golongan darah AnWj setelah 50 tahun dan menemukan sistem MAL (PINTEREST/TuaSaude)

Jawa Pos Radar Lawu - Selama lebih dari lima dekade, ilmuwan mengetahui ada penanda misterius di permukaan sel darah merah manusia. Mereka tahu penanda itu ada, tetapi tidak tahu gen mana yang bertanggung jawab. Kini, teka-teki tersebut akhirnya terpecahkan.

Peneliti berhasil menemukan dasar genetik dari antigen AnWj dan menetapkannya sebagai bagian dari sistem golongan darah baru bernama MAL. Penemuan ini bukan sekadar menambah nama baru dalam daftar golongan darah. Bagi sejumlah kecil orang yang tidak memiliki antigen AnWj, hasil penelitian ini dapat membantu dokter menemukan darah yang lebih sesuai dan mengurangi risiko reaksi berbahaya saat transfusi.

AnWj Sudah Ditemukan Sejak 1972

Antigen AnWj pertama kali ditemukan pada 1972. Namun, selama puluhan tahun setelah penemuan tersebut, ilmuwan belum mengetahui gen yang menghasilkan antigen itu maupun protein yang membawanya pada permukaan sel darah merah.

Sebagian besar manusia ternyata memiliki antigen AnWj. Lebih dari 99,9 persen orang tercatat AnWj positif.

Hanya sebagian kecil yang tidak memilikinya. Kondisi AnWj-negatif ini dapat terjadi karena dua penyebab berbeda.

Pada sebagian besar kasus, ekspresi AnWj ditekan oleh penyakit tertentu, termasuk gangguan hematologi atau beberapa jenis kanker. Sementara itu, dalam kasus yang jauh lebih jarang, seseorang memang terlahir tanpa antigen tersebut akibat perubahan genetik yang diwariskan.

Perbedaan tersebut menjadi penting ketika seseorang memiliki antibodi terhadap AnWj. Jika pasien AnWj-negatif menerima darah AnWj-positif, antibodi tersebut dapat menyerang sel darah merah yang ditransfusikan dan berpotensi menyebabkan reaksi transfusi serius.

Baca Juga: Masih Muda Kok Darah Tinggi? Ini Penyebab yang Sering Tak Disadari

Petunjuk Misteri Ternyata Ada di Gen MAL

Untuk mencari penyebab kondisi AnWj-negatif yang diwariskan, peneliti menggunakan whole exome sequencing. Teknik ini memungkinkan mereka memeriksa bagian DNA yang berisi instruksi pembuatan protein dan mencari perubahan genetik yang sama pada orang-orang dengan kondisi tersebut.

Hasilnya mengarah pada sesuatu yang tidak langsung mereka duga: gen MAL.

Peneliti menemukan bahwa individu dengan kondisi AnWj-negatif yang diwariskan memiliki penghapusan pada kedua salinan gen MAL. Gen tersebut menghasilkan protein kecil bernama Mal, yang berada di membran sel.

Ketika sel darah merah diperiksa, individu AnWj-positif memiliki protein Mal dalam bentuk lengkap. Sebaliknya, protein tersebut tidak ditemukan pada sel darah merah individu AnWj-negatif.

Bukan Sekadar Kebetulan Genetik

Menemukan hubungan antara MAL dan AnWj belum cukup bagi ilmuwan. Mereka masih harus membuktikan bahwa protein Mal memang menjadi bagian yang bertanggung jawab terhadap keberadaan antigen tersebut.

Tim kemudian melakukan eksperimen menggunakan sel di laboratorium.

Ketika gen MAL normal dimasukkan ke dalam sel, sel tersebut menjadi reaktif terhadap antibodi AnWj. Namun, hasil yang sama tidak muncul ketika peneliti memasukkan bentuk gen yang telah mengalami perubahan.

Eksperimen tambahan memperkuat kesimpulan bahwa protein Mal memang diperlukan untuk menghasilkan antigen AnWj.

MAL Resmi Menjadi Sistem Golongan Darah Baru

Setelah bukti genetik dan molekuler terkumpul, MAL ditetapkan sebagai sistem golongan darah tersendiri dengan AnWj sebagai antigen penandanya.

International Society of Blood Transfusion kemudian secara resmi mencatat MAL sebagai ISBT 047. Pada saat penetapan tersebut, MAL menjadi sistem golongan darah resmi ke-47.

Hal ini menunjukkan bahwa sistem golongan darah manusia jauh lebih kompleks daripada empat kategori yang paling dikenal masyarakat, yaitu A, B, AB, dan O.

Sel darah merah manusia membawa ratusan molekul berbeda di permukaannya. Sebagian molekul tersebut berfungsi sebagai antigen yang dapat dikenali sistem kekebalan tubuh.

"The genetic background of AnWj has been a mystery for more than 50 years, and one which I personally have been trying to resolve for almost 20 years of my career. It represents a huge achievement, and the culmination of a long team effort, to finally establish this new blood group system and be able to offer the best care to rare, but important, patients."

Pernyataan tersebut disampaikan Louise Tilley, Senior Research Scientist di International Blood Group Reference Laboratory (IBGRL).

Baca Juga: Apakah Alkohol Bisa Menyebabkan Pembuluh Darah Pecah? Ini Penjelasan Medisnya

Penemuan Ini Bisa Membantu Transfusi Darah

Salah satu manfaat paling penting dari temuan ini adalah kemungkinan untuk membuat tes genetik yang mampu menemukan pasien dan donor AnWj-negatif.

Sebelumnya, kondisi tersebut sangat sulit ditelusuri karena jumlah orang dengan bentuk genetiknya amat sedikit. Bahkan dalam penelitian ini, hanya segelintir individu dengan kondisi AnWj-negatif yang diwariskan yang dapat diidentifikasi, termasuk anggota sebuah keluarga Arab-Israel dan perempuan yang menjadi orang AnWj-negatif pertama yang diketahui pada 1970-an.

Dengan mengetahui gen yang bertanggung jawab, laboratorium dapat mengembangkan pengujian genotipe untuk mendeteksi perubahan pada MAL.

"Now genotyping tests can be designed to identify genetically AnWj-negative patients and donors. Such tests can be added to the existing genotyping platforms."

Tes tersebut berpotensi membantu bank darah dan layanan transfusi menemukan donor langka sebelum kondisi darurat terjadi.

Mengapa Darah yang Cocok Bisa Sulit Ditemukan?

Masalahnya terletak pada jumlah orang yang memiliki antigen AnWj.

Karena lebih dari 99,9 persen populasi memiliki antigen tersebut, mencari darah yang tidak membawa AnWj bisa menjadi tantangan ketika pasien AnWj-negatif telah membentuk antibodi terhadap antigen itu.

Dalam situasi tertentu, pencarian donor kompatibel dapat membutuhkan bantuan laboratorium khusus, daftar donor langka, bahkan koordinasi lintas negara.

Penelitian sebelumnya juga telah menunjukkan bahwa antibodi anti-AnWj dapat berhubungan dengan reaksi transfusi hemolitik, yaitu kondisi ketika sel darah merah yang ditransfusikan dihancurkan oleh sistem kekebalan penerima.

Ada Perbedaan antara Bawaan dan Akibat Penyakit

Penelitian ini juga membantu memperjelas satu hal penting: tidak semua orang AnWj-negatif memiliki penyebab yang sama.

Ada orang yang terlahir tanpa antigen tersebut akibat perubahan genetik pada MAL. Namun, ada pula orang yang awalnya memiliki antigen AnWj kemudian kehilangan ekspresinya akibat penyakit tertentu.

Perbedaan ini penting bagi dokter karena latar belakang biologisnya tidak sama.

Dalam salah satu kasus yang dilaporkan pada 2026, seorang pria berusia 75 tahun mengalami anemia berat dan memiliki autoantibodi anti-AnWj. Pemeriksaan genetik menunjukkan gen MAL-nya normal, sehingga kondisi tersebut mendukung dugaan bahwa antibodinya diperoleh, bukan disebabkan kelainan MAL yang diwariskan.

Misteri Panjang Akhirnya Terjawab

Penelitian ini menjadi contoh bagaimana kasus yang sangat langka dapat membutuhkan waktu puluhan tahun untuk dipecahkan.

Kelangkaan orang dengan AnWj-negatif bawaan membuat ilmuwan memiliki sangat sedikit sampel untuk dibandingkan. Protein Mal sendiri juga berukuran kecil dan sebelumnya tidak memberikan petunjuk jelas bahwa protein tersebut merupakan pembawa antigen yang telah menjadi misteri sejak 1972.

Louise Tilley mengatakan penelitian tersebut tidak akan berhasil tanpa teknologi exome sequencing dan kerja sama banyak pihak.

"The work was difficult because the genetic cases are very rare. We would not have achieved this without exome sequencing, as the gene we identified wasn't an obvious candidate and little is known about Mal protein in red cells. Proving our findings was challenging, and we appreciate the help of all our collaborators, and the patients, without whom we would not have got to this point."

Peneliti juga menggunakan manipulasi ekspresi gen untuk menguji hubungan sebab-akibat antara MAL dan antigen AnWj. Hasilnya memperkuat bukti bahwa MAL memang menjadi bagian penting dari sistem tersebut.

Golongan Darah Manusia Ternyata Jauh Lebih Rumit

Penemuan MAL memperlihatkan bahwa A, B, AB, dan O hanyalah bagian kecil dari keragaman golongan darah manusia.

ScienceDaily mencatat bahwa saat ini terdapat 47 sistem golongan darah yang diakui, dengan lebih dari 360 antigen darah yang telah dikenal. Sistem-sistem tersebut ditentukan berdasarkan perbedaan molekul yang diwariskan pada permukaan sel darah merah.

Bagi kebanyakan orang, perbedaan tersebut tidak menimbulkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Namun, bagi pasien dengan antibodi terhadap antigen yang sangat umum, informasi tersebut bisa menjadi sangat penting saat membutuhkan transfusi.

Dengan ditemukannya gen MAL, apa yang selama setengah abad hanya dikenal sebagai teka-teki serologi kini memiliki penjelasan genetik. Penemuan ini sekaligus membuka peluang untuk mendeteksi pasien dan donor langka secara lebih cepat serta membantu layanan transfusi mempersiapkan darah yang sesuai.

(Silva Yudia Azizah, Magang Universitas Negeri Surabaya)

Editor : Tim Content Writer Radar Lawu
Sumber : Science Daily
darah langka transfusi darah fakta kesehatan golongan darah kesehatan