Jawa Pos Radar Lawu - Saat memecahkan telur, warna kuning telur sering menjadi hal pertama yang diperhatikan. Ada yang berwarna kuning pucat, tetapi ada pula yang tampak oranye pekat hingga kemerahan. Banyak orang kemudian menganggap warna yang lebih gelap sebagai tanda telur berkualitas tinggi dan lebih bergizi.
Anggapan tersebut ternyata tidak sesederhana itu.
Warna kuning telur memang berkaitan dengan kandungan pigmen tertentu yang berasal dari makanan ayam. Namun, produsen telur juga dapat mengubah warna tersebut melalui pakan. Artinya, kuning telur berwarna oranye tidak otomatis menunjukkan bahwa ayam dipelihara di luar ruangan atau bahwa telurnya memiliki manfaat kesehatan yang jauh lebih besar.
Warna Kuning Telur Ditentukan dari Makanan Ayam
Warna kuning telur terutama dipengaruhi oleh kelompok pigmen tumbuhan yang disebut karotenoid. Salah satu kelompok yang umum ditemukan adalah xantofil.
Pigmen tersebut bisa berasal dari berbagai bahan makanan, seperti:
•Sayuran berdaun hijau tua
•Paprika
•Jagung
•Alga
Serangga atau bahan makanan lain yang dikonsumsi ayam
Setelah dicerna ayam, pigmen dari makanan tersebut kemudian tersimpan di bagian kuning telur. Menurut Darrin Karcher, profesor ilmu hewan dari Purdue University, proses inilah yang memberikan warna lebih pekat pada kuning telur.
“That is what gives us the deeper color,”
Artinya, warna yang lebih dalam pada kuning telur berasal dari pigmen yang dibawa melalui makanan ayam.
Ayam yang dipelihara di padang rumput atau memiliki kesempatan mencari makanan sendiri juga bisa menghasilkan telur dengan warna lebih oranye. Hal ini karena ayam dapat mengonsumsi tanaman hijau dan serangga yang mengandung xantofil.
Bahkan, warna tersebut dapat berubah mengikuti musim. Saat cuaca lebih hangat, ayam bisa memiliki lebih banyak kesempatan mencari makanan alami sehingga warna kuning telurnya ikut berubah.
Baca Juga: Jaga Kesehatan Dengan Menerapkan Pola Makan Vegan, Yang Bisa Cegah Penyakit Degeneratif
Kuning Telur Oranye Bisa Dibuat dengan Pakan
Warna oranye pekat ternyata tidak selalu menjadi bukti bahwa ayam hidup bebas di luar kandang.
Produsen telur dapat menambahkan bahan tertentu ke dalam pakan untuk mengatur warna kuning telur. Stephan van Vliet, ilmuwan nutrisi dari Utah State University, menjelaskan bahwa produsen dapat membuat warna kuning telur menjadi lebih oranye dengan menambahkan bahan kaya xantofil.
Kelopak bunga marigold dan paprika, misalnya, dapat digunakan untuk menghasilkan warna oranye pada kuning telur.
Sebaliknya, bahan pakan tertentu juga dapat menghasilkan warna yang tidak biasa. Penambahan tepung biji kapas bahkan dapat membuat kuning telur berubah menjadi warna hijau zaitun.
Cara tersebut dilakukan karena konsumen memiliki ekspektasi tertentu terhadap warna telur. Produsen juga ingin menjaga agar warna kuning telur tetap konsisten meskipun telur dipasarkan di tempat yang berbeda.
Untuk mengukur warna tersebut, industri bahkan menggunakan skala bernama YolkFan, yang memiliki 16 tingkat warna dari kuning paling pucat hingga oranye paling gelap. Penelitian mengenai preferensi konsumen menunjukkan bahwa banyak orang di berbagai negara cenderung menyukai kuning telur berwarna oranye lebih gelap.
Apakah Kuning Telur Gelap Punya Manfaat Kesehatan?
Meski warnanya bisa diatur melalui pakan, pigmen dalam kuning telur memang memiliki potensi manfaat bagi tubuh.
Dua jenis karotenoid yang menjadi perhatian adalah lutein dan zeaxanthin. Keduanya dapat mencapai retina dan terakumulasi sebagai pigmen makula. Senyawa tersebut diduga dapat membantu memperlambat proses degenerasi makula yang berkaitan dengan usia.
Elizabeth Johnson, ahli biokimia nutrisi dari Tufts University, menjelaskan bahwa penelitian yang membandingkan lutein dari suplemen, bayam, dan telur yang diperkaya lutein menemukan bahwa lutein yang berasal dari telur lebih mudah diserap tubuh.
Salah satu alasannya diduga berasal dari kandungan lemak alami pada kuning telur. Lemak tersebut dapat membantu tubuh menyerap senyawa lutein dengan lebih baik. Mekanisme serupa juga terjadi ketika seseorang mengonsumsi sayuran seperti bayam bersama sumber lemak, misalnya minyak zaitun.
Namun, Bukan Berarti Semakin Oranye Semakin Sehat
Di sinilah anggapan soal warna kuning telur perlu diluruskan.
Sejumlah penelitian memang menunjukkan bahwa konsumsi telur dapat meningkatkan kadar lutein dalam darah. Namun, hasil penelitian mengenai dampaknya terhadap penglihatan dan peningkatan kepadatan pigmen makula belum selalu konsisten.
Dalam salah satu penelitian, orang dewasa lanjut usia yang mengonsumsi empat telur setiap hari selama sedikit lebih dari sebulan mengalami peningkatan pigmen makula. Akan tetapi, penelitian lain tidak menemukan perubahan yang sama.
Lutein sendiri juga tidak termasuk nutrisi esensial seperti vitamin dan mineral. Karena itu, warna kuning telur tidak bisa dijadikan satu-satunya patokan untuk menentukan seberapa sehat sebuah telur.
Baca Juga: Kurang Minum Air Putih Berdampak Pada Kesehatan, Ini Bahayanya!
Jangan Hanya Melihat Warna Telur
Klaim bahwa kuning telur berwarna lebih gelap pasti lebih sehat juga perlu disikapi dengan hati-hati. Menurut Karcher, klaim manfaat kesehatan harus didukung bukti yang menunjukkan adanya manfaat yang jelas pada manusia.
Van Vliet menyarankan konsumen memperhatikan asal-usul telur dan bagaimana ayam diberi makan, bukan sekadar melihat warna kuning telurnya.
“If you know where your eggs come from, what they were fed,” van Vliet says, “that’s probably more important than just going by color.”
Artinya, mengetahui asal telur dan jenis pakan ayam kemungkinan lebih penting daripada hanya menjadikan warna kuning telur sebagai patokan.
Jadi, ketika menemukan telur dengan kuning telur berwarna oranye pekat, tidak perlu langsung menganggapnya jauh lebih sehat. Warna tersebut memang menunjukkan adanya pigmen dari makanan ayam, tetapi warna juga dapat diatur melalui pakan.
Pada akhirnya, warna kuning telur lebih banyak bercerita tentang apa yang dimakan ayam daripada menjadi jaminan bahwa telur tersebut memiliki manfaat kesehatan yang lebih tinggi.
(Silva Yudia Azizah, Magang Universitas Negeri Surabaya)
Editor : Tim Content Writer Radar LawuSumber : ScientificAmerican