Jawa Pos Radar Lawu - Keringat biasanya muncul setelah tubuh bekerja keras.
Matahari yang terik, aktivitas fisik, atau suhu ruangan yang panas membuat tubuh bereaksi dengan mengeluarkan cairan untuk membantu menurunkan suhu.
Tetapi, tidak semua keringat datang karena alasan tersebut. Ada kalanya tubuh mengeluarkan keringat ketika kulit justru terasa dingin.
Kondisi itu bisa muncul tiba-tiba, tanpa aktivitas berat, tanpa paparan cuaca panas, dan terkadang disertai rasa lemah hingga pusing. Kondisi itu dikenal sebagai keringat dingin.
Sekilas, keringat dingin mungkin terlihat seperti keluhan biasa.
Padahal, gejala itu menjadi tanda bahwa tubuh sedang merespons sesuatu. Mulai dari rasa cemas hingga gangguan kesehatan yang membutuhkan perhatian lebih serius.
Pada dasarnya, berkeringat adalah mekanisme alami tubuh. Keringat membantu menjaga suhu tubuh agar tetap stabil ketika seseorang beraktivitas atau berada di lingkungan panas.
Keringat dingin bekerja dalam situasi yang berbeda.
Kondisi ini umumnya tidak muncul karena peningkatan suhu tubuh. Faktor psikologis, seperti rasa panik, stres, dan ketegangan, dapat menjadi salah satu pemicunya.
Penyebabnya tidak selalu berkaitan dengan kondisi emosional.
Keringat dingin juga dapat muncul akibat sejumlah gangguan kesehatan. Karena itu, keluhan tersebut tidak selalu bisa dianggap sebagai masalah ringan.
Keringat dingin biasanya membuat kulit terasa dingin dan lembap. Keringat dapat muncul seperti keringat biasa, terutama di bagian telapak tangan, kaki, dan ketiak.
Pada beberapa orang, kondisi tersebut dapat disertai gejala lain.
Kulit bisa terlihat pucat. Tubuh terasa menggigil dan lemah. Rasa pusing, mual, hingga muntah juga dapat muncul bersamaan.
Keringat dingin sendiri bukanlah penyakit. Kondisi tersebut merupakan gejala yang dapat muncul sebagai respons tubuh terhadap berbagai keadaan.
Penyebabnya pun cukup beragam. Nyeri berat, misalnya akibat cedera atau migrain, dapat memicu munculnya keringat dingin.
Penurunan kadar gula darah juga dapat membuat tubuh bereaksi dengan cara yang sama. Gangguan yang lebih serius pun tidak bisa diabaikan.
Infeksi berat seperti:
- Sepsis
- Pneumonia
- Malaria
- Tuberkulosis dapat menyebabkan seseorang mengalami keringat dingin.
Kondisi syok akibat cedera parah maupun penyakit akut juga dapat memicu gejala tersebut.
Respons tubuh terhadap stres dan kecemasan menjadi penyebab lain yang cukup sering terjadi.
Ketika seseorang mengalami tekanan psikologis, tubuh dapat memberikan respons berupa peningkatan produksi keringat.
Kondisi itu bisa terjadi meski seseorang tidak sedang melakukan aktivitas berat.
Keringat dingin juga dapat muncul akibat reaksi alergi berat atau anafilaksis. Kondisi tersebut dapat membahayakan nyawa dan membutuhkan penanganan medis.
Efek samping obat-obatan, hiperhidrosis, menopause, mual, hingga vertigo juga dapat menjadi faktor yang memicu munculnya keringat dingin.
Pada perempuan berusia 40 tahun ke atas, perubahan hormon saat memasuki masa menopause dapat menyebabkan perubahan produksi keringat.
Sementara itu, hiperhidrosis membuat tubuh menghasilkan keringat secara berlebihan.
Ada pula kondisi yang berkaitan dengan gangguan aliran darah dan pasokan oksigen di dalam tubuh.
Tekanan darah rendah, pendarahan organ dalam, angina, hingga serangan jantung dapat menyebabkan tubuh mengeluarkan keringat dingin.
Maka dari itu, munculnya keringat dingin bersama gejala tertentu tidak boleh diabaikan.
Sementara itu, keringat dingin yang berkaitan dengan stres dan kecemasan dapat dikelola melalui berbagai cara.
Ketika terjadi akibat kadar gula darah rendah, konsumsi makanan atau minuman manis dapat membantu meningkatkan kembali kadar gula dalam tubuh.(*)
(Azarine Nirwasita Zada, Magang Politeknik Negeri Madiun)
Editor : Tim Content Writer Radar LawuSumber : alodokter.com