Jawa Pos Radar Lawu - Menjalani hari dengan tubuh yang mudah lelah mungkin terasa biasa bagi sebagian orang.
Bagi orang thalasemia, rasa lemas, pucat hingga sesak napas dapat menjadi bagian dari keseharian yang perlu diperhatikan.
Kondisi ini bukan sekadar kekurangan darah biasa, melainkan kelainan genetik yang memengaruhi kemampuan tubuh menghasilkan hemoglobin.
Meski membutuhkan perhatian dan perawatan dalam jangka panjang, orang thalasemia tetap dapat menjalani kehidupan dengan baik.
Penanganan yang tepat, pemantauan kesehatan secara rutin, pola hidup sehat, serta dukungan keluarga menjadi bagian penting untuk membantu menjaga kualitas hidup.
Thalasemia dan Dampaknya bagi Tubuh
Thalasemia merupakan kelainan darah yang diwariskan melalui gen dari orang tua. Kondisi tersebut membuat tubuh mengalami gangguan dalam menghasilkan hemoglobin, yaitu protein pada sel darah merah yang berfungsi membawa oksigen ke seluruh tubuh.
Ketika produksi hemoglobin terganggu, sel darah merah menjadi lebih rapuh dan memiliki usia hidup yang lebih pendek. Akibatnya, tubuh dapat mengalami anemia secara kronis.
Thalasemia merupakan kelainan darah bawaan yang diturunkan, bukan penyakit menular.
Tingkat keparahan thalasemia tidak selalu sama pada setiap orang. Sebagian hanya berstatus sebagai thalassemia trait atau pembawa sifat dan mungkin tidak merasakan gejala berarti.
Sementara itu, penderita thalasemia yang lebih berat dapat membutuhkan transfusi darah secara rutin untuk membantu mempertahankan kadar hemoglobin.
Dua Jenis Utama Thalasemia
Secara umum, thalasemia terbagi menjadi dua jenis berdasarkan bagian hemoglobin yang mengalami gangguan, yakni:
1. Thalasemia alfa, terjadi ketika produksi rantai protein alfa pada hemoglobin terganggu.
2. Thalasemia beta, terjadi akibat gangguan dalam produksi rantai protein beta hemoglobin.
Keduanya dapat memiliki tingkat keparahan yang berbeda, tergantung pada perubahan genetik yang dimiliki seseorang.
Gejala yang Bisa Muncul
Gejala thalasemia sangat dipengaruhi oleh tingkat keparahannya. Pada kondisi yang lebih berat, anemia kronis dapat membuat tubuh kesulitan mendapatkan oksigen yang cukup.
Beberapa tanda yang dapat muncul antara lain:
- Kulit terlihat pucat, kekuningan atau keabu-abuan.
- Tubuh mudah lelah dan terasa lemah.
- Pusing meskipun sudah mendapatkan waktu istirahat.
- Sesak napas, terutama ketika melakukan aktivitas.
- Nafsu makan menurun.
- Pertumbuhan anak dapat mengalami hambatan.
- Mata tampak kekuningan akibat peningkatan bilirubin.
- Jantung berdebar atau berdetak lebih cepat.
- Urine dapat berwarna lebih gelap akibat meningkatnya pemecahan sel darah merah.
Gejala tersebut tidak selalu berarti seseorang mengalami thalasemia. Pemeriksaan medis tetap diperlukan untuk memastikan penyebabnya.
Karena berkaitan dengan kelainan genetik, thalasemia membutuhkan pengelolaan yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing orang.
Tujuan perawatan bukan hanya mengatasi anemia, tetapi juga mencegah munculnya komplikasi dan mempertahankan kualitas hidup.
Baca Juga: Bye-bye Anemia! Ini 11 Manfaat Jantung Pisang buat Kesehatan Tubuh Kamu
• Transfusi Darah
Pada thalasemia berat, transfusi darah dapat menjadi bagian penting dari perawatan. Prosedur ini membantu menggantikan sel darah merah yang tidak dapat bertahan dengan baik sehingga kadar hemoglobin tetap terjaga.
• Terapi Khelasi Besi
Kelebihan zat besi akibat transfusi berulang dapat menumpuk di sejumlah organ, termasuk hati dan jantung.
• Menjaga Pola Hidup
Perawatan medis perlu berjalan beriringan dengan kebiasaan hidup yang mendukung kesehatan.
Pola makan seimbang, aktivitas fisik yang sesuai kemampuan, menjaga kebersihan serta melakukan pemeriksaan secara berkala dapat menjadi bagian dari pengelolaan sehari-hari.
• Tetap Aktif dengan Olahraga yang Sesuai
Olahraga dapat membantu menjaga kebugaran dan kesehatan tubuh. Namun, jenis serta intensitas aktivitas fisik sebaiknya disesuaikan dengan kondisi masing-masing.
Mencegah Risiko Infeksi
Baca Juga: 10 Makanan Penambah Hemoglobin (Hb) Secara Alami, Ampuh Cegah Anemia dan Tingkatkan Energi Tubuh
Menjaga kesehatan tubuh juga berarti memperhatikan risiko infeksi. Kebersihan diri dan lingkungan perlu dijaga dengan baik. Vaksinasi juga dapat menjadi bagian dari perlindungan kesehatan sesuai rekomendasi tenaga medis.
Berbeda dengan penyakit yang muncul akibat pola hidup, thalasemia berkaitan dengan faktor genetik. Karena itu, salah satu langkah penting untuk mengurangi risiko penurunan thalasemia kepada anak adalah mengetahui status genetik sebelum merencanakan kehamilan.
Skrining thalasemia dapat dilakukan untuk mengetahui apakah seseorang membawa sifat thalasemia atau tidak.
Mengetahui status sebagai pembawa sifat bukan berarti seseorang tidak dapat memiliki keturunan. Informasi tersebut justru dapat membantu pasangan memahami risiko genetik dan mendiskusikan pilihan perencanaan keluarga bersama tenaga kesehatan.
Konseling genetik dapat menjadi langkah lanjutan agar pasangan memperoleh informasi yang lebih jelas mengenai kemungkinan yang dapat terjadi pada keturunannya.
Thalasemia memang merupakan kondisi jangka panjang yang membutuhkan perhatian khusus. Namun, kondisi tersebut tidak serta-merta membuat seseorang harus berhenti menjalani aktivitas dan mengejar kehidupannya.(*)
(Azarine Nirwasita Zada, Magang Politeknik Negeri Madiun)
Editor : Tim Content Writer Radar LawuSumber : halodoc.com