Jawa Pos Radar Lawu - Langit menguning, jarak pandang menyusut, dan setiap tarikan napas terasa berat. Di balik pemandangan suram itu, kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) membawa lebih dari sekadar gangguan visual.
Membawa partikel halus dan gas beracun yang mampu menembus jauh ke dalam paru-paru, bahkan memicu masalah kesehatan serius dalam waktu singkat.
Kemenkes RI mencatat, paparan asap karhutla meningkatkan risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), memperburuk asma dan penyakit paru, serta membebani jantung terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, lansia, dan penderita penyakit kronik.
Kabut asap karhutla adalah campuran kompleks dari gas dan partikel berukuran sangat kecil. Salah satu komponen paling berbahaya adalah particulate matter 2.5 (PM2.5), yaitu partikel dengan diameter kurang lebih 2,5 mikrometer.
Ukurannya yang mikroskopis memungkinkan PM2.5:
- Terhirup dengan mudah
- Masuk jauh ke saluran pernapasan bawah
- Mencapai rongga terdalam paru-paru, bahkan berpotensi masuk ke aliran darah
Semakin tinggi konsentrasi PM2.5 dan semakin lama seseorang terpajan, semakin besar pula risiko gangguan kesehatan yang timbul.
Berikut beberapa dampak yang sering muncul:
- Iritasi pada mata, hidung, dan tenggorokan
- Batuk
- Sesak napas
- Napas berbunyi atau mengi
- Penurunan fungsi paru untuk sementara
- Peningkatan risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA)
- Kekambuhan atau memburuknya asma dan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK)
Kelompok yang perlu mendapat perlindungan ekstra meliputi:
Anak - anak: sistem pernapasan masih berkembang, lebih mudah mengalami batuk, mengi, dan penurunan fungsi paru.- Lansia: kapasitas kompensasi kardiorespirasi menurun.
- Ibu hamil: perubahan fisiologis kehamilan meningkatkan kerentanan; paparan asap jangka pendek dikaitkan dengan risiko kelahiran prematur.
- Penderita asma atau PPOK: asap dapat memicu eksaserbasi akut.
- Orang dengan penyakit jantung atau penyakit kronik lainnya: beban kardiovaskular meningkat.
- Orang yang bekerja atau banyak beraktivitas di luar ruangan: durasi dan intensitas pajanan lebih tinggi.
Cara Melindungi Diri dari Pajanan Asap: Langkah Praktis yang Bisa Dilakukan Hari Ini
1. Pantau Kualitas Udara Sebelum Beraktivitas
Baca Juga: 1.923 Titik Panas Terdeteksi di Papua Tengah, Nabire Terbanyak dan Terancam Karhutla
Periksa informasi kualitas udara (misalnya melalui aplikasi atau situs pemantau kualitas udara) sebelum beraktivitas di luar rumah. Kurangi aktivitas di luar ruangan, terutama olahraga atau kegiatan berat, ketika kualitas udara sedang buruk.
2. Gunakan Masker yang Sesuai
Jika harus keluar rumah, gunakan masker atau respirator yang mampu menyaring partikel halus, seperti N95. Pastikan ukuran sesuai dan terpasang rapat pada wajah agar tidak ada kebocoran di sisi masker.
3. Tutup Pintu dan Jendela, Ciptakan “Ruang Bersih” di Rumah
Saat kabut asap sedang pekat, tutup pintu dan jendela untuk mengurangi masuknya udara tercemar ke dalam ruangan. Gunakan penyaring udara (air purifier) apabila tersedia.
4. Jaga Kondisi Tubuh Tetap Prima
Cukupi kebutuhan cairan, istirahat, dan konsumsi makanan bergizi untuk membantu tubuh lebih tahan terhadap paparan polutan.
5. Segera Periksa Jika Muncul Keluhan
Jangan mengabaikan batuk, sesak napas, nyeri menelan, atau keluhan lain yang muncul selama terpajan kabut asap terutama jika keluhan semakin berat atau tidak kunjung membaik. Segera periksakan diri ke dokter.(*)
(Azarine Nirwasita Zada, Magang Politeknik Negeri Madiun)
Editor : Tim Content Writer Radar LawuSumber : rspremierjatinegara