Jawa Pos Radar Lawu - Memilih makanan untuk makan siang saja kadang bisa membuat seseorang berpikir lama.
Belum lagi ketika harus menentukan pilihan yang lebih besar, seperti pekerjaan, pendidikan, atau hubungan. Semakin banyak pertimbangan yang muncul, keputusan yang seharusnya sederhana justru terasa semakin sulit.
Rasa ragu sebenarnya merupakan bagian normal dari proses mengambil keputusan. Dengan mempertimbangkan berbagai kemungkinan, seseorang dapat menilai risiko dan konsekuensi sebelum menentukan pilihan.
Masalah muncul ketika keraguan berlangsung terus-menerus hingga membuat seseorang sulit bergerak atau justru tidak berani mengambil keputusan.
Kondisi tersebut bisa berkaitan dengan berbagai faktor, termasuk kecemasan, rasa takut gagal, perfeksionisme, hingga kelelahan mental akibat terlalu banyak keputusan yang harus dibuat.
Saat menghadapi sesuatu yang dianggap sebagai ancaman atau tekanan, tubuh dapat masuk ke dalam respons fight or flight. Sistem saraf kemudian mempersiapkan tubuh untuk menghadapi situasi tersebut.
Dalam kondisi stres, tubuh mengalami sejumlah perubahan. Detak jantung dapat meningkat, otot menegang, dan perhatian lebih banyak diarahkan pada hal yang dianggap sebagai ancaman.
Salah satu hal yang sering membuat keraguan semakin panjang adalah overthinking. Seseorang terus memikirkan kemungkinan yang mungkin terjadi, bahkan setelah memiliki cukup informasi untuk menentukan pilihan.
Alih-alih membantu menemukan solusi, terlalu banyak memikirkan skenario justru dapat membuat otak semakin lelah.
Kesulitan mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari tidak otomatis berarti seseorang mengalami aboulomania.
Aboulomania merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan kondisi patologis berupa ketidakmampuan yang berat dan menetap dalam mengambil keputusan.
Kondisi ini berbeda dengan decision fatigue, yaitu keadaan ketika kemampuan seseorang dalam membuat keputusan menurun setelah menghadapi terlalu banyak pilihan atau keputusan.
Kecemasan dapat membuat seseorang terlalu fokus pada kemungkinan buruk yang mungkin terjadi. Akibatnya, keputusan sederhana pun terasa memiliki risiko besar.
Hal serupa dapat terjadi pada orang yang memiliki kecenderungan perfeksionis. Keinginan untuk mendapatkan pilihan yang benar-benar sempurna dapat membuat proses mengambil keputusan menjadi lebih lama.
Keraguan tidak selalu harus dilawan dengan mencari lebih banyak informasi. Terkadang, yang dibutuhkan justru batasan agar pikiran tidak terus berputar.
Beberapa langkah sederhana yang dapat dicoba antara lain:
1. Batasi Pilihan
Terlalu banyak pilihan dapat membuat proses mengambil keputusan semakin melelahkan. Cobalah mempersempit pilihan menjadi dua atau tiga alternatif yang paling masuk akal.
2. Tentukan Batas Waktu
Memberikan batas waktu dapat membantu mencegah seseorang terus-menerus mempertimbangkan pilihan yang sama. Untuk keputusan sederhana, tidak perlu menghabiskan waktu terlalu lama.
3. Pisahkan Fakta dan Kekhawatiran
Tuliskan apa yang benar-benar diketahui dan bedakan dengan hal yang hanya dikhawatirkan. Cara ini dapat membantu melihat sebuah keputusan secara lebih realistis.
Baca Juga: Kamu Merasa Sulit Mengambil Keputusan? 5 Tips Ini Bantu Atasi Decision Fatigue
4. Terima bahwa Tidak Semua Keputusan Bisa Sempurna
Kesalahan merupakan bagian dari proses kehidupan. Tidak semua keputusan akan menghasilkan sesuatu sesuai harapan. Yang penting, keputusan dibuat berdasarkan pertimbangan yang cukup dan dapat dievaluasi jika diperlukan.
5. Beri Waktu untuk Istirahat
Ketika pikiran sudah terlalu penuh, mengambil keputusan justru bisa terasa semakin sulit. Beristirahat sejenak dapat membantu mengurangi beban mental sebelum kembali menentukan pilihan.
Rasa ragu perlu mendapatkan perhatian lebih ketika mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.
Misalnya, seseorang terus-menerus menghindari keputusan, merasa sangat cemas ketika harus memilih, mengalami gangguan tidur, atau kesulitan menjalani hubungan sosial dan pekerjaan karena terlalu banyak berpikir.
Merasa ragu bukan berarti ada sesuatu yang salah dengan diri seseorang. Keraguan bagian dari cara manusia mempertimbangkan pilihan.
Namun, ketika pikiran terus terjebak dalam kecemasan dan pertimbangan tanpa akhir, kemampuan mengambil keputusan bisa ikut terganggu.(*)
(Azarine Nirwasita Zada, Magang Politeknik Negeri Madiun)
Editor : Tim Content Writer Radar LawuSumber : halodoc.com