Jawa Pos Radar Lawu - Pernah tiba-tiba ingin buang air besar berkali-kali saat sedang menghadapi tekanan? Misalnya ketika akan menghadapi ujian, pekerjaan menumpuk, atau berada dalam situasi yang membuat cemas.
Perut mendadak terasa mulas dan keinginan untuk ke toilet muncul berulang kali. Kondisi tersebut bukan sekadar kebetulan.
Stres dan kondisi emosional memang dapat memengaruhi kerja sistem pencernaan, bahkan pada sebagian orang bisa memicu diare.
Diare sendiri ditandai dengan frekuensi buang air besar yang meningkat dan konsistensi feses yang lebih encer. Penyebabnya beragam, mulai dari infeksi virus, makanan hingga kondisi tertentu pada sistem pencernaan. Namun, stres juga dapat menjadi salah satu pemicunya
Ketika seseorang merasa cemas atau menghadapi sesuatu yang dianggap sebagai ancaman, tubuh akan mengaktifkan respons fight or flight. Respons ini merupakan mekanisme alami tubuh untuk menghadapi situasi yang dianggap berbahaya.
Pada kondisi tersebut, sistem saraf simpatis bekerja dan menyebabkan sejumlah perubahan pada tubuh. Detak jantung dan pernapasan dapat meningkat, otot menjadi lebih tegang, serta aliran darah diarahkan ke bagian tubuh yang dianggap lebih penting untuk menghadapi ancaman.
Sistem pencernaan juga ikut merespons perubahan tersebut.
Baca Juga: Air Kelapa Bisa Atasi Diare? Ini Manfaat dan Cara Aman Konsumsinya
Salah satu dampaknya dapat terjadi pada usus besar. Aktivitas dan kontraksi usus dapat meningkat ketika seseorang mengalami tekanan atau stres. Jika pergerakan usus berlangsung terlalu cepat, tubuh tidak memiliki cukup waktu untuk menyerap air dari feses.
Akibatnya, feses menjadi lebih encer dan seseorang dapat mengalami diare.
Hubungan antara kondisi psikologis dan sistem pencernaan semakin banyak dipahami melalui penelitian mengenai hubungan otak dan usus.
Usus memiliki sistem saraf sendiri yang disebut sistem saraf enterik. Sistem ini berperan dalam mengatur berbagai aktivitas pencernaan dan dapat merespons perubahan yang terjadi ketika tubuh mengalami stres.
Stres juga dapat memicu pelepasan hormon tertentu, termasuk faktor pelepas kortikotropin atau corticotropin-releasing factor (CRF). Hormon ini dapat memengaruhi pergerakan saluran pencernaan.
Pada perut dan usus kecil, respons tersebut dapat memperlambat pergerakan. Namun, di usus besar, CRF justru dapat meningkatkan aktivitasnya. Peningkatan gerakan usus besar inilah yang pada sebagian orang dapat berujung pada rasa mulas dan diare.
Dampak stres terhadap pencernaan dapat terasa lebih kuat pada orang yang mengalami sindrom iritasi usus besar atau irritable bowel syndrome (IBS).
IBS ialah gangguan pada sistem pencernaan yang dapat menyebabkan nyeri perut berulang serta perubahan pola buang air besar. Penderitanya bisa mengalami diare, sembelit, atau keduanya secara bergantian.
Pada penderita IBS, usus besar cenderung lebih sensitif terhadap berbagai rangsangan, termasuk stres. Akibatnya, tekanan emosional yang mungkin tidak terlalu berdampak pada orang lain dapat memicu keluhan pencernaan yang lebih terasa.
Stres juga perlu diperhatikan oleh orang yang mengalami penyakit radang usus atau inflammatory bowel disease (IBD), termasuk penyakit Crohn dan kolitis ulserativa.
Baca Juga: Cara Menyeduh Teh Telang, Minuman Herbal tanpa Kafein yang Bisa Atasi Diabetes dan Diare
Kedua kondisi tersebut melibatkan peradangan pada saluran pencernaan dan dapat menimbulkan berbagai gangguan pada usus.
Stres bukan penyebab utama penyakit tersebut, tetapi dapat menjadi salah satu faktor yang memperburuk keluhan pada sebagian penderita.
Diare yang hanya muncul sesekali ketika seseorang sedang menghadapi tekanan atau kecemasan bisa saja berkaitan dengan respons alami tubuh terhadap stres.
Namun, jangan langsung menganggap semua diare yang muncul saat stres pasti disebabkan oleh faktor psikologis. Berbagai kondisi lain juga dapat menyebabkan diare.
Beberapa kebiasaan sederhana yang dapat dilakukan antara lain:
- Beristirahat dan tidur dengan cukup.
- Melakukan aktivitas fisik secara rutin.
- Meluangkan waktu untuk melakukan aktivitas yang membuat tubuh lebih rileks.
- Mengatur pola makan dan mencukupi kebutuhan cairan.
- Menghindari pemicu stres yang masih dapat dikendalikan.
- Mencari bantuan profesional jika stres mulai sulit dikelola.
Ketika diare muncul, menjaga tubuh tetap terhidrasi menjadi hal penting karena tubuh kehilangan banyak cairan melalui feses.
Penggunaan obat antidiare juga sebaiknya dilakukan dengan tepat dan tidak digunakan sembarangan, terutama jika penyebab diare belum diketahui.(*)
(Azarine Nirwasita Zada, Magang Politeknik Negeri Madiun)
Editor : Tim Content Writer Radar LawuSumber : halodoc.com