Jawa Pos Radar Lawu - Bagi masyarakat Dayak di Kalimantan, sayur pakis bukan makanan asing. Sayuran hijau dengan pucuk yang menggulung ini sudah lama menjadi bagian dari masakan sehari-hari.
Di beberapa daerah Kalimantan, jenis pakis yang dikenal sebagai bajei ini bernama ilmiah Diplazium esculentum dan tumbuh alami di lingkungan yang lembap, seperti pinggiran sungai dan kebun.
Dari Hutan ke Meja Makan Masyarakat Dayak
Bagian yang biasanya dikonsumsi adalah pucuk dan batang mudanya. Teksturnya renyah dengan rasa yang khas, sehingga paling sering diolah menjadi tumisan. Pakis juga bisa dimasak bersama bawang, cabai, terasi, atau bahan lain sesuai tradisi kuliner setempat.
Di Kalimantan Tengah, masyarakat Dayak telah lama mengonsumsi sayuran pakis sebagai salah satu sumber pangan lokal. Bahkan, pakis secara tradisional dikenal sebagai sumber zat besi dan folat yang baik.
Kaya Antioksidan dan Nutrisi
Di balik tampilannya yang sederhana, pakis sayur mengandung berbagai senyawa seperti polifenol, flavonoid, tanin, saponin, dan terpenoid. Berbagai penelitian juga menunjukkan adanya aktivitas antioksidan pada tanaman ini.
Pakis juga dikenal mengandung berbagai zat gizi, termasuk serat serta sejumlah vitamin dan mineral. Kandungan inilah yang membuat sayuran ini berpotensi membantu memenuhi kebutuhan nutrisi sehari-hari.
Dipercaya Baik untuk Mencegah Anemia
Salah satu manfaat yang paling sering dikaitkan dengan sayur pakis adalah kandungan zat besi dan folatnya. Di Kalimantan, sayuran ini secara tradisional digunakan sebagai sumber nutrisi, termasuk bagi perempuan usia subur. Namun, manfaatnya tetap harus dipahami sebagai bagian dari pola makan bergizi secara keseluruhan, bukan pengganti pengobatan untuk anemia.
Tetap Harus Dimasak Sebelum Dimakan
Meski merupakan sayuran yang dapat dikonsumsi, pakis sebaiknya tidak dimakan mentah. Pucuk pakis perlu dicuci dan dimasak terlebih dahulu sebelum dikonsumsi. Mengolahnya dengan benar juga membantu membuat teksturnya lebih aman dan nikmat.
Dari hutan Kalimantan hingga menjadi hidangan di meja makan, sayur pakis Dayak membuktikan bahwa makanan lokal bukan sekadar kuliner tradisional. Di balik pucuk hijaunya, tersimpan pengetahuan masyarakat yang sudah diwariskan dari generasi ke generasi. (*)
(Magang, Anggie Putri Wijayanti - Universitas Negeri Surabaya)
Editor : Tim Content Writer Radar LawuSumber : Repositori Pertanian, PubMed Central, rri.co.id