Jawa Pos Radar Lawu : Tidak semua kondisi berbahaya datang dengan rasa sakit. Ada kalanya tubuh tetap terasa biasa saja, sementara angka pada tensimeter justru menunjukkan sesuatu yang perlu diwaspadai.
Tekanan darah mencapai 200 mmHg, tetapi tidak ada pusing, sakit kepala, atau keluhan lain. Situasi seperti ini mungkin membuat seseorang memilih kembali beraktivitas karena merasa tubuh masih baik-baik saja.
Padahal, tekanan darah setinggi itu tidak bisa dianggap sepele. Tekanan darah 200 mmHg berada jauh di atas batas normal dan dapat berkaitan dengan krisis hipertensi.
Kondisi tersebut berisiko memengaruhi pembuluh darah serta organ penting seperti otak, jantung, ginjal, dan mata.
Ketiadaan gejala bukan berarti tubuh sedang aman. Justru karena tekanan darah tinggi sering berkembang tanpa keluhan yang jelas, hipertensi dikenal sebagai silent killer atau pembunuh senyap.
Pada orang dewasa, tekanan darah normal umumnya berada di bawah 120/80 mmHg. Ketika angka sistolik mencapai 200 mmHg, tekanan yang diterima dinding pembuluh darah sudah sangat tinggi.
Baca Juga: 7 Pilihan Olahraga untuk Penderita Hipertensi, Aman dan Efektif Menurunkan Tekanan Darah Tinggi
Namun, tidak semua orang langsung merasakan perubahan pada tubuh. Ada penderita hipertensi yang tetap dapat bekerja, berjalan, atau melakukan aktivitas sehari-hari tanpa merasa terganggu.
Tubuh yang sudah lama terbiasa dengan tekanan darah tinggi juga dapat membuat gejala tidak selalu terasa jelas. Karena itu, rasa tidak pusing tidak dapat dijadikan patokan bahwa tekanan darah sedang aman.
Angka pada tensimeter tetap perlu diperhatikan. Dalam dunia medis, tekanan darah lebih dari 180/120 mmHg termasuk dalam kategori krisis hipertensi.
Kondisi tersebut dapat dibedakan menjadi hipertensi urgensi dan hipertensi emergensi. Perbedaannya terutama dilihat dari ada atau tidaknya kerusakan organ yang sedang berlangsung.
Pada hipertensi emergensi, tekanan darah yang sangat tinggi sudah disertai tanda kerusakan pada organ target. Situasi ini membutuhkan penanganan medis segera.
Jika seseorang mendapatkan hasil pengukuran sekitar 200 mmHg, tenaga medis perlu melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui apakah tekanan darah tersebut sudah memengaruhi organ vital.
Masalahnya, kerusakan tersebut tidak selalu diawali dengan keluhan yang mudah dikenali. Tekanan yang terlalu tinggi pada pembuluh darah dapat meningkatkan risiko terjadinya masalah pada otak, termasuk stroke.
Pembuluh darah yang mengalami tekanan berat dapat mengalami kerusakan dan pada kondisi tertentu dapat pecah. Perdarahan di otak kemudian dapat menyebabkan gangguan fungsi tubuh hingga kondisi yang mengancam nyawa.
Karena itu, seseorang tidak perlu menunggu sampai mengalami pusing hebat untuk menganggap tekanan darah tinggi sebagai masalah serius.
Tekanan darah yang tidak terkendali juga dapat memberikan beban besar pada jantung. Jantung harus bekerja lebih keras untuk memompa darah melawan tekanan di dalam pembuluh darah.
Dalam kondisi tertentu, keadaan ini dapat berkaitan dengan gagal jantung akut maupun serangan jantung.
Baca Juga: Anti Hipertensi Alami: 5 Buah Ini Terbukti Bantu Turunkan Tekanan Darah
Ginjal juga ikut berada dalam risiko. Pembuluh darah kecil di dalam ginjal berperan penting dalam menyaring darah. Tekanan darah yang terlalu tinggi dan berlangsung terus-menerus dapat merusak bagian tersebut hingga mengganggu fungsi ginjal. Mata pun tidak luput.
Kerusakan pembuluh darah pada retina dapat menyebabkan gangguan penglihatan. Pada kondisi yang berat, gangguan tersebut dapat berkembang menjadi kehilangan penglihatan secara permanen.
Dengan kata lain, persoalannya bukan sekadar angka tinggi pada alat pengukur tekanan darah. Ada organ-organ penting yang ikut bekerja di balik angka tersebut.
Ketika hasil pengukuran menunjukkan tekanan darah sekitar 200 mmHg, jangan langsung panik. Namun, jangan pula mengabaikannya hanya karena tubuh tidak terasa sakit.
Pengukuran dapat dilakukan kembali setelah beristirahat dan memastikan posisi tubuh sudah benar. Jika hasilnya tetap sangat tinggi, segera cari bantuan medis.
Terlebih apabila muncul keluhan seperti nyeri dada, sesak napas, gangguan penglihatan, kebingungan, kelemahan pada salah satu sisi tubuh, atau sakit kepala hebat.
Dalam kondisi tersebut, penanganan di fasilitas kesehatan diperlukan untuk mengetahui apakah sudah terjadi kerusakan organ.
Penurunan tekanan darah juga tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Tekanan darah yang terlalu cepat turun tanpa pengawasan medis dapat memengaruhi aliran darah menuju organ penting.
Karena itu, penggunaan atau penambahan dosis obat sebaiknya tidak dilakukan sendiri tanpa arahan dokter.
Tekanan darah yang sudah kembali stabil bukan berarti masalah hipertensi selesai.
Jika dokter memberikan obat antihipertensi, obat tersebut perlu dikonsumsi sesuai aturan. Menghentikan obat sendiri hanya karena tubuh sudah terasa sehat dapat membuat tekanan darah kembali meningkat.
Perubahan kebiasaan sehari-hari juga menjadi bagian penting dalam menjaga tekanan darah.
Mengurangi asupan garam, memperbanyak konsumsi buah dan sayuran, memilih makanan dengan kandungan lemak jenuh lebih rendah, serta menjaga aktivitas fisik dapat membantu mengendalikan tekanan darah.
Jalan cepat, berenang, atau bersepeda dapat menjadi pilihan aktivitas fisik bagi orang yang kondisinya memungkinkan. Namun, jenis dan intensitas olahraga tetap perlu disesuaikan dengan kondisi kesehatan masing-masing.
Merokok dan konsumsi alkohol juga sebaiknya dihindari karena dapat berdampak buruk terhadap kesehatan pembuluh darah.
Hipertensi memiliki satu persoalan yang sering membuatnya terlambat ditangani: seseorang bisa merasa sehat ketika tekanan darahnya sebenarnya sudah tinggi.
Karena itu, pemeriksaan tekanan darah secara rutin menjadi penting. Angka pada tensimeter dapat memberikan informasi yang tidak selalu diberikan oleh tubuh melalui rasa sakit atau keluhan fisik.
Tekanan darah 200 mmHg, meskipun tidak disertai pusing, tetap membutuhkan perhatian serius. Terlebih jika hasil pengukuran tetap tinggi setelah dilakukan pengukuran ulang.
Pada akhirnya, tubuh tidak selalu memberi peringatan lewat rasa sakit. Kadang, peringatannya justru muncul dalam bentuk angka kecil di layar tensimeter.
Dan ketika angka itu sudah mencapai 200 mmHg, mengabaikannya bukan pilihan yang aman.
Jika kondisi tersebut sedang terjadi, segera dapatkan penilaian medis, terutama bila tekanan darah tetap sangat tinggi atau disertai gejala yang mengarah pada gangguan organ vital.(*)
(Azarine Nirwasita Zada, Magang Politeknik Negeri Madiun)
Editor : Tim Content Writer Radar LawuSumber : halodoc.com