Jawa Pos Radar Lawu - Mata minus atau miopi menjadi salah satu gangguan penglihatan yang cukup sering ditemui. Kondisi ini membuat seseorang dapat melihat benda yang berada di dekatnya dengan cukup jelas, tetapi kesulitan mengenali objek yang letaknya jauh.
Tak jarang orang harus memicingkan mata ketika melihat tulisan dari kejauhan, kesulitan membaca papan informasi, atau membutuhkan kacamata agar penglihatan kembali jelas.
Secara medis, miopi merupakan kelainan refraksi, bukan penyakit yang bisa hilang begitu saja. Pada mata minus, cahaya yang masuk ke mata tidak terfokus tepat di retina, tetapi jatuh di depan retina. Akibatnya, objek yang jauh terlihat buram.
Bentuk bola mata yang terlalu panjang atau kelengkungan kornea yang terlalu besar dapat menjadi penyebab kondisi tersebut. Faktor genetik dan lingkungan juga dapat berperan terhadap muncul atau berkembangnya miopi.
Miopi merupakan gangguan refraksi yang membuat seseorang kesulitan melihat objek yang berada pada jarak jauh. Sementara itu, benda yang berada lebih dekat biasanya masih dapat terlihat dengan lebih jelas.
Kondisi ini terjadi karena sistem optik mata tidak memfokuskan cahaya tepat pada retina. Akibatnya, gambar yang seharusnya terbentuk jelas di retina justru terbentuk di depan retina.
Dalam kehidupan sehari-hari, mata minus dapat membuat aktivitas tertentu menjadi lebih sulit. Melihat tulisan di papan, mengenali wajah dari kejauhan, menonton televisi, hingga mengemudi dapat terganggu jika miopi tidak dikoreksi.
Penglihatan jauh yang buram merupakan tanda paling umum dari miopi. Namun, beberapa keluhan lain juga dapat muncul, terutama ketika seseorang berusaha melihat objek dari jarak jauh.
Baca Juga: Minus Mata Makin Parah? Ini 8 Suplemen Ampuh yang Bantu Mata Lebih Fokus & Jernih!
Beberapa gejala yang dapat dirasakan antara lain:
- Sering memicingkan mata agar objek terlihat lebih jelas.
- Mengalami sakit kepala akibat mata bekerja lebih keras untuk mendapatkan fokus.
- Mata terasa lelah setelah membaca atau menatap layar dalam waktu lama.
- Kesulitan melihat objek dengan jelas ketika berkendara, terutama pada malam hari.
Miopi dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Salah satunya adalah faktor keturunan. Seseorang yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat mata minus dapat memiliki risiko lebih tinggi mengalami kondisi serupa.
Lingkungan dan kebiasaan sehari-hari juga dapat berperan, terutama pada anak-anak. Aktivitas melihat objek dalam jarak dekat dalam waktu lama dan kurangnya aktivitas di luar ruangan sering menjadi perhatian dalam pembahasan mengenai perkembangan miopi.
Selain itu, kondisi fisik mata turut menentukan. Bola mata yang terlalu panjang dapat membuat cahaya jatuh di depan retina. Kelengkungan kornea yang terlalu besar juga dapat menyebabkan fokus cahaya tidak berada tepat pada retina.
Seiring meningkatnya penggunaan perangkat digital, kebiasaan melihat layar dalam jarak dekat juga semakin banyak mendapat perhatian, terutama dalam kaitannya dengan kesehatan mata anak dan remaja.
Faktanya, mata minus tidak dapat dianggap sebagai penyakit yang cukup diobati dengan obat lalu kembali normal secara otomatis.
Miopi merupakan kelainan refraksi yang berkaitan dengan cara mata memfokuskan cahaya. Karena itu, penanganannya lebih diarahkan untuk mengoreksi penglihatan atau mengendalikan perkembangan miopi, bukan sekadar menghilangkan angka minus.
Adapun Pemilihan Penanganan Miopi dengan Kondisi Masing-masing, diantaranya:
1. Kacamata atau Lensa Kontak
Kacamata menjadi salah satu cara paling sederhana untuk membantu penderita miopi melihat objek yang jauh dengan lebih jelas.
Lensa dengan ukuran yang sesuai membantu mengarahkan cahaya agar dapat terfokus dengan lebih tepat pada retina. Penggunaan lensa kontak juga dapat menjadi pilihan bagi orang yang menginginkan alternatif selain kacamata.
Pemilihannya perlu disesuaikan dengan kebutuhan, kondisi mata, serta kenyamanan pengguna.
2. Operasi Laser
Pada orang dewasa tertentu yang memenuhi persyaratan medis, prosedur bedah refraktif dapat menjadi pilihan untuk mengurangi ketergantungan terhadap kacamata atau lensa kontak.
LASIK dan LASEK merupakan beberapa prosedur yang bekerja dengan mengubah bentuk kornea sehingga kemampuan mata dalam memfokuskan cahaya dapat diperbaiki.
Namun, prosedur tersebut tidak bisa dilakukan oleh semua orang. Kondisi mata, usia, stabilitas ukuran minus, ketebalan kornea, serta kesehatan mata secara keseluruhan perlu diperiksa terlebih dahulu.
Baca Juga: Jangan Diabaikan! 6 Ciri Mata Minus Ini Bisa Bikin Gangguan Penglihatan Makin Parah
3. Obat Tetes Mata
Pada anak-anak dengan miopi yang terus berkembang, dokter dalam kondisi tertentu dapat mempertimbangkan penggunaan obat tetes mata atropin dengan konsentrasi rendah sebagai bagian dari upaya mengendalikan perkembangan miopi.
Penggunaan obat tersebut tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Jenis, konsentrasi, dan lama penggunaannya perlu mengikuti rekomendasi dokter karena tujuan utamanya adalah membantu memperlambat perkembangan miopi, bukan menghilangkan mata minus secara instan.
4. Implan Lensa Buatan
Pada kondisi tertentu, terutama miopi yang sangat tinggi atau pada orang yang tidak sesuai menjalani prosedur laser, dokter dapat mempertimbangkan prosedur implan lensa.
Salah satu pilihan adalah memasukkan lensa buatan ke dalam mata tanpa harus mengangkat lensa alami. Prosedur ini termasuk tindakan medis yang membutuhkan pemeriksaan menyeluruh dan tidak diperuntukkan bagi semua penderita miopi.
Jadi, Apakah Mata Minus Bisa Hilang?
Jawabannya bergantung pada apa yang dimaksud dengan sembuh.
Miopi sebagai kelainan refraksi tidak serta-merta hilang hanya dengan mengonsumsi obat, melakukan latihan mata, atau mengurangi penggunaan kacamata. Namun, penglihatan yang buram akibat miopi dapat dikoreksi dengan kacamata atau lensa kontak.
Pada orang yang memenuhi syarat, prosedur bedah refraktif juga dapat mengurangi ketergantungan terhadap alat bantu penglihatan. Sementara pada anak-anak, terdapat pendekatan yang dapat membantu memperlambat perkembangan miopi.
Menjaga kesehatan mata juga tidak kalah penting. Mengatur waktu saat menggunakan perangkat digital, memberikan jeda ketika melakukan aktivitas jarak dekat, serta membiasakan aktivitas di luar ruangan terutama pada anak-anak dapat menjadi bagian dari kebiasaan untuk menjaga kesehatan mata.(*)
(Azarine Nirwasita Zada, Magang Politeknik Negeri Madiun)
Editor : Tim Content Writer Radar LawuSumber : halodoc.com