Sering Bad Mood? Bisa Jadi Berawal dari Apa yang Kamu Makan

Tim Content Writer Radar Lawu • Dipublikasikan Minggu, 9 Agustus 2026 | 08:15 WIB
Source: yapscholn.com
Source: yapscholn.com

Jawa Pos Radar Lawu - Pernah merasa suasana hati berubah setelah makan makanan tertentu? Atau justru lebih mudah cemas dan sulit fokus ketika pola makan berantakan? Ternyata, hal itu bukan sekadar perasaan. 

Para ahli menemukan bahwa usus dan otak memiliki hubungan sangat erat sehingga apa yang terjadi di saluran pencernaan dapat memengaruhi suasana hati, konsentrasi, hingga kesehatan mental.

Hubungan ini dikenal sebagai gut-brain connection atau hubungan usus dan otak. Meski masih terus berkembang banyak bukti yang menunjukkan bahwa pola makan sehat berperan penting dalam menjaga kesehatan fisik sekaligus mental.

Hubungan Usus dan Otak Ternyata Sangat Erat

Selama ini usus hanya dikenal sebagai organ pencernaan. Padahal, usus memiliki jutaan sel saraf yang terus berkomunikasi dengan otak melalui sistem saraf dan berbagai hormon.

Artinya, makanan yang masuk ke dalam tubuh bukan hanya menghasilkan energi, tetapi juga mengirimkan berbagai sinyal yang dapat memengaruhi emosi, rasa lapar, tingkat stres, hingga kejernihan berpikir.

Baca Juga: 5 Kebiasaan Kecil agar Otak Tidak Mudah Lupa, Ampuh Cegah Brain Fog dan Tingkatkan Fokus

1. Semua Berawal dari Makanan yang Kamu Konsumsi

Prosesnya dimulai sejak makanan pertama kali masuk ke mulut. Aroma, rasa, dan aktivitas mengunyah langsung mengirimkan sinyal ke otak. 

Respons ini dapat memicu rasa senang, meningkatkan nafsu makan, atau bahkan memunculkan keinginan mengonsumsi makanan tertentu sebelum makanan benar-benar ditelan.

Karena itu, otak sebenarnya sudah mulai bereaksi bahkan sebelum makanan masuk ke lambung.

2. Lambung Mengirim Sinyal Lapar dan Kenyang

Setelah ditelan, makanan masuk ke lambung untuk dicerna dengan bantuan asam lambung. Pada tahap ini, lambung juga menghasilkan berbagai hormon yang memberi tahu otak apakah tubuh masih lapar atau sudah kenyang.

Salah satu hormon itu adalah hormon ghrelin, yang dikenal sebagai hormon pemicu rasa lapar. Selain mengatur nafsu makan, hormon ini juga berperan dalam sistem penghargaan (reward system) di otak yang memengaruhi rasa puas setelah makan.

3. Usus Halus Menyerap Nutrisi Penting untuk Otak

Sebagian besar vitamin, mineral, protein, dan zat gizi diserap di usus halus. Di sinilah tubuh memperoleh berbagai nutrisi yang dibutuhkan untuk membentuk senyawa kimia otak.

Salah satunya adalah triptofan, asam amino yang digunakan tubuh untuk membantu membentuk serotonin, yaitu neurotransmiter yang berperan dalam mengatur suasana hati, tidur, dan emosi.

4. Bakteri Baik di Usus Ikut Berperan

Di dalam usus hidup triliunan mikroorganisme yang dikenal sebagai mikrobioma usus.

Bakteri baik ini membantu mencerna makanan, menghasilkan vitamin tertentu, serta menghasilkan berbagai senyawa yang berhubungan dengan fungsi otak.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa komposisi mikrobioma yang sehat berpotensi mendukung suasana hati dan fungsi kognitif. 

5. Usus Terus Berkomunikasi dengan Otak

Usus memiliki jaringan saraf sendiri yang sering dijuluki sebagai otak kedua. Komunikasi antara usus dan otak berlangsung melalui saraf vagus, yaitu jalur utama yang menghubungkan kedua organ tersebut.

Melalui jalur ini, berbagai informasi mengenai kondisi saluran pencernaan dikirim ke otak, termasuk respons terhadap makanan yang dikonsumsi.

Meski tidak ada istilah "usus yang benar-benar seimbang", beberapa penelitian menunjukkan bahwa pola makan dapat memengaruhi komunikasi antara usus dan otak.

6. Hormon Usus Membantu Mengatur Stres

Selain mengatur rasa lapar dan kenyang, hormon yang diproduksi saluran pencernaan juga berperan dalam respons tubuh terhadap stres.

Karena itu, makanan yang dikonsumsi setiap hari dapat memengaruhi bagaimana tubuh bereaksi terhadap tekanan, sekaligus memengaruhi perasaan setelah makan.

7. Otak Mengolah Semua Sinyal dari Usus

Setelah menerima berbagai pesan dari saluran pencernaan, otak akan mengolah informasi tersebut.

Hasil akhirnya dapat memengaruhi suasana hati, tingkat fokus, energi, hingga keseimbangan emosi.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kesehatan usus yang baik berpotensi mendukung kesehatan mental. Namun, para ahli masih terus meneliti seberapa besar pengaruh hubungan tersebut

Baca Juga: Mitos atau Fakta: Benarkah Mie Instan Bisa Menyebabkan Usus Buntu?

8. Pola Makan Jangka Panjang Ikut Menentukan Kesehatan Mental

Pola makan yang dijalani setiap hari akan membentuk kondisi mikrobioma usus dalam jangka panjang.

Mengonsumsi makanan kaya serat, makanan fermentasi, buah, sayuran, dan lemak sehat diketahui membantu menjaga kesehatan saluran pencernaan.

Sebaliknya, pola makan tinggi makanan ultra-proses, gula tambahan, dan rendah serat dikaitkan dengan meningkatnya risiko berbagai gangguan kesehatan, termasuk masalah kesehatan mental seperti depresi.

Meski demikian, pola makan bukan satu-satunya faktor yang memengaruhi kesehatan mental. Tidur, aktivitas fisik, stres, faktor genetik, serta lingkungan juga memiliki peran yang tidak kalah penting.

Menjaga Usus Berarti Ikut Menjaga Otak

Hubungan antara usus dan otak menunjukkan bahwa kesehatan tubuh tidak dapat dipisahkan dari kesehatan mental. Apa yang dikonsumsi setiap hari bukan hanya memberi energi, tetapi juga memengaruhi sistem yang mengatur emosi, konsentrasi, dan keseimbangan suasana hati.

Karena itu, mulai menerapkan pola makan bergizi seimbang, memperbanyak konsumsi serat, menjaga kesehatan mikrobioma usus, serta menerapkan gaya hidup sehat dapat menjadi langkah sederhana untuk mendukung kesehatan tubuh sekaligus kesehatan mental dalam jangka panjang.

(Azarine Nirwasita Zada, Magang Politeknik Negeri Madiun)

Editor : Tim Content Writer Radar Lawu
Sumber : medtronic.com
Kesehatan Usus Badmood Berawal Apa yang dimakan Hubungan Usus dan Otak Gut Brain Connection pola makan sehat