Masih Muda Kok Darah Tinggi? Ini Penyebab yang Sering Tak Disadari

Tim Content Writer Radar Lawu • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 15:42 WIB
Source: prodia
Source: prodia

Jawa Pos Radar Lawu - Orang lanjut usia sering dianggap memiliki penyakit. Padahal, kenyataannya semakin banyak orang berusia 20 hingga 40 tahun yang mulai mengalami tekanan darah tinggi. 

Kondisi ini kerap tidak disadari karena pada tahap awal sering kali tidak menimbulkan gejala yang jelas. Jika tidak terkontrol, hipertensi dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit serius, mulai dari serangan jantung, stroke, hingga gangguan ginjal.

Karena itu, penting untuk mengenali penyebabnya sejak dini agar risiko komplikasi dapat dicegah.

Apa Itu Hipertensi?

Hipertensi adalah kondisi ketika tekanan darah berada di atas batas normal secara konsisten. Di Indonesia, tekanan darah 140/90 mmHg atau lebih masih digunakan sebagai salah satu acuan diagnosis dalam praktik klinis, meski pedoman internasional tertentu menggunakan ambang yang lebih rendah pada beberapa kelompok pasien.

Hipertensi sering dijuluki sebagai silent killer karena banyak penderitanya tidak merasakan keluhan hingga terjadi kerusakan pada organ penting seperti jantung, otak, atau ginjal.

Mengapa Hipertensi Bisa Terjadi di Usia Muda?

Tekanan darah tinggi pada usia muda biasanya dipengaruhi oleh kombinasi faktor genetik, gaya hidup, dan kondisi kesehatan tertentu.

Berikut beberapa penyebab yang perlu diwaspadai.

1. Faktor Keturunan

Riwayat keluarga menjadi salah satu faktor yang tidak dapat diubah.

Seseorang yang memiliki orang tua atau saudara kandung dengan hipertensi memiliki risiko lebih tinggi mengalami kondisi yang sama dibandingkan mereka yang tidak memiliki riwayat tersebut.

Meski demikian, faktor genetik bukan satu-satunya penentu karena gaya hidup tetap berperan besar dalam mengendalikan risiko.

2. Obesitas atau Berat Badan Berlebih

Kelebihan berat badan membuat jantung harus bekerja lebih keras untuk memompa darah ke seluruh tubuh.

Semakin tinggi indeks massa tubuh (IMT), semakin besar pula risiko terjadinya hipertensi. Penumpukan lemak, terutama di area perut, juga dapat meningkatkan tekanan pada sistem pembuluh darah sehingga tekanan darah lebih mudah naik.

Menjaga berat badan tetap ideal menjadi salah satu langkah penting dalam mencegah hipertensi sejak usia muda.

Baca Juga: 7 Pilihan Olahraga untuk Penderita Hipertensi, Aman dan Efektif Menurunkan Tekanan Darah Tinggi

3. Merokok dan Konsumsi Alkohol Berlebihan

Kebiasaan merokok dapat merusak pembuluh darah dan menyebabkan penyempitan arteri. Nikotin juga memicu peningkatan tekanan darah serta denyut jantung dalam waktu singkat.

Sementara itu, konsumsi alkohol berlebihan dalam jangka panjang dapat meningkatkan tekanan darah dan memperbesar risiko penyakit jantung. Karena itu, menghentikan kebiasaan merokok dan membatasi konsumsi alkohol sangat dianjurkan untuk menjaga kesehatan kardiovaskular.

4. Penggunaan Obat-obatan Terlarang

Beberapa jenis narkotika dan zat stimulan seperti kokain, amfetamin, maupun ekstasi dapat menyebabkan lonjakan tekanan darah.

Jika digunakan berulang kali, zat-zat tersebut dapat meningkatkan risiko hipertensi kronis serta berbagai gangguan pada jantung dan pembuluh darah.

5. Terlalu Banyak Mengonsumsi Garam

Asupan natrium yang berlebihan merupakan salah satu penyebab tekanan darah tinggi yang paling sering ditemukan.

Natrium membuat tubuh menahan lebih banyak cairan sehingga volume darah meningkat. Akibatnya, jantung harus bekerja lebih keras dan tekanan di dalam pembuluh darah ikut meningkat.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menganjurkan konsumsi garam kurang dari 5 gram per hari atau sekitar satu sendok teh untuk membantu menurunkan risiko hipertensi dan penyakit kardiovaskular.

6. Kurang Bergerak dan Pola Makan Tidak Sehat

Gaya hidup sedentari atau jarang beraktivitas fisik dapat meningkatkan risiko hipertensi. Sebaliknya, olahraga rutin membantu menjaga elastisitas pembuluh darah, memperkuat kerja jantung, dan mengontrol berat badan.

Selain itu, pola makan tinggi makanan olahan, lemak jenuh, gula, dan rendah buah serta sayuran juga dapat memperbesar risiko tekanan darah tinggi.

American Heart Association (AHA) merekomendasikan orang dewasa melakukan aktivitas aerobik intensitas sedang selama 150 menit setiap minggu, ditambah latihan kekuatan setidaknya dua hari dalam seminggu.

7. Memiliki Penyakit Tertentu

Pada sebagian orang, hipertensi dapat muncul sebagai akibat dari penyakit lain atau dikenal sebagai hipertensi sekunder. Beberapa kondisi yang dapat memicu tekanan darah tinggi meliputi:

Mengobati penyakit yang mendasari dapat membantu mengendalikan tekanan darah.

8. Efek Samping Obat Tertentu

Beberapa jenis obat juga dapat meningkatkan tekanan darah pada sebagian orang. Contohnya antara lain:

  1. Pil kontrasepsi yang mengandung estrogen.
  2. Obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS).
  3. Beberapa jenis antidepresan.
  4. Dekongestan tertentu.

Apabila tekanan darah meningkat setelah mengonsumsi obat tertentu, jangan menghentikan obat secara sepihak. Konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Baca Juga: Punya Riwayat Penyakit Jantung? Ini Cara Aman Memilih Olahraga agar Jantung Tetap Sehat Tanpa Risiko

Cara Mencegah Hipertensi Sejak Usia Muda

Risiko hipertensi dapat dikurangi melalui perubahan gaya hidup yang sehat, antara lain:

Kapan Harus Memeriksakan Diri?

Hipertensi sering kali tidak menimbulkan gejala sehingga pemeriksaan tekanan darah secara rutin menjadi cara terbaik untuk mendeteksinya.

Segera konsultasikan ke dokter jika hasil pengukuran tekanan darah berulang menunjukkan angka tinggi atau jika mengalami keluhan seperti sakit kepala hebat, nyeri dada, sesak napas, gangguan penglihatan, atau mimisan yang disertai tekanan darah sangat tinggi.

Jangan Tunggu Sampai Terjadi Komplikasi

Tekanan darah tinggi bukan hanya masalah yang dialami lansia. Pola hidup modern membuat hipertensi semakin sering ditemukan pada usia produktif.

Sebagian besar faktor risiko hipertensi dapat dikendalikan melalui pola makan sehat, olahraga teratur, menjaga berat badan, serta menghindari kebiasaan yang merusak kesehatan. 

Dengan deteksi dini dan perubahan gaya hidup, risiko komplikasi serius di kemudian hari dapat ditekan.

(Azarine Nirwasita Zada, Magang Politeknik Negeri Madiun)

 

Editor : Tim Content Writer Radar Lawu
Sumber : siloamhospitals.com
Mencegah Hipertensi Sejak Usia Muda Terjadi Komplikasi hipertensi darah tinggi kesehatan jantung