Jawa Pos Radar Lawu - Pernah berniat membuka media sosial hanya beberapa menit, tetapi tanpa sadar waktu berlalu hingga satu jam? Kebiasaan menggulir layar tanpa tujuan kini menjadi bagian dari rutinitas banyak orang.
Meski terlihat sepele, perilaku tersebut mulai dikaitkan dengan fenomena brain rot, yakni kondisi diduga dapat memengaruhi kemampuan otak dalam berkonsentrasi, berpikir kritis, hingga memunculkan ide-ide kreatif.
Brain rot memang belum dikategorikan sebagai penyakit medis. Namun, istilah ini semakin sering digunakan untuk menggambarkan penurunan fungsi kognitif akibat terlalu sering mengonsumsi konten digital yang singkat, cepat, dan minim informasi.
Kebiasaan tersebut membuat otak terus mencari rangsangan instan sehingga semakin sulit bertahan pada aktivitas yang membutuhkan perhatian lebih lama.
Apa Itu Brain Rot?
Brain rot merupakan istilah yang merujuk pada menurunnya kemampuan otak untuk fokus, menganalisis informasi secara mendalam, dan berpikir kreatif akibat paparan konten digital secara terus-menerus.
Fenomena ini banyak dikaitkan dengan kebiasaan menonton video pendek, menggulir media sosial tanpa henti, atau berpindah dari satu konten ke konten lain dalam waktu singkat.
Akibatnya, seseorang menjadi lebih sulit mempertahankan konsentrasi dan melakukan proses berpikir yang membutuhkan analisis mendalam.
Dampak Brain Rot terhadap Kemampuan Otak
Paparan konten instan yang berlangsung terus-menerus dapat memberikan sejumlah dampak terhadap kesehatan mental maupun kemampuan kognitif. Beberapa di antaranya meliputi:
1. Konsentrasi Menjadi Mudah Teralihkan
Kebiasaan berpindah dari satu konten ke konten lainnya membuat otak terbiasa menerima rangsangan dalam waktu singkat. Akibatnya, fokus saat bekerja, belajar, atau membaca menjadi lebih mudah terganggu.
2. Kemampuan Berpikir Kritis Menurun
Konten yang dikemas secara singkat sering kali hanya menyajikan informasi permukaan.
Jika terus dikonsumsi tanpa diimbangi bacaan yang lebih mendalam, kemampuan menganalisis persoalan dapat berkurang sehingga seseorang lebih mudah bereaksi berdasarkan emosi.
3. Kreativitas Tidak Berkembang Maksimal
Otak membutuhkan waktu untuk beristirahat dan memproses berbagai informasi sebelum menghasilkan ide baru. Kebiasaan scrolling tanpa jeda justru mengurangi kesempatan otak untuk melakukan proses tersebut.
4. Berisiko Memengaruhi Kesehatan Mental
Media sosial juga dapat memicu rasa cemas, stres, hingga rendah diri ketika seseorang terus membandingkan kehidupannya dengan standar yang tampak sempurna di dunia digital.
Cara Mengurangi Risiko Brain Rot
Mengubah kebiasaan digital memang tidak mudah, tetapi dapat dimulai dari langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten.
Atur Ulang Konten yang Muncul di Media Sosial
Manfaatkan fitur seperti "tidak tertarik" pada platform media sosial untuk mengurangi kemunculan konten yang kurang bermanfaat.
Sebaliknya, ikuti akun yang menghadirkan informasi edukatif atau inspiratif agar algoritma menampilkan konten yang lebih berkualitas.
Luangkan Waktu untuk Membaca dan Meditasi
Membaca buku selama beberapa menit setiap hari dapat membantu melatih konsentrasi. Selain itu, meditasi sekitar 10–15 menit juga bermanfaat untuk meningkatkan fokus sekaligus mengurangi stres.
Batasi Durasi Penggunaan Handphone
Menentukan batas waktu penggunaan media sosial dapat membantu mengurangi kebiasaan scrolling tanpa tujuan. Sisihkan waktu tertentu dalam sehari untuk benar-benar beristirahat dari layar.
Isi Waktu Luang dengan Aktivitas Produktif
Daripada terus membuka media sosial, manfaatkan waktu untuk mempelajari keterampilan baru, seperti bahasa asing, memasak, desain, atau pemrograman. Aktivitas tersebut dapat membantu menjaga kemampuan berpikir tetap aktif.
Terapkan Digital Detox
Cobalah mengurangi penggunaan smartphone secara bertahap. Misalnya, mulai dengan tidak menggunakan gawai selama satu jam setiap hari, lalu tingkatkan durasinya secara perlahan sesuai kebutuhan.
Baca Juga: Awas! Berikut 6 Tanda Kamu Alami Brain Rot, Otak Lemot Gegara Konten Receh Media Sosial
Tantangan untuk Mengubah Kebiasaan
- Hindari penggunaan gadget selama satu jam setiap hari.
- Biasakan membaca buku minimal 10 menit setiap hari.
- Evaluasi kembali konten yang dikonsumsi dan pilih informasi yang memberi manfaat jangka panjang.
- Berikan waktu bagi otak untuk beristirahat tanpa gangguan notifikasi maupun media sosial.
Bijak Menggunakan Teknologi
Brain rot menjadi pengingat bahwa cara kita menggunakan teknologi juga memengaruhi kesehatan otak.Dengan membatasi waktu layar, memilih konten yang berkualitas, serta meluangkan waktu untuk membaca maupun melakukan aktivitas produktif, kita dapat menjaga fungsi otak tetap optimal.
Langkah kecil yang dilakukan secara konsisten akan membantu membangun kebiasaan digital yang lebih sehat sekaligus meningkatkan kualitas hidup di era serba terkoneksi ini.
(Azarine Nirwasita Zada, Magang Politeknik Negeri Madiun)
Sumber : melintas.id