Jawa Pos Radar Lawu - Takut makan nasi mungkin terdengar tidak biasa bagi sebagian orang.
Namun, kondisi tersebut benar-benar ada dan dikenal dengan istilah ryziphobia, yaitu ketakutan berlebih terhadap nasi, baik dari bentuk, tekstur, maupun persepsi tertentu yang melekat pada makanan pokok tersebut.
Sebagai salah satu sumber karbohidrat utama, nasi menjadi makanan sehari-hari bagi masyarakat Indonesia.
Karena itu, munculnya fobia terhadap nasi sering kali dianggap aneh, padahal kondisi ini bisa dialami siapa saja, termasuk anak-anak.
Baca Juga: 5 Manfaat Buah Naga untuk Kesehatan yang Paling Penting dan Efek Sampingnya
Apa Itu Ryziphobia?
Ryziphobia merupakan salah satu jenis fobia spesifik yang ditandai dengan rasa takut berlebihan terhadap nasi.
Penderitanya cenderung menghindari nasi karena merasa jijik, takut, atau tidak nyaman dengan bentuk maupun teksturnya.
Pada anak-anak, ketakutan ini biasanya muncul karena persepsi visual. Nasi sering dianggap menyerupai ulat atau benda kecil yang menjijikkan.
Selain itu, tekstur nasi yang lembek dan mudah menempel di tangan juga bisa memicu rasa tidak nyaman.
Ryziphobia juga berkaitan dengan cibophobia, yaitu ketakutan terhadap makanan secara umum.
Dalam beberapa kasus, keduanya dapat saling berkaitan.
Penyebab Ryziphobia
Ada beberapa faktor yang dapat memicu munculnya ryziphobia, antara lain:
- Memiliki riwayat gangguan makan sejak dini
- Kekhawatiran berlebihan terhadap kenaikan berat badan
- Sensitivitas terhadap tekstur makanan, khususnya nasi
- Rasa jijik terhadap bentuk nasi
- Pengalaman traumatis di masa lalu, terutama pada anak
- Persepsi negatif yang terbentuk dari lingkungan sekitar
Faktor psikologis dan pengalaman pribadi memiliki peran besar dalam terbentuknya fobia ini.
Gejala Ryziphobia
Seperti fobia pada umumnya, ryziphobia dapat menimbulkan berbagai gejala fisik maupun psikologis saat penderitanya berhadapan dengan nasi, di antaranya:
- Jantung berdebar kencang
- Sesak napas
- Tekanan darah meningkat
- Gemetar atau tubuh bergetar
- Mual hingga muntah
- Pusing
- Keringat berlebih
- Mulut kering
- Sakit perut
- Kesulitan berbicara atau panik
Gejala ini muncul sebagai respons tubuh terhadap rasa takut yang berlebihan dan tidak rasional.
Baca Juga: Sulit BAB karena Sembelit? Ini 6 Makanan Alami yang Ampuh Melancarkan Pencernaan secara Alamiah
Cara Mengatasi Ryziphobia
Mengatasi ryziphobia membutuhkan pendekatan bertahap, terutama jika dialami oleh anak-anak.
Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan:
1. Ajak Makan Bersama
Orang tua dapat memberikan contoh dengan makan nasi bersama anak. Tunjukkan ekspresi menikmati makanan agar anak mendapatkan persepsi positif terhadap nasi.
2. Kombinasikan dengan Makanan Favorit
Campurkan nasi dengan makanan yang disukai anak. Cara ini membantu anak beradaptasi secara perlahan dengan rasa dan tekstur nasi.
3. Sajikan dengan Bentuk Menarik
Bentuk nasi menjadi karakter lucu atau tampilan kreatif agar anak lebih tertarik mencoba tanpa merasa takut.
4. Ciptakan Suasana Makan yang Berbeda
Mengubah suasana makan, seperti di tempat baru atau dengan konsep menyenangkan, dapat membantu mengalihkan fokus anak dari rasa takut.
5. Berikan Alternatif Karbohidrat
Jika anak masih menolak nasi, kebutuhan nutrisi tetap harus terpenuhi melalui sumber karbohidrat lain seperti kentang, gandum, pasta, atau umbi-umbian.
Baca Juga: 7 Makanan Super Penambah Tinggi Badan: Nutrisi yang Bisa Maksimalkan Pertumbuhan di Usia Remaja!
Penanganan Medis dan Psikologis
Pada kasus yang lebih serius, ryziphobia dapat ditangani melalui pendekatan profesional, seperti:
- Terapi Perilaku Kognitif (CBT) untuk mengubah pola pikir negatif
- Terapi paparan untuk membiasakan diri dengan objek yang ditakuti
- Hipnoterapi untuk mengurangi respons emosional
- Penggunaan obat-obatan tertentu dalam kondisi tertentu sesuai anjuran tenaga medis
Dengan penanganan yang tepat, penderita ryziphobia dapat kembali membangun hubungan yang sehat dengan makanan, termasuk nasi.
Ryziphobia mungkin terdengar unik, tetapi kondisi ini nyata dan dapat memengaruhi pola makan serta kesehatan seseorang.
Pemahaman yang tepat serta pendekatan yang sabar menjadi kunci utama dalam membantu penderitanya mengatasi rasa takut tersebut.(*)
*Nizaria Kusumastuti, Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya
Editor : Mizan Ahsani