Jawa Pos Radar Lawu - Wabah hantavirus yang muncul di kapal pesiar MV Hondius memicu kekhawatiran masyarakat global.
Banyak yang bertanya-tanya, apakah virus ini berpotensi menjadi pandemi baru seperti Covid-19?
Kekhawatiran ini muncul karena dalam klaster tersebut terdapat sejumlah kasus serius, termasuk korban meninggal dunia.
Namun, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memberikan penjelasan yang cukup menenangkan terkait situasi ini.
WHO Tegaskan Hantavirus Bukan Ancaman Pandemi Global
WHO menegaskan bahwa hantavirus tidak memiliki karakteristik penyebaran seperti virus penyebab pandemi global, misalnya Covid-19 atau influenza.
Direktur Penanganan Epidemi dan Pandemi WHO, Maria Van Kerkhove, menyatakan bahwa masyarakat tidak perlu panik berlebihan.
Ia menegaskan bahwa pola penularan hantavirus sangat berbeda dan jauh lebih terbatas.
“Ini bukan COVID, ini bukan influenza. Penyebarannya sangat, sangat berbeda,” tegasnya dalam konferensi pers, Kamis (7/5/2026).
Dengan kata lain, hingga saat ini hantavirus dinilai tidak berpotensi menjadi pandemi global.
Baca Juga: Heboh Kasus Hantavirus di Kapal Pesiar MV Hondius, WHO Pastikan Risiko Pandemi Global Masih Rendah
Kronologi Wabah Hantavirus di MV Hondius
Kasus hantavirus yang menjadi sorotan dunia terjadi di kapal pesiar MV Hondius. Dari total delapan kasus yang teridentifikasi:
- Lima kasus telah terkonfirmasi
- Tiga lainnya masih dalam status dugaan
- Tiga pasien dilaporkan meninggal dunia
Para ahli menduga kasus pertama berasal dari seorang penumpang yang terpapar virus sebelum naik ke kapal, kemungkinan saat melakukan aktivitas di area yang terkontaminasi hewan pengerat di Ushuaia, Argentina.
Lingkungan tertutup seperti kapal pesiar diduga memperbesar risiko penularan dalam jarak dekat.
Bagaimana Cara Penularan Hantavirus?
Hantavirus umumnya tidak menyebar seperti virus pernapasan biasa. Penularannya terjadi melalui:
- Paparan urine, kotoran, atau air liur tikus
- Partikel virus yang terhirup melalui udara
Jenis yang ditemukan dalam kasus ini adalah Andes virus, varian langka yang diketahui bisa menular antar manusia.
Namun, tingkat penularannya tetap jauh lebih rendah dibandingkan Covid-19.
Baca Juga: Trik Mahasiswa Semester Akhir Menyeimbangkan Skripsi dan Magang Tanpa Burnout di 2026
Gejala Hantavirus yang Perlu Diwaspadai
Infeksi hantavirus dapat menyebabkan penyakit serius seperti Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang paru-paru.
Gejala awal meliputi:
- Demam dan kelelahan
- Nyeri otot
- Sakit kepala dan pusing
- Mual, muntah, atau diare
Dalam kondisi yang lebih parah, pasien dapat mengalami:
- Batuk dan sesak napas
- Paru-paru terisi cairan
- Gangguan pernapasan serius
Tingkat kematian pada kasus berat bahkan bisa mencapai sekitar 38 persen.
Selain itu, hantavirus juga dapat menyebabkan Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang menyerang ginjal dan sistem peredaran darah.
Apakah Hantavirus Berbahaya bagi Masyarakat Umum?
Meski terdengar mengkhawatirkan, para ahli menegaskan bahwa risiko bagi masyarakat umum masih sangat rendah.
Penularan tidak terjadi melalui interaksi sosial sehari-hari seperti:
- Berada di tempat umum
- Berbelanja
- Bekerja di kantor
Kasus yang terjadi saat ini lebih bersifat terbatas dan terkait dengan kondisi lingkungan tertentu.
Cara Mencegah Infeksi Hantavirus
Langkah pencegahan utama adalah menghindari kontak dengan hewan pengerat dan lingkungannya.
Beberapa cara yang bisa dilakukan:
- Menjaga kebersihan rumah dan lingkungan
- Menutup celah yang memungkinkan tikus masuk
- Menghindari area yang terkontaminasi kotoran tikus
- Menggunakan perangkap tikus jika diperlukan
Jika mengalami gejala setelah kemungkinan terpapar, segera periksa ke fasilitas kesehatan untuk penanganan lebih lanjut.
Kesimpulan: Tidak Perlu Panik, Tetap Waspada
Wabah hantavirus di kapal MV Hondius memang menimbulkan kekhawatiran.
Namun, berdasarkan penjelasan WHO, virus ini tidak memiliki potensi menjadi pandemi global seperti Covid-19.
Masyarakat diimbau untuk tetap tenang, tidak panik, dan fokus pada langkah pencegahan sederhana.
Kewaspadaan tetap penting, tetapi situasi ini belum menunjukkan tanda-tanda ancaman pandemi besar.(*)
*Nizaria Kusumastuti, Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya
Editor : Mizan Ahsani