Jawa Pos Radar Lawu - Kemunculan kasus hantavirus di kapal pesiar MV Hondius yang berlayar di Samudra Atlantik memicu kekhawatiran masyarakat internasional terkait potensi wabah baru.
Namun, Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menegaskan bahwa risiko penyebaran virus tersebut secara global masih tergolong rendah.
Kasus ini menjadi sorotan setelah delapan penumpang dan awak kapal dinyatakan terinfeksi hantavirus strain Andes.
Dari jumlah tersebut, tiga orang dilaporkan meninggal dunia.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyebut situasi saat ini masih terkendali dan belum menunjukkan ancaman kesehatan masyarakat secara luas.
“Pada tahap ini, risiko kesehatan masyarakat terkait hantavirus relatif rendah,” ujar Tedros melalui platform media sosial X.
Baca Juga: Hujan Meteor Eta Aquarid Capai Puncak 5-6 Mei 2026 di Indonesia
Kasus Hantavirus di Kapal Pesiar MV Hondius
WHO sebelumnya mengonfirmasi bahwa strain hantavirus Andes terdeteksi pada kapal pesiar MV Hondius yang sedang berlayar di sekitar Samudra Atlantik.
Hasil diagnosis diperoleh melalui pemeriksaan laboratorium di Afrika Selatan dan Swiss.
Awalnya ditemukan tujuh kasus, kemudian bertambah menjadi delapan setelah seorang pasien yang kembali ke Swiss dinyatakan positif.
Situasi ini memicu respons cepat dari pemerintah Spanyol yang memutuskan menerima kapal tersebut untuk bersandar di Kepulauan Canary demi proses evakuasi dan penanganan medis.
Spanyol Siapkan Jalur Khusus Penanganan Penumpang
Setibanya di Kepulauan Canary, seluruh penumpang dan kru kapal akan menjalani pemeriksaan kesehatan ketat.
Pemerintah Spanyol juga menyiapkan fasilitas khusus dan sistem transportasi tersendiri guna mencegah kontak langsung dengan masyarakat setempat.
Langkah tersebut dilakukan berdasarkan protokol WHO bersama European Centre for Disease Prevention and Control atau ECDC untuk memastikan keselamatan selama proses penanganan berlangsung.
Apa Itu Hantavirus?
Hantavirus merupakan kelompok virus zoonosis yang ditularkan melalui hewan pengerat seperti tikus.
Menurut WHO, virus ini dapat menyebabkan penyakit serius pada manusia, terutama gangguan pernapasan dan kerusakan organ vital.
Secara umum, terdapat dua jenis utama penyakit akibat hantavirus, yakni:
- Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS/HCPS) yang banyak ditemukan di Benua Amerika dan menyerang paru-paru.
- Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang lebih umum terjadi di Eropa dan Asia serta menyerang ginjal dan pembuluh darah.
Strain Andes yang ditemukan di kapal pesiar diketahui termasuk jenis yang berpotensi menimbulkan gangguan pernapasan berat.
Baca Juga: Super Flu Virus Masuk Indonesia? Ini Penjelasan Kemenkes Soal Vaksin Influenza
Cara Penularan Hantavirus
Penularan hantavirus umumnya terjadi akibat kontak dengan urine, kotoran, atau air liur tikus yang terinfeksi.
Virus dapat masuk ke tubuh manusia melalui beberapa cara, antara lain:
- Menghirup partikel udara yang terkontaminasi kotoran tikus
- Menyentuh area tercemar lalu menyentuh wajah tanpa mencuci tangan
- Gigitan tikus yang membawa virus
- Kontak dekat berkepanjangan pada beberapa kasus strain Andes
Meski demikian, penularan antarmanusia tergolong sangat jarang terjadi.
Gejala Hantavirus yang Perlu Diwaspadai
Gejala hantavirus biasanya muncul dalam satu hingga delapan minggu setelah terpapar virus.
Pada tahap awal, gejalanya mirip flu biasa seperti:
- Demam tinggi
- Menggigil
- Nyeri otot
- Sakit kepala
- Mual dan muntah
- Diare
Namun dalam kondisi yang lebih parah, penderita dapat mengalami sesak napas akut akibat paru-paru terisi cairan.
Jika tidak segera ditangani, kondisi tersebut dapat menyebabkan gagal napas hingga kematian.
Cara Mencegah Infeksi Hantavirus
Hingga kini belum tersedia vaksin maupun obat antivirus khusus untuk hantavirus.
Karena itu, langkah pencegahan menjadi cara terbaik untuk menghindari infeksi.
Beberapa langkah yang dianjurkan antara lain:
- Menjaga kebersihan rumah dan lingkungan
- Menutup akses masuk tikus
- Menyimpan makanan dalam wadah tertutup
- Menggunakan masker dan sarung tangan saat membersihkan area kotor
- Tidak menyapu kering kotoran tikus agar partikel virus tidak beterbangan di udara
Masyarakat juga diminta segera memeriksakan diri apabila mengalami gejala setelah kontak dengan area yang berisiko terkontaminasi tikus.(*)
*Nizaria Kusumastuti, Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya
Editor : Mizan Ahsani