Jawa Pos Radar Lawu - Kecelakaan kereta api yang terjadi di Bekasi Timur tak hanya menimbulkan korban jiwa dan luka fisik, tetapi juga menyisakan dampak serius terhadap kesehatan mental para penyintas.
Psikolog menyebut, trauma akibat kecelakaan kereta dapat berkembang menjadi gangguan psikologis seperti kecemasan, serangan panik, hingga depresi jika tidak ditangani dengan tepat.
Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim, M.Psi., Psikolog, mengatakan setiap individu memiliki respons berbeda setelah mengalami peristiwa traumatis.
“Setelah mengalami kecelakaan, mungkin saja seseorang mengalami gangguan stres pascatrauma.
Namun, tidak semua individu akan berkembang menjadi PTSD,” ujarnya, Selasa (28/4/2026).
Trauma Kecelakaan Picu Beragam Gejala Psikologis
Menurutnya, pengalaman kecelakaan dapat memicu berbagai respons psikologis, mulai dari kecemasan ringan hingga gangguan stres pascatrauma atau Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD).
Gejala yang muncul pun beragam, seperti rasa cemas berlebihan, jantung berdebar saat berada di keramaian, hingga kesulitan berkonsentrasi yang membuat korban tampak linglung.
Selain itu, korban juga bisa mengalami ketakutan terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kejadian, seperti suara kereta atau situasi perjalanan.
Dalam beberapa kasus, mereka bahkan cenderung menghindari moda transportasi tertentu.
Baca Juga: Kecelakaan kereta di Bekasi Timur, KAI ungkap jumlah korban meninggal dunia
Risiko Serangan Panik dan Gangguan Aktivitas
Trauma juga dapat memicu serangan panik secara tiba-tiba. Kondisi ini ditandai dengan gejala seperti sesak napas, keringat dingin, serta rasa takut yang intens tanpa penyebab yang jelas.
“Panic attack bisa muncul tiba-tiba, misalnya saat berada di tempat ramai atau ketika teringat kejadian,” jelasnya.
Akibatnya, korban menjadi takut untuk beraktivitas seperti biasa dan cenderung menarik diri dari lingkungan sosial.
Trauma Berpotensi Berkembang Menjadi Depresi
Dalam kondisi tertentu, trauma yang tidak tertangani dengan baik dapat berkembang menjadi depresi.
Hal ini ditandai dengan perasaan sedih berkepanjangan, kehilangan minat terhadap aktivitas, hingga isolasi sosial.
Psikolog menekankan bahwa pengalaman traumatis bersifat subjektif, sehingga proses pemulihan setiap individu tidak bisa disamaratakan.
Trauma Kecelakaan Berisiko Menjadi PTSD
Sementara itu, psikolog klinis Ratih Ibrahim, M.M., Psikolog, menegaskan bahwa trauma akibat kecelakaan kereta memiliki risiko besar berkembang menjadi PTSD, terutama pada korban yang mengalami langsung peristiwa tersebut.
“Trauma kecelakaan berpotensi sangat besar untuk berkembang menjadi PTSD, terutama jika korban berada dalam situasi yang mengancam nyawa,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kecelakaan yang terjadi secara tiba-tiba dapat memicu guncangan psikologis yang intens, termasuk munculnya kilas balik atau flashback terhadap kejadian.
Korban bisa terus mengingat peristiwa tersebut seolah-olah terjadi kembali, bahkan dalam jangka waktu lama hingga mengganggu aktivitas sehari-hari.
Pentingnya Penanganan Trauma Sejak Dini
Jika gejala trauma berlangsung lebih dari satu bulan, kondisi tersebut berpotensi berkembang menjadi PTSD dan membutuhkan penanganan profesional.
Ratih juga menekankan bahwa trauma tidak memandang jenis kelamin.
Namun, faktor sosial, ekonomi, dan budaya dapat memengaruhi tingkat keparahan serta memperlambat proses pemulihan.
Kecelakaan kereta di Bekasi Timur yang melibatkan korban jiwa dan luka-luka menjadi pengingat bahwa dampak bencana tidak hanya terlihat secara fisik, tetapi juga mental.
Para ahli mengingatkan pentingnya dukungan lingkungan dan penanganan psikologis yang tepat agar korban dapat pulih dan kembali menjalani aktivitas secara normal.(*)
*Nizaria Kusumastuti, Universitas Negeri Surabaya
Editor : Mizan Ahsani