Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Intermittent Fasting Benarkah Lebih Sehat? Dokter Harvard Bongkar Fakta Ilmiah yang Jarang Dibahas

Rimba Febriani • Sabtu, 24 Januari 2026 | 11:55 WIB
Kenali pola dan melaksanakan diet Intermittent Fasting.
Kenali pola dan melaksanakan diet Intermittent Fasting.

Jawa Pos Radar Lawu - Intermittent fasting atau puasa berselang kerap disebut sebagai pola makan “ajaib”.

Mulai dari klaim penurunan berat badan cepat, jantung lebih sehat, hingga usia lebih panjang, metode ini ramai dipromosikan sebagai solusi praktis gaya hidup modern.

Namun, benarkah intermittent fasting benar-benar unggul secara ilmiah?

Dokter spesialis gastroenterologi Trisha Pasricha, MD, menyebut kenyataannya tidak sesederhana yang sering beredar di media sosial.

Pasricha merupakan physician-scientist di Beth Israel Deaconess Medical Center, asisten profesor di Harvard Medical School, sekaligus kolumnis kesehatan di The Washington Post.

Dalam sebuah video Instagram yang dibagikan The Washington Post pada 17 Januari, Pasricha mengulas dasar ilmiah intermittent fasting dan mempertanyakan klaim besar yang selama ini dilekatkan pada metode tersebut.

Apakah Intermittent Fasting Benar-Benar Efektif?

Berbeda dari diet konvensional, intermittent fasting tidak membatasi jenis makanan, melainkan waktu makan.

Pola yang umum dilakukan antara lain makan hanya dalam jendela delapan jam per hari, atau berpuasa satu hingga dua hari dalam sepekan.

Pasricha mengakui bahwa metode ini memang bisa membantu penurunan berat badan dalam jangka pendek.

Namun, ia menegaskan bahwa efek tersebut sering kali tidak bertahan lama.

“Jika Anda mendengar bahwa intermittent fasting adalah cara ampuh untuk menurunkan berat badan atau memperpanjang usia, saya ingin mengatakan bahwa sains belum mendukung klaim tersebut,” ujarnya.

Menurutnya, sejumlah studi menunjukkan penurunan berat badan hanya berlangsung beberapa bulan. Setelah pola ini dihentikan, berat badan kerap kembali naik.

Hingga kini, belum ada bukti kuat pada manusia yang menunjukkan intermittent fasting dapat mencegah penyakit jantung, kanker, atau memperpanjang usia.

Baca Juga: 7 Cara Mencegah Cedera saat Olahraga agar Hasil Latihan Maksimal Tanpa Risiko

Masalah Utama: Sulit Bertahan Lama

Salah satu tantangan terbesar intermittent fasting adalah aturan waktunya yang ketat. Batasan jam makan sering berbenturan dengan jadwal kerja, aktivitas sosial, hingga kebutuhan keluarga.

Akibatnya, banyak orang kesulitan menjalani metode ini secara konsisten dalam jangka panjang. Pasricha menilai, manfaat yang sering diklaim dari intermittent fasting sebenarnya bisa dicapai melalui pola makan yang lebih fleksibel dan realistis.

Alternatif Lebih Sederhana dan Terbukti Secara Ilmiah

Alih-alih berpuasa berselang secara ketat, Pasricha merekomendasikan dua kebiasaan makan sederhana yang lebih mudah dipertahankan dan memiliki manfaat serupa.

1. Sarapan dalam satu jam setelah bangun tidur

Ia menyarankan sarapan tinggi serat dan protein, bukan makanan manis seperti pastry atau sereal bergula.

“Penelitian menunjukkan bahwa sarapan berkualitas tinggi dapat mengurangi kebiasaan ngemil berlebihan di sore hari,” jelasnya.

2. Hentikan makan dua hingga tiga jam sebelum tidur

Makan larut malam dikaitkan dengan gangguan pembakaran kalori dan peningkatan penyimpanan lemak. Mengakhiri makan lebih awal membantu metabolisme bekerja lebih optimal dan menurunkan risiko obesitas.

Jenis Makanan Tetap Jadi Kunci Utama

Pasricha menekankan bahwa kualitas makanan jauh lebih penting daripada jam makan. Pola makan yang kaya buah, sayuran, kacang-kacangan, biji-bijian utuh, serta rendah makanan ultra-proses memiliki bukti ilmiah paling kuat untuk mendukung kesehatan jangka panjang.

Intermittent fasting mungkin cocok bagi sebagian orang, tetapi bukan solusi ajaib untuk semua. Bagi kebanyakan orang, membangun kebiasaan makan sehat yang fleksibel, seimbang, dan berkelanjutan justru menjadi fondasi utama hidup sehat. (fin)

Editor : AA Arsyadani
#Intermittent fasting #intermittent fasting untuk menurunkan berat badan #Intermittent fasting penelitian terbaru