Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Anak Demam Jangan Langsung Panik! Dokter Anak Ingatkan Obat Penurun Panas Tak Selalu Diperlukan

Rimba Febriani • Sabtu, 24 Januari 2026 | 08:55 WIB
Panik saat anak demam? Tenang, ini langkah alami dan aman untuk bantu turunkan suhu tubuh anak tanpa harus langsung ke rumah sakit.
Panik saat anak demam? Tenang, ini langkah alami dan aman untuk bantu turunkan suhu tubuh anak tanpa harus langsung ke rumah sakit.

Jawa Pos Radar Lawu - Demam pada anak sering kali membuat orang tua langsung cemas dan buru-buru memberikan obat penurun panas.

Padahal, menurut Dokter Spesialis Anak RSUD Pasar Rebo, dr. Arifianto, reaksi tersebut tidak selalu diperlukan, terutama jika kondisi anak masih terlihat nyaman dan aktif.

Arifianto menegaskan bahwa paracetamol atau ibuprofen bukan kewajiban setiap kali anak demam.

Pemberian obat baru dianjurkan bila demam disertai rasa tidak nyaman yang nyata.

“Paracetamol atau ibuprofen diberikan hanya bila anak demam dan terlihat tidak nyaman atau rewel terus,” ujar Arifianto.

Ia menjelaskan bahwa demam sejatinya merupakan mekanisme alami tubuh untuk melawan infeksi, khususnya virus.

Peningkatan suhu tubuh justru membantu sistem imun bekerja lebih optimal.

“Demam itu tujuannya satu, agar sistem imun bekerja optimal dan mencegah virus berkembang,” jelasnya.

 

Karena itu, orang tua tidak perlu langsung panik meski suhu tubuh anak cukup tinggi.

Selama anak masih mau bermain, aktif, dan tidak menunjukkan tanda bahaya, demam belum tentu harus diturunkan dengan obat.

Arifianto mencontohkan, anak dengan suhu tubuh tinggi namun tetap bergerak lincah dan beraktivitas normal masih bisa dipantau tanpa pemberian paracetamol.

Yang terpenting adalah memantau kondisi anak secara menyeluruh, bukan hanya fokus pada angka di termometer.

Meski demikian, kewaspadaan tetap diperlukan.

Orang tua diminta rutin mengamati kondisi pernapasan anak, memastikan kecukupan cairan, serta mewaspadai kemungkinan kejang.

“Sambil diawasi, apakah anak mengalami dehidrasi atau sesak napas,” ujarnya.

Dalam kasus flu atau pilek, demam pada anak masih tergolong wajar dan dapat ditoleransi hingga sekitar tujuh hari, selama tidak disertai gejala kegawatdaruratan.

Anak yang demam selama tiga hari disertai batuk dan pilek, namun tetap aktif, tidak sesak napas, tidak dehidrasi, dan tidak mengalami kejang, masih bisa dirawat di rumah dengan pemantauan.

Namun, jika demam berlangsung lebih dari tujuh hari, orang tua disarankan segera mencari pertolongan medis untuk mengetahui penyebab pastinya.

“Harus dicari tahu apakah ada kemungkinan infeksi lain yang membuat demamnya bertahan,” kata Arifianto.

Selama masa sakit, anak dianjurkan mendapatkan cukup cairan dan istirahat.

Orang tua juga diminta tidak menunda ke fasilitas kesehatan jika muncul tanda serius seperti sesak napas atau kejang, karena kondisi tersebut membutuhkan penanganan medis segera, termasuk kemungkinan pemberian oksigen atau infus.

Dengan pemahaman yang tepat, orang tua dapat lebih tenang menghadapi demam pada anak dan tidak tergesa-gesa memberikan obat tanpa indikasi yang jelas. (fin)

Editor : AA Arsyadani
#demam #demam 10 hari #anak demam #demam anak