Jawa Pos Radar Lawu - Banyak orang beranggapan bahwa air minum kemasan lebih bersih dan aman dibanding air keran.
Padahal, di sejumlah negara maju, tap water justru mengikuti standar pengujian yang lebih ketat.
Iklan sering menampilkan air kemasan sebagai pilihan murni dan sehat, padahal ada sejumlah risiko yang perlu diperhatikan.
Menurut Muhammad Wakil Shahzad, Profesor dan Ketua Bidang Energi Terbarukan dan Keberlanjutan di Departemen Teknik Mesin, Northumbria University, anggapan bahwa air kemasan lebih aman tidak sepenuhnya benar.
1. Risiko Kesehatan dari Air Kemasan
Air minum kemasan, baik botol plastik maupun galon isi ulang, dapat mengandung:
-
Bakteri dalam jumlah tinggi
-
Mikroplastik
-
Residu bahan kimia
-
Senyawa berbahaya dari botol seperti antimon, ftalat, dan zat mirip bisfenol
Konsentrasi mikroplastik di air kemasan beberapa kali dilaporkan lebih tinggi dibanding air keran. Partikel ini berpotensi menyebabkan peradangan, gangguan hormon, dan penumpukan di organ tubuh.
Selain itu, botol plastik yang disimpan di tempat panas atau terkena sinar matahari bisa melepaskan bahan kimia ke air.
Meski kadarnya rendah, efek jangka panjangnya belum sepenuhnya diketahui. Setelah dibuka, air kemasan tidak steril, dan mikroorganisme dapat berkembang, apalagi jika botol dibiarkan setengah penuh atau digunakan ulang.
2. Tap Water Sering Lebih Aman
Di banyak negara maju, air keran diawasi ketat dan diuji setiap hari untuk:
- Kontaminasi bakteri
- Logam berat
- Pestisida
Beberapa negara bahkan menambahkan fluorida untuk mencegah kerusakan gigi. Tap water juga mengandung mineral alami yang bermanfaat bagi tubuh.
3. Dampak Lingkungan dari Air Kemasan
Konsumsi air botolan memberi tekanan besar pada lingkungan. Secara global, sekitar 1 juta botol plastik dibeli setiap menit. Proses produksi dan distribusi air kemasan juga menghasilkan jejak karbon tinggi.
4. Kapan Air Kemasan Masih Diperlukan?
Meskipun air kemasan tidak selalu lebih aman, ada situasi tertentu yang membutuhkannya, misalnya:
- Bencana alam atau situasi darurat
- Saat pasokan air keran terbukti tidak layak konsumsi
Dengan memahami risiko dan keunggulan masing-masing, kita bisa lebih bijak memilih sumber air minum yang aman sekaligus ramah lingkungan. (fin)
Editor : AA Arsyadani