Jawa Pos Radar Lawu - Dunia olahraga lari trail tanah air kembali berduka.
Dua peserta lomba Siksorogo Lawu Ultra (SLU) 2025 dilaporkan meninggal dunia saat mengikuti ajang tersebut pada Minggu (7/12/2025) di kawasan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.
Kabar duka ini turut menarik perhatian sejumlah tokoh dan pegiat olahraga, salah satunya dr. Tirta Mandira Hudhi, yang juga dikenal sebagai pelari dan pecinta olahraga outdoor.
Melalui unggahan video di akun Instagram pribadinya @dr.tirta, ia menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya dua peserta tersebut.
“Saya turut berduka cita sedalam-dalamnya untuk kedua almarhum dan keluarga.
Semoga ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa event trail itu bukan biasa-biasa saja,” ujar dr. Tirta dalam videonya.
Pesan Tegas: Latihan Konsisten dan Kenali Kemampuan Diri
Dalam penjelasannya, dr. Tirta berharap pandangannya bisa mewakili dua sisi, sebagai dokter dan sebagai sesama peserta event lari trail.
Ia menegaskan bahwa setiap peserta wajib mempersiapkan diri sebelum mengikuti event olahraga ekstrem.
“Begitu kamu register event, kamu harus bertanggung jawab.
Caranya? Latihan yang konsisten. Kalau merasa latihan nggak proper atau ragu bisa finish, lebih baik tidak ikut start, atau bisa DNF di tengah kalau tubuh ngasih tanda-tanda bahaya,” ucapnya.
Menurutnya, tubuh biasanya memberikan sinyal saat berada dalam kondisi tidak fit, seperti pusing, lemas mendadak, hingga blackout.
“Kalau belum siap, jangan daftar hanya karena gengsi atau FOMO.”
Siksorogo Sudah Berpengalaman, Peserta Wajib Screening Kesehatan
- Tirta juga menegaskan bahwa pihak penyelenggara Siksorogo Lawu Ultra bukan komunitas baru dalam penyelenggaraan event serupa.
“Siksorogo itu komunitas yang sudah lama dan proper. Bahkan untuk daftar SLU wajib sertifikat screening kesehatan dan surat pernyataan karena track-nya berat,” jelasnya.
Ia mencontohkan bahwa setiap ajang trail memiliki tingkat kesulitan berbeda, seperti medan pasir Bromo, jalur teknis Rinjani, serta cuaca dingin ekstrem di Lawu.
“Intinya, daftar sesuai kemampuan. Kalau memaksakan diri, risiko fatalnya besar.”
Identitas Korban dan Kronologi Kejadian
Dewan Pembina Siksorogo, Tony Hatmoko, membenarkan bahwa dua peserta yang meninggal adalah pelari kategori 15 kilometer, yaitu:
- Pujo Buntoro (55)
- Sigit Joko Purnomo (45)
Menurut informasi dari Kasi Humas Polres Karanganyar, Iptu Mulyadi, kejadian pertama dilaporkan sekitar pukul 10.44 WIB, ketika Sigit ditemukan tidak sadarkan diri di kawasan Bukit Cemoro Mitis KM 12.
Petugas PMI dan marshal langsung memberikan pertolongan pertama, namun nyawanya tidak tertolong.
“Korban dinyatakan meninggal dunia dan berhasil dievakuasi ke RSUD Karanganyar sekitar pukul 14.30 WIB,” jelas Mulyadi.
Saat kejadian, hujan deras mengguyur area lomba, membuat suhu turun serta lintasan menjadi ekstrem dan licin, diduga menjadi salah satu faktor pemicu kondisi darurat tersebut.
Kasus ini menjadi alarm serius bagi dunia olahraga lari trail di Indonesia bahwa ajang ekstrem bukan sekadar tren, melainkan membutuhkan kesiapan fisik, mental, pengetahuan jalur, serta kepatuhan pada protokol keselamatan.
Dokter. Tirta menutup pesannya dengan kalimat tegas, “Trail running itu passion, tapi keselamatan tetap nomor satu.” (*)
Editor : Riana M.