Jawa Pos Radar Lawu - Sebuah inovasi besar dari ilmuwan Australia membuka peluang baru dalam riset stroke sekaligus mengurangi ketergantungan pada uji coba hewan.
Tim peneliti University of Sydney berhasil menciptakan teknik pencetakan 3D yang mampu menghasilkan replika pembuluh darah dengan akurasi anatomis hanya dalam waktu dua jam.
Terobosan ini memungkinkan peneliti mengamati proses awal terbentuknya gumpalan darah secara langsung.
Sesuatu yang sebelumnya hampir tidak mungkin dilakukan di tubuh manusia.
“Arteri pada Cip”: Miniatur Pembuluh Darah yang Meniru Kondisi Asli
Teknologi yang disebut “arteri pada cip” ini memungkinkan pembuatan replika arteri karotis mini di atas permukaan kaca.
Tidak hanya meniru bentuk, struktur tersebut juga menghasilkan simulasi aliran darah yang menyerupai kondisi manusia.
Menurut rilis University of Sydney, platform ini memungkinkan ilmuwan mengamati dinamika trombosit dan aliran darah secara real time tanpa harus melakukan penelitian berbasis hewan.
Hal ini mempercepat pemahaman tentang bagaimana gumpalan mulai terbentuk dan berkembang menjadi penyumbatan.
Dibuat dari CT Scan Pasien Stroke, Diperkecil Menjadi 200–300 Mikrometer
Para peneliti memanfaatkan CT scan pasien stroke untuk membangun model 3D arteri karotis, lalu memperkecil ukurannya dari diameter 5–7 mm menjadi sekitar 200–300 mikrometer.
Berkat teknik cetak 3D yang baru, proses yang dulu memakan waktu hingga 10 jam kini dapat diselesaikan hanya dalam dua jam.
Replika yang lebih presisi dan efisien ini memungkinkan pengamatan langsung melalui mikroskop terhadap pembentukan gumpalan darah.
Gesekan Aliran Darah dan Tekanan Terbukti Memicu Penggumpalan
Melalui perangkat ini, tim menemukan bahwa gesekan aliran darah pada dinding pembuluh sangat memengaruhi pergerakan trombosit.
Faktor seperti tekanan darah tinggi dan aterosklerosis mempercepat proses pembekuan.
Wawasan baru ini membantu menjelaskan pemicu awal stroke yang selama ini sulit dipelajari karena berlangsung begitu cepat di dalam tubuh.
Teknologi yang Berpotensi Mengubah Perawatan Stroke
Kandidat PhD School of Biomedical Engineering, Yunduo Charles Zhao, mengatakan bahwa teknologi tersebut membuka harapan baru bagi jutaan orang yang berisiko stroke.
“Kami tidak hanya mencetak pembuluh darah, kami mencetak harapan bagi jutaan orang yang berisiko terkena stroke di seluruh dunia,” ujar Zhao.
Ia menambahkan bahwa teknik ini memungkinkan pendekatan pengobatan vaskular yang lebih personal karena model arteri dapat dibuat berdasarkan data masing-masing pasien.
Mengembangkan “Kembaran Digital” dengan AI
Ke depannya, tim berencana memadukan teknologi ini dengan kecerdasan buatan untuk menciptakan digital twin atau “kembaran digital” arteri pasien.
Teknologi ini dapat digunakan untuk:
• memprediksi risiko stroke,
• menguji obat tanpa uji coba hewan,
• dan merancang strategi pencegahan yang personal.
Jika berhasil, pendekatan ini dapat mengubah penanganan stroke dari upaya reaktif menjadi pencegahan yang jauh lebih dini. (fin)
Editor : AA Arsyadani