Jawa Pos Radar Lawu — Dunia kembali dibuat waspada. Setelah dua tahun berada dalam bayang-bayang endemi, sebuah varian baru Covid-19 dengan kode XEC kini menyebar cepat di Thailand.
Pemerintah Thailand menyatakan, varian ini menyebar tujuh kali lebih cepat dibanding flu biasa. Bahkan, sejak awal 2025, jumlah kasus di negara Gajah Putih itu melonjak signifikan.
Pemerintah Indonesia pun bergerak cepat. Kekhawatiran mulai mencuat: Apakah Indonesia aman? Ataukah ini hanya soal waktu?
Apa Itu Varian XEC dan Mengapa Lebih Menular?
Varian XEC merupakan turunan dari Omicron, namun dengan mutasi tambahan yang mempercepat kemampuan penularannya antar manusia.
Menurut Menteri Kesehatan Masyarakat Thailand, Somsak Thepsuthin, varian ini memiliki kemampuan menyebar tujuh kali lebih cepat dari influenza biasa suatu tingkat penyebaran yang disebut sebagai “signifikan secara klinis”.
Meski demikian, gejala yang ditimbulkan oleh XEC cenderung ringan dan menyerupai flu biasa, seperti demam, batuk, dan pilek.
Inilah yang membuatnya berbahaya secara diam-diam—banyak orang tak sadar bahwa mereka adalah pembawa.
Indonesia Masih Aman, Tapi Sampai Kapan?
Kementerian Kesehatan RI menyampaikan bahwa hingga kini, belum ditemukan satu pun kasus XEC di Indonesia.
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, menjelaskan bahwa pemerintah terus melakukan pemantauan melalui Whole Genome Sequencing (WGS) pada spesimen pasien Covid-19 di berbagai daerah.
“Hingga 17 Mei 2025, dari 18 spesimen yang diperiksa, semuanya negatif Covid-19,” ujar Aji.
Namun, ia menegaskan bahwa antisipasi tetap harus diperkuat karena mobilitas antarnegara di kawasan Asia Tenggara sangat tinggi.
Libur Panjang dan Ancaman yang Mengintai
Dengan semakin dekatnya long weekend dan liburan sekolah, lonjakan mobilitas masyarakat menjadi kekhawatiran tersendiri.
Stasiun, bandara, terminal, dan tempat wisata diprediksi akan kembali ramai. Dan dalam situasi seperti itu, varian seperti XEC bisa menyusup tanpa disadari.
Pakar epidemiologi mengingatkan bahwa endemi bukan berarti bebas.
“Kita mungkin tidak lagi berada di bawah status darurat, tapi virus masih ada, dan mutasi akan terus terjadi,” ujar dr. Dicky Budiman dari Griffith University.
Vaksin Masih Jadi Benteng Pertahanan Terbaik
Satu hal yang menjadi kabar baik: varian XEC belum menunjukkan resistansi terhadap vaksin. Itu artinya, vaksinasi terutama booster dosis keempat bagi lansia dan komorbid masih efektif sebagai perlindungan tambahan.
Kemenkes juga menekankan pentingnya memastikan cakupan vaksinasi tetap tinggi dan mengimbau masyarakat tidak menunda vaksinasi lanjutan.
Protokol Kesehatan Tak Boleh Lengah
Walau aturan PPKM sudah dicabut sejak 2023, kebiasaan baik seperti memakai masker di tempat ramai, mencuci tangan, dan menjaga etika batuk/bersin masih relevan terutama bagi kelompok rentan.
Pemerintah daerah diminta untuk tetap waspada dan siap mengaktifkan posko kesehatan bila sewaktu-waktu diperlukan.
Ketersediaan alat tes cepat dan fasilitas isolasi juga mulai kembali ditinjau ulang.
Hingga kini, Indonesia belum mencatatkan kasus varian XEC. Namun, dunia telah belajar bahwa Covid-19 tidak mengenal batas negara.
Kecepatan penyebaran, minimnya gejala berat, dan peningkatan mobilitas masyarakat bisa menjadi kombinasi yang memicu lonjakan diam-diam.
Pertanyaannya kini: Apakah Indonesia benar-benar aman dari XEC, atau hanya menunggu waktu hingga varian itu tiba di tanah air? (*)
Editor : Riana M.