Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Hati-Hati! Pola Asuh 'Strict Parents' Bisa Berdampak Buruk pada Tumbuh Kembang Anak

Oktaviani Sindy • Selasa, 8 Oktober 2024 | 15:04 WIB
: Pola asuh yang terbaik sangat penting dilakukan oleh orang tua untuk pertumbuhan si buah hati di masa depan. (Pinterest)
: Pola asuh yang terbaik sangat penting dilakukan oleh orang tua untuk pertumbuhan si buah hati di masa depan. (Pinterest)

Jawa Pos Radar Lawu - Banyak orang tua berusaha memberikan yang terbaik bagi anak-anak mereka, termasuk dengan menerapkan pola asuh ketat atau yang dikenal sebagai strict parenting”.

Pola asuh ini mengacu pada pendekatan otoriter, di mana orang tua menetapkan banyak batasan dan aturan ketat bagi anak.

Beberapa orang tua percaya bahwa dengan menerapkan disiplin yang ketat, anak akan tumbuh menjadi individu yang lebih baik di masa depan.

Namun, psikolog dan psikoterapis Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si., mengingatkan bahwa pola asuh yang terlalu ketat tidak selalu berdampak positif bagi perkembangan anak.

Dalam sebuah talkshow kesehatan virtual yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan pada Senin (7/10/2024), Anna menyebutkan bahwa pola asuh yang membatasi anak secara berlebihan dapat berdampak buruk pada kepercayaan diri mereka.

“Pemberian hukuman atau pembatasan berlebihan pada anak cenderung membuat remaja jadi tidak terlalu percaya diri. Dia merasa bahwa dirinya adalah orang buruk, sampai harus dihukum, dibatasi, dan tidak dipercaya oleh orang tua," ungkap Anna.

Dampak negatif ini bisa meluas ke berbagai aspek kehidupan anak. Anna menjelaskan bahwa anak yang tumbuh dalam lingkungan yang terlalu ketat sering kali kesulitan untuk mempercayai orang lain.

Hal ini, sangat berdampak pada kemampuan mereka untuk bekerja secara optimal, baik dalam belajar maupun kehidupan sehari-hari.

"Karena buat dia, ah udahlah, emang saya orang yang jelek (makanya) saya dihukum, biasa saya diomelin, dan sebagainya," tambah Anna.

Pola asuh yang terlalu ketat ini juga bisa mempengaruhi performa akademis anak, mulai dari sekolah hingga perkuliahan.

Bahkan, pola asuh seperti ini dapat berdampak pada proses anak dalam mendapatkan pekerjaan dan menjalani karir mereka. Akibatnya, potensi anak tidak akan berkembang secara maksimal.

"Kemudian kadang-kadang juga berdampak pada proses mendapatkan pekerjaan, hasil, dan lain sebagainya. Sehingga jadi tidak optimal," jelas Anna.

Selain, mempengaruhi kepercayaan diri dan prestasi akademik, pola asuh yang ketat juga bisa meninggalkan trauma yang berpengaruh pada perkembangan sosial dan emosional anak.

Anak yang dibesarkan dengan pola asuh ini dapat menjadi individu yang lebih mudah marah atau cenderung melakukan perilaku yang negatif.

"Jadi memang akhirnya banyak sekali dampak. Sehingga yang paling disarankan memang bentuk parenting atau pengasuhan yang moderat," sarannya.

Menurut Anna, pola pengasuhan moderat adalah kunci untuk menciptakan keseimbangan dalam mendidik anak. Orang tua harus mampu berperan sebagai pengawas dan pendamping sekaligus menjadi sahabat bagi anak.

Dalam peran ini, orang tua bisa memantau dan membimbing anak, namun tetap memberi ruang bagi anak untuk berekspresi dan berdiskusi.

Sebagai sahabat, orang tua dapat mendengarkan pandangan anak dan menjelaskan alasan di balik setiap batasan yang diterapkan. Dengan demikian, anak akan merasa lebih dihargai dan termotivasi untuk mematuhi aturan yang ada.

“Sesungguhnya orang tua akan merasa lebih aman melepas remajanya. Dan remajanya juga akan tahu, saya dipercaya orang tua saya. Jadi harus menjaga kepercayaan itu," tutup Anna.

Pola asuh moderat ini tak hanya membantu orang tua menciptakan hubungan yang lebih baik dengan anak, tetapi juga memungkinkan anak tumbuh dengan rasa percaya diri yang kuat serta kemampuan sosial dan emosional yang sehat. (okta)

Editor : Riana M.
#parenting #strict parenting #anak #tumbuh kembang anak #psikolog #pola asuh #orang tua