Jawa Pos Radar Lawu – Perselingkuhan sudah menjadi fenomena nyata diseluruh budaya dunia. Manusia memiliki dua sistem otak primer yang berhubungan dengan cinta.
Pertama adanya dorongan seks untuk memenuhi kepuasan seks dengan berbagai partner.
Kedua adanya cinta yang romantis yang memotivasi seseorang untuk memfokuskan energi seks mereka pada pasangan yang spesifik.
Dengan sistem saraf dasar ini yang berinteraksi satu sama lain dan dengan sistem otak lainnya untuk memberikan Anda berbagai motivasi, emosi, dan perilaku yang diperlukan untuk mengatur strategi reproduksi manusia yang rumit.
Beberapa orang bisa berselingkuh dari pasangan mereka, tetapi pertanyaannya, mengapa mereka nekad untuk mengambil risiko emosional dan praktis untuk berselingkuh?
Dilansir dari Psychology Today, ada 5 alasan mengapa seseorang berselingkuh, berdasarkan survei yang dilakukan Julia Omarzu, psikolog dari Loras College, bersama tim penelitinya.
1. Kurangnya kepuasan seksual dalam pernikahan, dan hasrat untuk hubungan seksual tambahan
Nafsu seksual seringnya berumur pendek , dan gairah seks bisa merosot turun cukup cepat saat gairah perlahan mati jika masalah emosional kembali muncul ke permukaan.
Hal ini bisa memudar jika kedua pasangan dalam hubungan perselingkuhan tidak menemukan banyak kesamaan lain diluar seks.
2. Kurangnya kepuasan emosional dalam pernikahan
Sebagian besar orang yang berselingkuh atas alasan ini melaporkan mereka merasa kurang terpenuhi kebutuhan emosionalnya dari pasangan menikah mereka.
Jenis perselingkuhan ini biasanya tidak melibatkan seks dan cenderung memilih untuk tetap dalam hubungan platonis.
Mencari keintiman emosional bisa sama menariknya dengan mencari keintiman fisik sebagai alasan untuk memiliki perselingkuhan.
3. Hasrat untuk mendapatkan rasa penghargaan dari orang lain
Saling menghargai adalah salah satu faktor kunci dalam aspek emosional dalam suatu hubungan yang romantis.
Dalam penelitian Susan Berkowitz pada pria yang berhenti berhubungan seks dengan pasangannnya, 44% mengatakan mereka merasa marah, dikritik, dan tidak penting dalam pernikahan mereka.
M.Gary Neuman menemukan bahwa 48% pria melaporkan ketidakpuasan emosional sebagai alasan utama untuk berselingkuh. Mereka merasa tidak dihargai dan berharap bahwa pasangan mereka bisa mengakui ketika mereka bekerja keras untuk mempertahankan pernikahan tersebut.
4. Tidak lagi cinta dengan pasanganya dan menemukan cinta yang baru
Keintiman emosional dan fisik tampaknya menjadi faktor utama yang mengarah pada perselingkuhan.
5. Balas dendam
Dalam sebuah hubungan yang sudah terlanjur ‘sekarat’, keinginan untuk menyakiti pasangan yang (atau dicurigai) berselingkuh tampaknya mengalahkan hasrat pemenuhan keintiman fisik dan batin semata.
Perselingkuhan melambangkan hasrat, penderitaan, dan kebutuhan akan sebuah hubungan. Perselingkuhan jarang hadir tanpa adanya konflik atau bahkan tekanan. Selain itu, perselingkuhan mungkin adalah akibat, atau penyebab, dari pernikahan. (*)
Editor : Riana M.