Jawa Pos Radar Lawu – Gorengan salah satu makanan kesukaan banyak kalangan masyarakat. Rasanya yang gurih dengan tekstur renyah menjadi kenikmatan yang tidak bisa tolak.
Namun jangan salah ya, di balik kenikmatan gorengan, jika mengkonsumsi berlebihan juga dapat membawa masalah yang serius pada tubuh kita.
Oleh sebab itu , melansir dari laman Kemenkes.go.id, Rabu (7/8), inilah 4 dampak buruk sering makan gorengan.
Pertama Risiko Obesitas
Makanan yang di goreng akan menyerap lemak dari minyak dan mengakibatkan kalori akan semakin lebih tinggi.
Semakin tinggi asupan kalori yang di konsumsi seseorang, semakin tinggi juga risiko mengalami kelebihan berat badan. Kandungan lemak dalam gorengan juga berpotensi menambah berat badan.
Lemak bisa mempengaruhi kerja hormon yang dapat meningkatkan nafsu makan.
Risiko Penyakit Kardiovaskular
Gorengan dapat menyebabkan obesitas, dan obesitas salah satu faktor risiko penyakit jantung.
Minyak goreng juga mengandung banyak lemak jenuh dan lemak trans yang kita ketahui dapat meningkatkan kadar kolesterol darah. Peningkatan kadar kolesterol akar dari berbagai penyakit jantung koroner, serangan jantung, dan stroke.
Risiko Diabetes Tipe 2
Terlalu banyak lemak dalam makanan tidak hanya menambah berat badan, tetapi juga ber-akibat terkena risiko diabetes tipe 2.
Wanita yang memiliki kebiasaan makanan gorenngan sebelum hamil juga bisa berisiko lebih tinggi terkena penyakit diabetes gestasional saat hamil. Penyakit gestasional ini berbahaya bagi ibu hamil dan juga pada janin.
Risiko Munculnya Kanker
Risiko ini muncul karena akibat zat akrilamida yang dapat terbentuk selama proses memasak dengan suhu tinggi. Makanan bertepung akan mengandung akrilmida yang lebih tinggi ketika terpapar suhu tinggi.
Seperti ayam goreng, kentang goreng yang dibalur tepung.
Jika terlalu banyak dan sering mengkonsumsi zat ini di duga bisa menyebabkan beberpa jenis kanker, seperti kanker ovarium.
Lemak trans yang ada pada gorengan dapat meningkatkan jumlah senyawa yang mendukung peradangan dalam tubuh, hal ini berkontribusi pertumbuhan kanker yang ada dalam tubuh. (*)
Editor : Riana M.