Jawa Pos Radar Lawu - Umat muslim yang menunaikan puasa perlu mengatur frekuensi makan selama bulan ramadan.
Umumnya, frekuensi makan memang berkurang menjadi dua kali sehari, yakni pada saat sahur dan berbuka puasa.
Namun, banyak yang menambah porsi atau lanjut ngemil di antara jam berbuka dan sahur.
Rupanya, hal itu tidak disarankan oleh pakar. Ahli gizi dan konten kreator edukasi kesehatan Putri MJ mengatakan, asupan kalori orang yang berpuasa rawan tak seimbang jika kebanyakan makan.
"Puasa itu momen yang cukup bagus untuk mengurangi kalori, karena kita makan cuma dua kali," ujarnya, seperti ditulis ANTARA, Selasa (5/3).
"Asalkan makanan yang kita pilih saat buka puasa sama saat sahur tepat, sesuai dengan kebutuhan gizi, yang sudah dikurangi untuk orang obesitas," sambungnya.
Sarjana ilmu gizi dari Universitas Diponegoro itu mengatakan, orang yang mengalami obesitas selama berpuasa bisa mengurangi asupan kalori 300 sampai 350.
Menurut dia, upaya pengurangan asupan kalori selama berpuasa bisa dilakukan dengan menjalankan diet defisit kalori dibarengi dengan olahraga.
Putri menyarankan orang yang berpuasa mengonsumsi banyak sayur dan buah saat sahur maupun berbuka puasa karena keduanya tidak mengandung kalori berlebih.
Dia mengatakan, porsi makan saat berbuka puasa sebaiknya tidak terlalu besar.
Dalam hal ini, orang dengan obesitas bisa berbuka puasa dengan es buah yang tidak menggunakan banyak susu.
Nasi juga bisa diganti dengan sumber karbohidrat lain seperti jagung, ubi, dan roti.
"Seperti yang ada di pedoman gizi seimbang, disarankan makan beraneka ragam karbohidrat. Jagung atau roti kalau kalorinya sekitar 400-500 sudah dibilang makan berat," katanya.
Dia juga menyarankan orang dengan obesitas berolahraga minimal selama 150 menit dalam sepekan apabila ingin menurunkan berat badan.
"Olahraga enggak sembarangan, jadi benar-benar terukur, durasi memenuhi standar, dan juga olahraganya dikombinasikan antara kardio dan angkat beban," pesannya. (naz)
Editor : Deni Kurniawan