Kembur Sastra: Laku Tirakat untuk Hati Tinarbuka yang Menghidupkan Tulisan
Oleh: Mualif Hida
“Lihatlah dunia. Ada gunung, sawah, kotoran, sampah. Jangan hanya lihat yang indah, tapi tengok juga buruk, agar kita dapat menemukan hakekatnya.”
Rupanya ungkapan S Prasetyo Utomo tersebut membuat Ahmad (20) skeptis.
“Apa makna kalimat itu? Dan apa hubungannya dengan menulis?” tanya anggota Himpunan Mahasiswa Penulis (HMP) STKIP PGRI Ponorogo itu, pada acara Kembur Sastra yang dilaksanakan di Rumah Buku SSC, Perumahan Patihan Kidul, Siman, Ponorogo. Minggu malam (3/5) lalu, menjadi malam yang istimewa bagi S Pasetyo Utomo, Sutejo Spektrum Center (SSC), dan para peserta yang mayoritas berasal dari UKM HMP STKIP PGRI Ponorogo.
Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp17.386 per Dolar AS, Negosiasi AS-Iran Buntu Picu Tekanan Global
“Kembur Sastra ini dilaksanakan untuk mengambil sari makna dari proses kreatif S Prasetyo Utomo di satu sisi, dan mengisi ulang motivasi penulis muda gen Z dalam berliterasi dan berkarya di sisi lain,” ungkap Sutejo, Founder komunitas literasi SSC Ponorogo.
Dalam prosesnya, S Prasetyo Utomo telah menjalani laku tarekat sejak dini. Pihaknya mengaku, sang kakek juru cerita ulung. Raut wajah penulis Iblis Menjelma Senapan Berburu itu tampak khuyuk bercerita, menghadirkan suasana masa kecilnya itu. “Kakek saya banyak bercerita, tentang pewayangan, sejarah, budaya, dan masih banyak lagi. Satu hal yang saya ingat dan pegang hingga kini, lakon wayang Dewa Ruci.”
Salah satu pencetus sastra kontekstual itu menjelaskan dalam lakon Dewa Ruci, Bima di minta untuk mencari jati dirinya di samudra bernama Minangqolbu. Minangqolbu sendiri, jika diterjemahkan artinya pusat hati.
Baca Juga: Apakah Kenaikan Yesus Kristus 2026 Ada Cuti Bersama? Ini Jadwal Libur dan Long Weekend Mei 2026
“Di sanalah sebenarnya, kita bisa melihat dan berbicara dengan diri sendiri, bercengkerama dengan diri sendiri.”
Dari hal tersebut, Pras kecil terpacu hatinya, kemudian bergerak atas bimbingan sang Kakek. “Dulu saya setiap malam tidur di latar setelah jam 12, kemudian bangun sebelum ayam jago berkokok atau sebelum jam 4 dini hari, begitu setiap hari. Siangnya saya puasa.”
Rupanya, laku itulah yang bisa membuat hati tinarbuka (terbuka), untuk menilik lebih dalam suatu peristiwa, menarik makna yang termaktub di dalamnya. Dengan hati yang terbuka, manusia akan menerima, sehingga sari makna kehidupan bisa diambil. sebaliknya jika hati tertutup, mengeras, maka ia akan menolak.
Sastrawan yang karyanya tiga kali masuk dalam buku cerpen pilihan kompas itu menerangkan, menulis memerlukan keterbukaan hati untuk membuat tulisan memiliki roh, lebih bermakna. Untuk itu, disarikan dulu makna peristiwa yang menjadi bahan tulisan. Untuk bisa mengambil sari maknanya, memerlukan hati yang terbuka, juga.
BIODATA SINGKAT PENULIS: Mualif Hidayatulloh, mahasiswa PBSI STKIP PGRI Ponorogo. Tukang ngopi sambil membaca, dan sesekali menulis.
Editor : Nur Wachid