Inspirasi bagi Penulis Gen Z: Menulislah dari yang Paling Dekat
Redaksi• Kamis, 20 Maret 2025 | 10:23 WIB
Tjak S. Parlan berbagi proses kreatif bersama Himpunan Mahasiswa Penulis (HMP) STKIP PGRI Ponorogo di Sutejo Spektrum Center (SSC).
Pendek kata, Tjak S Parlan, seakan memperagakan teori antropologi sastra ke dalam puisi-puisinya.
Oleh: Dr. Sutejo, M. Hum.
PESAN kepenulisan menarik yang bisa diulik dari Tjak S. Parlan dalam Ngopi Literasi di Sutejo Spektrum Center (SSC) kemarin (19/3) adalah pentingnya menulis dari yang paling dekat.
Pengalaman lahir dan batin. Sebab, suara tempat, waktu, dan peristiwa yang teralami langsung penulis jika direnungkan dalam-dalam, akan melahirkan suara hati yang menjelma konstruksi makna di dalam karyanya.
Jika bukan berbasiskan pengalaman terdekat kita dituntut melakukan research partisipatif yang empatif. Ini akan melahirkan masalah baru bagi penulis pemula.
Gen Z, yang dipilir oleh beragam persoalan zaman mutakhir, misalnya, baik permasalahan jiwa dan sosial, menarik untuk diinternalisasi dan diinkubasikan sehingga melahirkan karya bermakna.
Penyair yang lebih 20 tahun tinggal di Mataram itu juga berpesan akan pentingnya komunitas yang bernas dalam merangsang kematangan dan produktivitas dalam berkarya.
"Komunitas itu mendewasakan, karena mengajarkan keterbukaan berbicara tentang kualitas karya."
Begitulah pesan suami penyair Lailatul Kiptiyah, sang suami dari penulis buku "Kata dan Batu" (Divapress, 2023). Sang istri juga sempatkan hadir dalam Ngopi Literasi kemarin (19/3/2025).
Mencintai menulis, karena itu, setiap hari dituntut untuk terus berlatih, apa pun tulisannya, tidak penting.
Sehingga kemengaliran dan kemahiran akan mudah digenggam. Jika tidak, kita akan terus jadi pemula.
"Rajin berlatih merupakan kunci kemahiran dalam berkarya." pesan penulis buku "Satu Masih Jauh di Hulu" (Divapress, 2025), yang dikuratori oleh penyair Kiki Sulistyo.
Dari kumpulan puisi "Satu Masih Jauh di Hulu" itu, Tjak S Parlan, tampak jelas bagaimana pengalaman dan pergulatannya dengan tema yang ditulisnya begitu dekat.
Pengalaman tentang tempat-tempat bersejarah di NTB, misalnya, diulik melalui judul-judul --yang kebanyakan ditandai oleh tempat--.
Begitu dekat, penyair yang lahir tahun 1975 di Banyuwangi ini dengan permasalahan hidup di pulau rantau lebih 20 tahun dijalani.
Kumpulan puisi terbarunya itu, bagi saya, merupakan imajinasi peristiwa dari sebuah tempat dan pesan kuat yang tersembunyi di dalamnya. Ada jejak sejarah dan peradaban.
Ada pesan kebudayaan dan rekaman peristiwa. Ada dialog dan percakapan sejarah serta senarai pertanyaan tentang kemanusiaan.
Ada simbol semesta dan tragedi alam. Ada tamasya religius ke puncak transendental hingga terbitnya harapan sukma menjelma tanya dalam puisi-puisinya yang menggoda.
Karena itu, puisi bagi Tjak S. Parlan, adalah suara riuh di balik sejarah yang penting didengar. Puisi adalah jejak peradaban yang menarik disingkap untuk menemukan adab pesan kemegahannya.
Puisi adalah narasi kebudayaan masa lalu yang asyik diulik-ulik jiwa peradabannya. Tidak saja itu, puisi adalah potret peristiwa yang terus membahasakan berita demi berita, baik mitos dan canda bencana.
Di sejumlah puisi lain, juga terdengar suara yang lebih menantang. Bagi penyair yang kini tinggal di Blitar ini puisi seakan merupakan api pertanyaan yang perlu dijawab tidak saja oleh logika tetapi juga jiwa-jiwa manusia yang masih melek mata jiwanya.
Puisi juga sebagai senarai pertanyaan panjang tentang kemanusiaan dan cinta yang dicari jawabannya.
Puisi adalah pesan simbolis alam, semesta berbicara yang wajib dimaknai suara sucinya, agar manusia bisa terus belajar darinya.
Hingga, puisi sebagai sebuah perjalanan tamasya religius ke puncak transendental yang perlu dikenal dengan analisis estetis yang kental.
Di samping, puisinya juga merupakan letupan-letupan estetis dari kehidupan mutakhir yang ironis, paradoks, dan penuh satire yang menggugah kesadaran pembaca.
*
Pendek kata, Tjak S. Parlan, seakan memperagakan teori antropologi sastra ke dalam puisi-puisinya.
Dan ini, jelas sambung dengan pesan-pesannya kepada puluhan mahasiswa HMP STKIP PGRI Ponorogo di SSC.
Salah seorang mahasiswa misalnya, bertanya: bagaimana jika kena trigger saat menulis?
Dengan datar tetapi penuh nalar, Tjak S. Parlan, mengembalikan pada diri kita tentang pentingnya keluasan dan kedalaman penguasaan materi yang ditulis.
Kelenturan dan kedekatan dengan tema yang ditulisnya, akan jauh memberikan kemudahan dan kemengaliran saat berkarya.
Dia mencontohkan, salah satu kelemahan penulis pemula adalah keterjebakan pada tema-tema dan gagasan besar, yang seringkali jauh dari kehidupan nyata.
Dengan demikian, pelajaran pentingnya adalah kita tak perlu muluk-muluk dalam berkarya.
Dijalani dengan istikomah, rajin berdiskusi dan terbuka terhadap kritik, itulah yang akan menjadikannya sebagai penulis yang dinamis.
Belajar dari penyair yang totalitas ini, kita bisa bercermin pada kumpulan puisi terbarunya: "Satu Masih Jauh di Hulu".
Bagi saya, puisi Tjak S. Parlan, merupakan jejak antropologi yang berbicara tentang manusia (etnologi) dan tempat (etnografi).
Lihat misalnya puisi macam: "Sebentang Pantai Menampung Bertahun-tahun Masa Lalu" (hal. 15-17), "Menemukan Beberapa Pertanyaan di Pantai" (hal. 18), "Yang Bertahan di Pantai Pura Segara, Ampenan" (hal. 22-23), dan "Kota Ini, Lanskap Bandar Tua" (hal. 61).
Dan, hampir semua puisinya, seakan berbicara tentang tempat bersejarah dan kepedihannya, pesan dan simbol paradoksal dari sebuah budaya modern yang ironis dan satire.
Uniknya, kehadiran penyair di semua tempat itu, bisa dirasakan getaran estetisnya.
Pentingnya kedekatan dan pengalaman pergulatan dengan tema yang ditulisnya. Ini, tentu menjadi hal dasar yang akan menyadarkan kita sebagai penulis, utamanya calon penulis. (*)
BIODATA SINGKAT: Dr. Sutejo, M.Hum., dosen di lingkungan LLDIKTI VII Jawa Timur dpk pada STKIP PGRI Ponorogo.