Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Kesadaran Kritis Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam: Perlawanan pada Adat Kawin Tangkap di Sumba 

Nur Wachid • Selasa, 18 Februari 2025 | 03:15 WIB
Ilustrasi perempuan.
Ilustrasi perempuan.

Meski begitu, masyarakat Sumba percaya, pihak perempuan yang membatalkan belis akan mendapatkan malapetaka. Perempuan tersebut tidak akan mendapatkan jodoh. Masyarakat setempat memandang perempuan yang telah ditangkap atau diculik, sudah pasti hilang keperawanannya.

Oleh: Sapta Arif

Setelah pulang dari program residensi sastrawan, Dian Purnomo menulis novel berjudul Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam.

Alih-alih mengemas budaya yappa mawine (budaya kawin tangkap di Sumba) sebagai prosa beraliran realisme, Dian Purnomo justru meramu sebuah jalinan cerita beraliran naturalistik.

Ia menceritakan fenomena ketidakadilan pada perempuan dalam adat Sumba dan menafsirkan gejala itu sebagai seorang pencerita yang menggugah kesadaran kritis.

Hal-hal yang menyangkut ketidakadilan hak perempuan baik dalam keluarga, sosial, kelas, hingga berumah tangga digarap sampai tuntas.

Sebagai pencerita perempuan yang tentu saja lebih memiliki empati pada kaumnya, Dian Purnomo meniupkan napas gerakan feminisme radikal melalui gambaran tokoh penggerak yang revolusioner.

Magi Diela sebagai pusat cerita berperan penting menyampaikan gagasan revolusioner Dian Purnomo.

Novel ini bersetting di sebuah Masyarakat Sumba (Nusa Tenggara Barat) yang masih kental memeluk dan melestarikan adat.

Diceritakan Magi adalah seorang perempuan cerdas, ulet, humanis, dan berpikiran terbuka. Berbeda dengan perempuan Desa Karang—tempat tinggal Magi—yang kebanyakan kawin di usia muda, Magi memilih kuliah di Jawa.

Namun, meski bercita-cita memajukan pertanian desanya dengan ilmu yang didapat di bangku kuliah, Magi justru menjadi korban adat “kawin tangkap”.

Leba Ali, sosok berpengaruh secara politik dan ekonomi, menjadi tokoh antagonis dalam novel ini. Ia digambarkan sebagai lelaki mata keranjang yang telah berulang kali menikah dan berulang kali cerai.

Suatu hari, saat Magi hendak melakukan penyuluhan pada para petani di desa yang lumayan jauh, ia diculik.

Magi tentu tidak mengira kejadian nahas itu terjadi padanya. Terlebih lagi, pelakunya adalah suruhan orang yang ia kenal, Leba Ali.

Laki-laki ini diceritakan sudah tertarik pada Magi. Bahkan sejak Magi masih kecil. Jarak usia mereka terlampau jauh.

Tentu bukan hal itu yang membuat Magi enggan menikah dengan Leba Ali. Karena wataknya-lah, Magi begitu menjaga jarak dengan Leba Ali, sebelum kejadian penculikan itu terjadi.

Nahasnya, seperti budaya kawin tangkap kebanyakan, rencana penangkapan ini sepengetahuan Ama Bobo—bapak Magi.

Hal ini terjadi manakala belis atau mas kawin atau hantaran berupa hewan ternak dari pihak calon pengantin laki-laki tidak disepakati oleh pihak calon pengantin perempuan, kawin tangkap sah dilakukan.

Upaya Melawan Adat

Kemalangan menimpa Magi. Ia mengalami kekerasan seksual, disetubuhi Leba Ali dalam keadaan tidak sadar.

Perlawanan dimulai dengan cara mogok makan, menahan diri agar tidak tidur, dan puncaknya melakukan upaya bunuh diri dengan cara menggigit nadi tangan kiri.

Magi percaya bahwa tunduk pada adat kawin tangkap, sama halnya menyerahkan diri sepenuhnya untuk diperkosa setiap hari oleh si Leba Ali.

Itu artinya, sebagai perempuan, ia pun menolak patriarki dalam tatanan rumah tangga. Hal ini justru berbanding terbalik dengan kebanyakan perempuan di lingkungan Magi tinggal.

Mereka lebih memilih pasrah jika menjadi korban kawin tangkap. Itu artinya pasrah mengabdi pada orang yang tidak ia cintai di sisa usia.

Dominasi laki-laki dalam patriarki dalam novel ini diceritakan Dian Purnomo tidak hanya hubungan suami-istri.

Sejak perempuan menjadi anak, dominasi laki-laki sebagai bapak sudah kentara. Hal ini jelas tergambar ketika belis tidak disepakati, kawin tangap secara tersirat disepakati sebagai solusi oleh Ama Bobo.

Bapak sebagai laki-laki yang bertanggung jawab atas keluarga seakan-akan memiliki kekuasaan penuh untuk menentukan jalan hidup anak perempuannya.

Budaya ini sebenarnya mengakar tidak hanya di masyarakat Sumba, daerah lain pun demikian.

Yang membedakan adalah proses menuju pernikahan di Sumba memberikan penderitaan pada pihak perempuan.

Dian Purnomo menceritakan bahwa kebanyakan korban kawin tangkap, sebelum mereka dinikahi, telah direnggut keperawanannya.

Dalam sebuah gerakan feminisme, kita mengenal salah satunya feminisme radikal. Feminisme radikal percaya bahwa perempuan akan mendapatkan keadilan hanya jika mereka menyingkirkan sistem (dan nilai-nilai) patriarki yang secara inheren menindas dan mendominasi.

Oleh sebab itulah, diperlukan rekonstruksi pola pikir dalam masyarakat untuk mencapai tujuan kesetaraan.

Dian Purnomo menggambarkan sosok Magi sebagai sosok yang melakukan perlawanan terhadap adat yang berlaku secara turun-temurun. Penggambaran perlawanan perempuan terhadap ketidakadilan yang terjadi terasa kental.

Dian Purnomo seakan-akan menekankan bahwa perempuan tidak bisa berjalan sendirian. Perempuan membutuhkan pihak-pihak lain yang bersatu sepemikiran dan membuat gerakan sistemis untuk menghentikan ketidakadilan yang terjadi.

Dalam hal ini, Dian Purnomo memperkenalkan berbagai tokoh yang membantu perlawanan Magi.

Selain teman akrabnya sejak kecil, Dian Purnomo juga menceritakan perlawanan sekelompok perempuan yang tergabung dalam Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Gema Perempuan.

Lembaga ini gencar melakukan penyuluhan dan membantu perempuan-perempuan yang mengalami ketidakadilan.

Meski begitu, masyarakat Sumba percaya, pihak perempuan yang membatalkan belis akan mendapatkan malapetaka.

Perempuan tersebut tidak akan mendapatkan jodoh. Masyarakat setempat memandang perempuan yang telah ditangkap atau diculik, sudah pasti hilang keperawanannya.

Begitulah jalan gelap yang akan dilalui Magi dalam memperjuangkan haknya sebagai perempuan. Melawan stigma masyarakat, adat, hingga orang yang paling dicintainya.

Magi tidak menyerah. Untuk memupus stigma yang melekat di masyarakat, Magi berjuang melalui Gerakan Gema Perempuan.

Ia menggandeng LSM ini sebagai upaya menumbuhkan kesadaran kritis. Sempat minggat selama empat tahun, Magi berjuang dengan cara melakukan penyuluhan-penyuluhan baik ke pihak kepolisian, aktivis masyarakat, hingga ke desa-desa.

Cerita bergulir, manakala Magi yang berusaha bangkit telah memiliki jalan hidup yang baru, Leba Ali datang untuk kali kedua.

Laki-laki ini nampaknya sudah kadung jatuh cinta pada Magi. Kembali menemui Ama Bobo, Leba Ali berniat melamar Magi.

Dalam tahap ini, Dian Purnomo begitu piawai memainkan suspense cerita. Leba Ali datang menakala Ama Bobo divonis memiliki tumor di paru-paru. Nahasnya, Ama Bobo berpesan pada Magi agar menerima lamaran Leba Ali.

Secara tersirat diceritakan bagaimana luka dan malu yang ditanggung Ama Bobo sebagai bapak lantaran pernikahan anaknya gagal—sebelumnya.

Magi didera kebimbangan. Ia harus memilih antara meneruskan perjuangan dengan memerangi Leba Ali atau pasrah seperti teman-temannya dengan menerima dan mengabdi sepanjang usia.

Pilihan Magi di akhir cerita membuatnya memulai hari baru yang tentu saja akan menggugah kesadaran masyarakat sekitarnya.

Juga pembaca buku Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam tentunya. Begitulah, buku ini layak menjadi bacaan wajib bagi kaum perempuan yang berada pada posisi inferior.

Pun juga, pada pihak lain untuk memberikan pemahaman bahwa ketidakadilan di masyarakat kita pada kaum perempuan itu nyata. []


BIODATA SINGKAT: Sapta Arif. Lahir di Banyumas, berkarya dari komunitas Sutejo Spektrum Center Ponorogo. Saat ini menjadi pengajar sastra di STKIP PGRI Ponorogo. Kenali lebih hangat melalui IG: @saptaarif

Editor : Nur Wachid
#Dian Purnomo #adat kawin tangkap #novel #sumba #Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam #SAPTA ARIF #STKIP PGRI Ponorogo