Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

KERONCONG: DARI RASA NASIONALISME, ROMANTISME, HINGGA INDUSTRI KREATIF

Nur Wachid • Rabu, 8 Januari 2025 | 21:14 WIB

Tjahjono Widijanto.
Tjahjono Widijanto.

Oleh: Tjahjono Widijanto

Hampir malam di Jogja
Ketika keretaku tiba
Remang-remang cuaca
Terkejut aku tiba-tiba

Dua mata memandang
Seakan-akan dia berkata
Lindungi aku pahlawan
Daripada si angkara murka

Sepasang mata bola
Dari balik jendela
Datang dari Jakarta
Menuju medan perwira

.......

(Ismail Marzuki, Sepasang Mata Bola)

Prolog

Siapa yang tidak mengenal lirik lagu di atas? Lagu di atas menghadirkan bayangan romantisme sekaligus gairah perjuangan. Romantisme di balik setting perjuangan kemedekaan dan nasionalisme.

Jika melihat rekam sejarah perjuangan dalam merebut kemerdekaan Indonesia, musik keroncong memberikan makna sendiri pada perjuangan bangsa untuk terbebas dari kungkungan  penjajah.

Meskipun musik keroncong memiliki irama yang halus dan lambat, jenis musik ini mampu menghipnotis rakyat Indonesia untuk bangkit dan bergerak melawan imprialis.

Tak pelak, musik keroncong bisa dikatakan mampu menyisipkan unsur-unsur kepahlawanan dan memupuk rasa nasionalisme kepada jiwa anak muda pada masa itu.

Begitulah, riwayat musik keroncong tidak bisa dipisahkan dari bagian sejarah bangsa Indoensia. Lagu-lagu yang dihasilkan mampu memberikan semangat perjuangan dalam usaha merebut kemerdekaan.

Hal itu tercermin dari karya-karya yang dicipta oleh maestro keroncong seperti Ismail Marzuki dan Kusbini (Pencipta lagu Bagimu Negeri) yang dinilai berhasil menciptakan lagu-lagu fenomenal yang mampu membangkitkan semangat nasionalisme dan rasa cinta tanah air pada masanya.

Sejatinya Keroncong  memiliki hubungan sejarah yang panjang dengan jenis musik yang berasal dari Portugis yang dikenal sebagai fado dan mulai berkembang pesat di Nusantara sejak abad ke-19.

Seperti dikutip dari berbagai sumber,  awal mula hadirnya musik ini sebenarnya mulai ada di Nusantara sejak akhir abad ke-16 yang pada awalnya dimainkan oleh  para budak dan opsir Portugis dari daratan India (Goa) serta Maluku.

Bentuk awal jenis musik ini dinamakan moresco, yang diiringi oleh alat musik dawai. Dalam perkembangannya jenis musik ini mendapat pengaruh dari unsur-unsur musik tradisional Nusantara, seperti penggunaan seruling serta beberapa komponen gamelan.

Seiring berjalannya waktu, sekitar  abad ke-19 musik yang telah dikombinasi alat-alat musik tradisional Nusantara ini mendapatkan tempat yang luas di bumi Nusantara.

Sehingga pada masa itu keroncong menjadi musik yang sangat populer bahkan hingga ke Semenanjung Malaya.

Pada masa pergerakan dan awal masa kemerdekaan  musik keroncong merupakan musik yang populer.

Sehingga keroncong menguasai perusahaan rekaman yang pada masa itu masih dalam bentuk piringan hitam atau pita kaset.

Selain itu musik keroncong juga selalu mengudara melalui radio ketika radio mulai mengudara pada tahun 1925 di Jawa. Sehingga menjadikan musik ini menjadi hiburan utama rakyat Indonesia.

Kusbini, pencipta lagu Padamu Negeri yang amat mahsyur, merupakan tokoh dan pelaku yang penting dalam perjalanan musik keroncong telah melakukan penyebaran musik keroncong melalui siaran radio di Surabaya dari tahun 1933 sampai 1939 di N.I.R.O.M. (Netherlandsch Indische Radio Omroep Maatschappy) C.I.R.V.O. (Chinesche Inheemsche Radioluisteraars Vereniging Oost Java). 

Kemudian di Jakarta pada tahun 1942 – 1945 di radio Hosokanrikyoku dan di keimin Bunka Sidosho pada penjajahan jepang. Saat itu kegiatan orkes keroncong tampak maju pesat di kota Jakarta, dari tahun ke tahun selalu ada kegiatan yang menuju kearah kemajuan dan perkembangan musik keroncong.

Tidak hanya itu,  sejak tahun 20-an hingga di jaman penjajahan Jepang, setiap tahun Jakarta selalu mengadakan Fadel Concours yang dikenal dengan sebutan Fadel Concours Pasar Gambir (sekarang Jakarta Fair). Kegiatan ini berupa lomba grup keroncong.

Tahun 1950-an, setelah selesai perang kemerdekan, kegiatan keroncong dialihkan di RRI (Radio Republik Indonesia) dengan istilah “Bintang Radio”. Di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, diadakan lomba keroncong seperti pendahulunya Fandel Concour yang diadakan tiap dua tahun sekali.

Selain di Jakarta, kota – kota lain seperti Yogyakarta, Semarang dan Surakarta mengalami perkembangan musik keroncong yang pesat. Orkes keroncong dari Yogyakarta, Surakarta dan Semarang banyak yang ikut dalam festival–festival keroncong yang diadakan di Jakata.

Di Solo pada tahun 1960-an banyak sekali kelompok keroncong. salah satunya OK Bintang Surakarta yang dipimpin oleh Waljinah Budi.

Pada Tahun 1976 terbentuk organisasi sebagai wadah untu semua artis dan musisi keroncong yang bertujuan sosial dan memperhatikan perkembangan musik keroncong, yang disebut HAMKRI (Himpunan Artis Musisi Keroncong Indonesia).

Seiring berjalannya waktu, di akhir abad ke XX dan awal abad ke-XXI, musik keroncong mulai  terhimpit oleh musik – musik lain.

Usaha-usaha untuk menghidupkan kembali kejayaan musik keroncong ini tetap dilakukan. Hal itu terlihat ada keinginan di kalangan anak muda sekarang untuk kembali menghidupkan musik keroncong, terutama di Jogja yang mulai terlihat ada peningkatan dibanding dengan tahun – tahun sebelumnya.

Di beberapa tahun terakhir ini ada sebuah pertunjukan musik keroncong tahunan yang bertema “Simphony Kerontjong Moeda”, kegiatan ini membuat beberapa perkembangan di dalam musik keroncong, yaitu dengan memadukan beberapa lagu ber-genre pop, jazz, hingga rock dengan keroncong.

Kegiatan ini di selenggarakan oleh beberapa kalangan anak muda yang gelisah melihat perkembangan musik keroncong di jaman sekarang yang sangat memprihatinkan.

Hal ini seharusnya dapat menjadi contoh atau memotivasi masyarakat luas Indonesia khususnya anak muda untuk melestarikan dan mencintai musik keroncong, agar keroncong selalu berkembang dan eksis.

Keroncong, dari Pakem, Inovasi, dan Peneguhan Identitas Bangsa

Kini tentu saja wajah musik keroncong sudah semakin berubah. Berbagai inovasi telah dilakukan para penggiat keroncong. Keroncong telah bergeser dari pakemnya.

Dunia musik mengenal bagaimana muncul bentuk-bentuk inovasi keroncong seperti misalnya, keroncong Sinten Remennya Jaduk Ferianto (alm) Hadir pula CD dan RBT keroncong rasa hip-hop dan rock dalam ”Kroncong Protol” dari album Unity Bondan Prakoso dan Fede2Black produksi Sony-BMG (2007), yang merupakan sebuah karya langka dari pemusik angkatan Funky Kopral, grup musik di mana sebelumnya Bondan Prakoso pemetik gitar bas. Dan, kemudian segera muncul ”keroncong in latin beat” dalam irama cha-cha, rumba, salsa, mambo, dan bosanova.

Bagi sebagian komunitas musik keroncong, apa yang dilakukan Bondan dan melatinkan keroncong bisa jadi dianggap nakal.

Pencipta lagu keroncong asli keberatan dengan lagu-lagu keroncong disco reggae, seperti ”Dinda Bestari”, ”Telomoyo”, ”Dewi Murni”, ”Gambang Semarang”, ”Bandar Jakarta”, serta ”Jembatan Merah” yang dinyanyikan Rama Aiphama dan ”meledak” hingga 100.000 kaset awal tahun 1996.  Keroncong rock (congrock) ”Bengawan Solo” yang dibawakan grup musik Gen’s 21 tahun 2007 juga dianggap keluar dari pakem.

Padahal, Oslan Husein sudah membawakan ”Bengawan Solo” dengan musik rock ’n roll dan gaya menyanyi Elvis Presley tahun 1959, seperti yang dicatat Krishna Sen dan David T Hill dalam buku Media, Budaya, dan Politik di Indonesia (Victoria, Oxford University Press, 2000).

Kedua profesor dari Universitas Murdoch, Australia, itu menyebut keroncong sebagai musik pop Indonesia pada masa itu.

Apa yang dirintis oleh Djaduk melalui  Sinten Reman, menghadirkan dan memberikan napas baru dalam keroncong.

Hadir yang aktual dalam keusangan, segar dalam kesederhanaan. Ditambah Butet Kartaredjasa, jadilah keroncong funky plus gerr… gerr… gerr alias humor.  Kefunkyan keroncong pun menggejala, seperti kemudian munculnya group  Kornchonk Chaos.

Mereka bermusik dengan alat musik keroncong, tapi tidak memainkan lagu keroncong asli, hingga diberi nama ”kornchonk” ditambah ”chaos”, maksudnya keroncong yang tampil beda. Mereka hadir tahun 2001 karena melihat banyak anak muda yang lupa budaya sendiri. Anggotanya adalah mahasiswa Institut Kesenian Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Sebanyak 11 lagu karya mereka dikemas dalam sebuah album berjudul Ini Baru Musik Asick, yang memang asyik dan lirik grup keroncong indie ini juga mengundang gelak tawa pendengarnya.

Tahun 2004 hadir keroncong alternatif bernama Grup Sri Redjeki, tidak seperti keroncong umumnya, baik lirik maupun perlengkapan musik. Liriknya menggunakan kata-kata pelesetan yang humor hingga pelesetan porno.

Alat musiknya ada tamborin dan kendang, yang membuat mahasiswa anggota grup musik ini bisa berimprovisasi.

Taman Budaya Surakarta juga pernah menggelar musik eksperimen Calung Pring Sedhapur, grup keroncong calung (conglung), memadukan dua cabang musik yang menggunakan instrumen musik Barat akustik, ditambah instrumen dari bambu.

Dari Surabaya ada Congdut Irama Bama pimpinan Soelistiohadi yang sering muncul di layar TVRI Jawa Timur tahun 2003 hingga pertengahan tahun 2005.Suara khas keroncong Sundari Soekotjo diiringi musik ska dalam album Breaking The Roots.

Lagu ”Indonesia Raya” juga menarik dibawakan dengan iringan musik keroncong. Nyak Ina Raseuki yang dikenal luas sebagai Ubiet membentuk grup keroncong dengan anggota pemusik pop dan jazz.

Sementara Komunitas Penikmat Keroncong anggotanya banyak yang masih muda. Dan ada Repoeblik Kerontjong Indonesia di Bandung yang memperingati 10 tahun grup Keroncong Merah Putih. Kemudian Mbelgedez Band yang mengeroncongkan lagu daerah, langgam, blues, hingga dangdut.

Keroncong juga dapat menjadi simbol identitas dan kebanggaan akan nasionalisme sekaligus sebagai dipolomasi budaya Inilah setidaknya yang dilakukan oleh sekelompok WNI yang tinggal di Brisbane Astralia.

Mereka meneguhkan akar ke-Indoesiaan melalui kelompok keroncong: "Buaya Keroncong Brisbane ". 

Ada beberapa alasan Kelompok ini menjatuhkan pilihan pada keroncong. Pertama, keroncong identik dengan Indonesia.

Kedua, saat itu banyak muncul video di YouTube tentang musisi Malaysia yang membawakan lagu-lagu karya Ismail Marzuki, namun tidak pernah menyebut bahwa lagu itu berasal dari Indonesia.

Mereka prihatin, jangan sampai nanti dunia mengetahui  keroncong itu dari Malaysia Karena itu kelompok BKB mengusung slogan ’’A cultural diplomacy to save our keroncong (Diplomasi budaya untuk menyelamatkan keroncong kita)’’.

Nama Buaya Keroncong dipilih karena terinspirasi para maestro keroncong seperti Gesang dan Mus Mulyadi yang biasa disebut buaya keroncong Indonesia. Ada satu pertimbangan teknis yang juga menjadi alasan pemilihan keroncong.

Yakni, musik tersebut tidak menggunakan drum. Itu penting karena aktivitas bermusik mereka dilakukan di permukiman penduduk sehingga rawan diprotes jika berisik.Aktivitas BKB pun tersiar dari mulut ke mulut.

Setiap berlatih pada malam Minggu, makin banyak WNI yang datang untuk sekadar berkumpul dan menikmati syahdunya irama keroncong.

Sampai akhirnya pada akhir November tahun 2012, BKB diundang Kedutaan Besar Indonesia di Australia untuk menyambut duta besar RI yang baru, Nadjib Riphat Kesoema.

Begitulah,  tinggal di negeri orang sering membuat jiwa nasionalisme menyala lebih terang. Itulah yang juga mengilhami terbentuknya Buaya Keroncong Brisbane.

Keroncong dan Industri Kreatif

Terdapat berbagai istilah atau sebutan untuk mewadahi dan menyebut gejala-gejala “perkawinan atau persenyawaan” antara industri, seni dan budaya, teknologi, kreativitas dan modal intelektual, dan hak kekayaan intelektual.

Ada istilah industri budaya (cultural industries), industri kreatif (creative industries), industri hak cipta (copyright industries).

Horkeimer dan Ardono (1991) mencetuskan istilah atau sebutan industri budaya. Istilah atau istilah ini muncul paling awal dan dipakai oleh berbagai negara dan lembaga tertentu, misalnya Jerman, Komisi Eropa, Australia, dan Hongkong.

Kemudian muncul istilah atau istilah industri kreatif. Banyak pakar, pemerintah, dan lembaga tertentu menggunakan istilah atau sebutan industri kreatif di samping industri budaya.

Ada pihak yang menyamakan pengertian industri budaya, industri kreatif, dan industri hak cipta, tetapi banyak pula pihak yang membedakan pengertian industri budaya, industri kreatif, dan industri hak cipta.

Pihak yang membedakan ini memandang industri budaya sebagai bagian industri kreatif pada satu pihak dan pada pihak lain industri kreatif merupakan bagian industri hak cipta (simak UNCTAD, 2009:9-15) sehingga istilah industri hak cipta mencakup makna istilah industri kreatif dan industri budaya.

Dibandingkan dengan  istilah industri budaya dan industri hak cipta, istilah atau istilah industri kreatif paling popular dan paling luas dipakai sekarang. Para pakar dan pemerintah Indonesia juga menggunakan istilah atau sebutan industri kreatif.

ndustri kreatif merupakan industri yang bersumber dari kreativitas dan inovasi, modal kreatif atau intelektual, dan kemampuan manusia dalam mentransformasikan, merekayasa dan mendayagunakan seni dan budaya menjadi produk-produk kreatif baik barang kreatif maupun jasa kreatif yang dilindungi oleh hak kekayaan intelektual.

Industri kreatif tidak menggantikan, apalagi mematikan, aktivitas pertanian, industri manufaktur, industri informasi. Dengan kata lain, sektor pertanian, sektor industri manufaktur, dan sektor industri informasi tidak pudar dan punah dengan adanya industri kreatif.

Akan tetapi, memang, kedudukan dan peran industri kreatif semakin penting di tengah-tengah berlangsungnya deindustrialisasi manufaktur beberapa tahun belakangan (Basri, 2009; Rahardjo, 2009).

Hal ini tampak pada sumbangannya bagi pertumbuhan dan perkembangan ekonomi. UNCTAD (2009) melaporkan industri kreatif tumbuh dan berkembang paling dinamis di antara berbagai sektor perekonomian dunia terutama perdagangan dunia.

Sebagai contoh, di United Kingdom perkembangan industri kreatif memberi kontribusi 7,9 persen bagi pendapatan domestik bruto dan membuka pasar kerja 4,1 persen pada tahun 2002 (DCMS, 2008).

Pada tahun 2007, secara umum kontribusi industri kreatif sebesar 60 milyar poundsterling bagi perekonomian Inggris. Secara khusus, di Glasgow Inggris, semenjak tahun 2000 telah tercipta 153 ribu lapangan kerja industri kreatif dan pada tahun 2007 mampu berkontribusi sebesar Rp 62,5 triliun dalam pertumbuhan ekonomi (Tempo, September 2008).

Dalam pada itu, laporan UNCTAD (2009) tentang ekonomi kreatif menyodorkan fakta-fakta bahwa selama 2005-2005 perdagangan barang dan jasa kreatif meningkat 8,7 persen.

Nilai ekspor pada tahun 2005 saja mencapai 424,4 milyar dollar AS atau setara 3.200 triliun rupiah, padahal pada tahun 1996 baru 227,5 milyar dollar AS.

Akan halnya industri kreatif Indonesia telah menyumbangkan produk domestik bruto 6,3 persen pada tahun 2002—2006 (Tempo, September 2008; Kompas, 2008a).

Semua itu jelas menunjukkan betapa industri kreatif memiliki potensi besar dan dapat diandalkan untuk menjadi pilar ekonomi dunia termasuk ekonomi dan industri Indonesia.

Jika diurus secara sungguh-sungguh, pada masa akan datang niscaya berbagai bidang industri kreatif akan semakin besar peran dan kontribusinya bagi pertumbuhan dan perkembangan ekonomi dunia termasuk Indonesia.

Sektor industri kreatif Indonesia  telah dikembangkan oleh Kementerian Perdagangan Ridan dikelompokkan ke dalam 14 sektor kreatif.

Yaitu (sub)sektor periklanan, arsitektur, pasar barang seni, kerajinan atau kriya, desain, fesyen, video-filem-fotografi, permainan interaktif, musik, seni pertunjukan, penerbitan dan pencetakan, layanan atau jasa komputer dan piranti lunak, televisi dan radio, serta penelitian dan pengembangan.

Industri kreatif ini niscaya akan makin berkembang bilamana (di-/ber-)kembang-(kan) kewirausahaan kreatif yang mewirausahakan budaya dan kreativitas-inovasi insani.

Di sinilah budaya dan kreativitas-inovasi insani menjadi sangat fundamental dan sentral keberadaannya.

Dengan demikian seni musik keroncong dapat menjadi salah satu bahan industri kreatif yang penting, yang bilamana diolah secara kreatif dan inovatif sedemikian rupa dapat menjadi produk-produk usaha kreatif yang penting dalam kewirausahaan kreatif.

Untuk mengolah dan mendayagunakan seni musik keroncong sebagai produk usaha kreatif itulah perlu dikembangkan industri kreatif sekaligus kewirausahaan kreatif berbasis kebudayaan dan seni.

Pengembangan kewirausahaan kreatif berbasis budaya dan seni ini menjadi tantangan dan peluang baru para pekerja bahasa dan seni, ahli bahasa dan seni, dan seniman dan budayawan sekaligus tantangan dan peluang para wirausahawan Indonesia.

*) Penulis adalah sastrawan, pendidik dan Ketua Dewan Kesenian dan Kebudayaan Ngawi. Alumnus Program Doktoral UNS Surakarta. Tinggal di Ngawi.

Editor : Nur Wachid
#sejarah #keroncong #TJAHJONO WIDIJANTO #ngawi #Kusbini #radio Hosokanrikyoku #esai